Menurut kamus Oxford Advanced Learner’s patent is an official document giving the holder the sole right to make, use or sell an invention and preventing others from copying. Cukup jelas bahwa paten diartikan memberikan hak bagi pemegang paten untuk membuat, menggunakan atau menjual temuan dan melindunginya terhadap orang lain yang berniat mengkopi. Bila kita mempunyai suatu produk baik barang atau jasa yang murni adalah temuan kita maka mengacu penjelasan tersebut kita bisa mematenkan produk kita tersebut. Kadang-kadang ada keterlibatan royalty di sana yakni membayarkan sejumlah tertentu kepada pemegang paten karena kita menggunakan produknya.
Ketika marak motor china menyerbu pasar nasional menguak insinden dari kubu Honda yang menuntut produsen motor china karena telah meniru produk yang dipatenkan. Entah sampai dimana polemic tersebut karena tentunya cukup rumit penyelesaiannya dan apalagi terlibat adanya persaingan bisnis di sana. Sering dalam surat kabar tercantum pengumuman mengenai hak paten atas produk tertentu dan larangan meniru atau mengkopi produk tersebut. Bahkan logo-pun sering harus dipatenkan sehingga pihak lain tidak mudah begitu saja meniru logo tersebut.
Kita mestinya tersentak ketika sebuah harian media memberitakan bahwa angklung akan dipatenkan oleh Malaysia. Malaysia mengklaim bahwa di Johor-lah permaian angklung berawal. Padahal menurut tokoh angklung Indonesia yang pernah ke Johor tahun 80-an (?) tidak menemukan adanya angklung di sana. Disamping masyarakat Johor masa itu bahkan tidak mengenal permainan angklung. Nampaknya bahwa angklung sebenarnya adalah murni berasal dari Indonesia. Bahan pembuatan angklung adalah bamboo dan tidak semua Negara memiliki pohon ini. Sejauh ini juga kita tidak pernah mendengar ada Negara, kecuali Malaysia tadi, yang mempertontonkan permainan angklung ini. Pemerintah sebaiknya segera mengklarifikasi hal ini dan secepatnya mengajukan paten.
Barangkali ini nampaknya kali kesekian kita kecolongan. Tentunya kita masih ingat bahwa tempe sudah dipatenkan oleh Jepang, sementara kita juga memiliki produk ini. Trus batik kalau tidak salah juga sudah didahului oleh Malaysia dalam mematenkan produk. Lantas nantinya apa yang tersisa dari kita kalau semua item satu persatu diaku dan dipatenkan oleh Negara lain?
Teman kantor saya pernah diundang yahoo ke Jepang selama seminggu atas temuannya mendesain permainan dakon dalam games yahoo. Artinya permainan dakon sebenarnya adalah murni milik kita. Ada baiknya segera dipatenkan agar tidak terjadi pembajakan oleh pihak lain.
Bahwa sumber daya yang kita miliki begitu melimpah namun pengelolaanya masih amburadul. Kita diberikan tanah sampai seluas hampir 2 juta kilometer persegi sementara Singapura hanya punya 600 kilometer persegi. Belakangan Singapura sibuk membuat daratan baru atau reklamasi pantai yang konon menggunakan pasir yang digali dari pulau kita di sumatera.
Kita juga dilimpahi dengan hutan dan kayu luar biasa luasnya sementara pengusaha dan pemerintah hanya mampu menjual dalam bentuk gelondongan tanpa sedikitpun ada nilai tambahnya. Kita menangkap kesan bahwa berbagai sumber daya kita yang melimpah seolah dipakai “bancakan” oleh sekelompok orang entah itu pemegang hak atau pengusaha, termasuk belakangan marak insiden illegal logging.
Kita harus segera bangkit dan mengelola semua sumber daya yang kita miliki lebih optimal. Bila produk yang kita miliki memang genuine dan berpotensi kenapa tidak segera mempatenkan ke badan paten internasional. Kasus rebutan pulau sipidan ligitan yang akhirnya dimenangkan Malaysia membuktikan lemahnya kita adalam mengelola sumber daya. Haruskah angklung kembali berhasil dipatenkan Malysia, atau dakon dipatenkan Jepang?
Sekedar menyebut sumber daya berpotensi bisa kita sebut seperti wayang kulit, wayang golek, campur sari, berbagai makanan khas serta seabrek kekayaan asli Indonesia lainnya.
Read More ..
Friday, November 10, 2006
Thursday, November 09, 2006
Berapa
Berapa revenue global sebuah industri otomotif, sebut saja Toyota dalam setahun. Berhasil membuat sekitar 8 juta unit mobil dan bila dimudahkan harga per unitnya 100 juta maka setidaknya teraup sekitar 800 triliun per tahun. Revenue ini hampir setarakah dengan jumlah asset seluruh perbankan tanah air. Memang hanya perusahaan global yang mampu menghasilkan revenue sebesar ini. Perusahaan local wah nanti dulu, boro-boro triliunan.
Berapa revenue terbesar perusahaan kita. Katakanlah Telkomsel dengan sekitar 24 triliun, Astra dengan sekitar 13 triliun per tahun. Berapa pula revenue Pertamina atau BUMN lainnya. Adakah yang tembus 50 triliun barangkali, nampaknya belum kali yaa.
Berapa jumlah karyawan Toyota secara global? Di bawah 100 ribu orang nampaknya dan terlihatkah tingkat produktifitasnya yakni dengan membandingkan besarnya revenue tadi. Berapa pula jumlah karyawan seluruh perbankan nasional? 200 ribu atau lebihkah. Berapa juga revenue-nya. Produktifkah?
Berapa asset pribadi Bill Gates yang konon mencapai 45 milyar dollar atau sekitar 40 triliun. Atau asset Sultan Bolkiah dari Brunei yang bersaing ketat dengan Bill Gates. Koleksi mobil Bolkiah yang mencapai 2000 unit dan semuanya berharga mahal.
Menjadi pejabat di Indonesia belakangan marak diramaikan dengan pelaporan jumlah asset. Ada pejabat yang beraset mulai dari 600 juta rupiah, 2 milyar, 7 milyar sampai di atas 1 triliun.
Berapa biaya kampanye sepasang calon gubernur? 50 milyar rupiahkah?
Berapa gaji seorang CEO di Indonesia per bulan. Ada yang bergaji 50 juta rupiahkah atau 150 juta rupiahkah - per bulan. Berapa gaji pegawai negeri. Adakah yang masih di bawah 1 juta rupiah atau ada yang 4 juta rupiah.
Berapa jumlah penduduk kita, 250 juta orangkah. Trus berapa hutang kita, diatas 200 milyar dollar kah. Berapa APBN kita, 600-an triliun rupiahkah.
Berapa harga sebuah mobil formula satu, 120 milyar rupiahkah. Dan berapa harga sebuah motor GP? 25 milyarkah.
Berapa harga tiket penerbangan London ~ New York dengan pesawat Concord? 80 juta rupiahkah?
Berapa tuntutan Tata, mantan istri Tommy? Konon 200 milyar. Hmm berapa penghasilan buruh bangunan per hari? 25 ribukah. Berapa biaya masuk kuliah di UI? 4 juta rupiahkah.
Berapa jumlah penduduk dunia? 6 milyarkah. Berapa umur bumi ini? Ribuan atau jutaan tahunkah.
Berapa tahun lagi akhirnya kiamat akan datang? 160 tahun lagikah? Read More ..
Berapa revenue terbesar perusahaan kita. Katakanlah Telkomsel dengan sekitar 24 triliun, Astra dengan sekitar 13 triliun per tahun. Berapa pula revenue Pertamina atau BUMN lainnya. Adakah yang tembus 50 triliun barangkali, nampaknya belum kali yaa.
Berapa jumlah karyawan Toyota secara global? Di bawah 100 ribu orang nampaknya dan terlihatkah tingkat produktifitasnya yakni dengan membandingkan besarnya revenue tadi. Berapa pula jumlah karyawan seluruh perbankan nasional? 200 ribu atau lebihkah. Berapa juga revenue-nya. Produktifkah?
Berapa asset pribadi Bill Gates yang konon mencapai 45 milyar dollar atau sekitar 40 triliun. Atau asset Sultan Bolkiah dari Brunei yang bersaing ketat dengan Bill Gates. Koleksi mobil Bolkiah yang mencapai 2000 unit dan semuanya berharga mahal.
Menjadi pejabat di Indonesia belakangan marak diramaikan dengan pelaporan jumlah asset. Ada pejabat yang beraset mulai dari 600 juta rupiah, 2 milyar, 7 milyar sampai di atas 1 triliun.
Berapa biaya kampanye sepasang calon gubernur? 50 milyar rupiahkah?
Berapa gaji seorang CEO di Indonesia per bulan. Ada yang bergaji 50 juta rupiahkah atau 150 juta rupiahkah - per bulan. Berapa gaji pegawai negeri. Adakah yang masih di bawah 1 juta rupiah atau ada yang 4 juta rupiah.
Berapa jumlah penduduk kita, 250 juta orangkah. Trus berapa hutang kita, diatas 200 milyar dollar kah. Berapa APBN kita, 600-an triliun rupiahkah.
Berapa harga sebuah mobil formula satu, 120 milyar rupiahkah. Dan berapa harga sebuah motor GP? 25 milyarkah.
Berapa harga tiket penerbangan London ~ New York dengan pesawat Concord? 80 juta rupiahkah?
Berapa tuntutan Tata, mantan istri Tommy? Konon 200 milyar. Hmm berapa penghasilan buruh bangunan per hari? 25 ribukah. Berapa biaya masuk kuliah di UI? 4 juta rupiahkah.
Berapa jumlah penduduk dunia? 6 milyarkah. Berapa umur bumi ini? Ribuan atau jutaan tahunkah.
Berapa tahun lagi akhirnya kiamat akan datang? 160 tahun lagikah? Read More ..
Musik Tanah Air
Baiklah, tiada salahnya dicoba mengulas seputar musik tanah air. Entah siapa yang terbesar antara Rhoma Irama, Ebiet G Ade, Sundari Sukoco, Titik Puspa, Indra Lesmana, Waljinah atau Didi Kempot. Tentunya masih terdapat puluhan lain tokoh dalam musik kita yang bisa ditambahkan dalam deret tadi, namun setidaknya beberapa nama tadi pantas disebutkan. Pun pembandingan ini bakal tidak apple to apple mengingat ragam musik yang ada. Mulai dari dangdut, keroncong, pop, jazz, gendhing jawa bahkan campur sari.
Tidak berlebihan bila bung Rhoma merupakan legenda hidup musik dangdut kita. Lagu ciptaannya bisa jadi mencapai puluhan atau ratusan buah dan menggema di berbagai tempat tanah air. Bahkan konon sampai ke Malaysia. Sampai hari inipun bung Rhoma masih sering tampil di televisi mendendangkan lagu-lagunya. Warna musik dangdut bung Rhoma adalah khas, karakternya kuat dan tidak mudah pemusik lain menirunya. Hal ini wajar mengingat grup dangdutnya digawangi sekian banyak pemusik mulai dari suling, ketipung, beberapa guitar, ecrek, terompet dan belakangan ditambah drum dan perkusi. Kita bisa sepakat bahwa warna musik dangdut Rhoma pantas menjadi sebuah kiblat musik.
Siapa pula tidak kenal bung Ebiet yang jernih melantunkan lagu-lagu bernuansa pop nan bening. Bung Ebiet kental mencantumkan syair dan lyric indah dalam lagu-lagunya. Penonjolan karakter vocal bung Ebiet begitu kental meski dentingan guitar, piano, bas dan drum sayup-sayup mengiringi. Lagu-lagu pop ala Ebiet begitu nikmat dinikmati sembari duduk santai dan minum the hangat. Karakter dan warna musik Ebiet begitu tangguh tak tergoyahkan. Kembali kita mendapatkan satu prototip kiblat musik local. Bung Ebiet pantas dimasukkan legenda musik kita.
Mba Sundari Sukoco atau akrab disebut mba Untie, tidak kalah juga mewarnai ragam musik local. Dengan alunan suara merdu nan lembut melantunkan lagu-lagu keroncong dan menghanyutkan kita pada nuansa damai nan teduh. Sudah berapa banyak album dikeluarkan dan berapa puluh lagu keroncong dilantunkan tentunya bukan hal penting manakala sosok mba Untie identik dengan lagu keroncong. Konon mba Unti beberapa kali diundang ke Istana Presiden guna melantunkan lagu-lagu keroncong. Meski relative muda mba Untie pantas disebut sebagai legenda musik local. Pemuatan profil mba Untie pada situs www.tokohindonesia.com makin mengukuhkan bagaimana bobot beliau dalam musik local. Saya beruntung pernah menjadi sahabat beliau ketika bersama-sama menempuh pendidikan pasca sarjana.
Titik Puspa, hmm siapa pula yang tidak mengenal nama besar beliau yang pada usianya yang sudah cukup umur masih begitu energik dan cantik. Bicara hingar bingar dunia panggung musik local tentunya tidak bisa lepas dari keberadaan beliau. Begitu spontan, begitu lincah, begitu riang adalah gayanya di setiap penampilannya. Saya kebetulan sempat melihat di televisi ketika beliau berada dalam rumahnya yang begitu besar serta menekuni bisnis catering. Hmm pemusik sekaligus pebisnis adalah kombinasi indah yang berhasil dirajut beliau. Artis serba bisa ini juga tentunya sangat pantas menjadi acuan dan legenda musik kita. Kita masih kagum dan terus mendukung kerja keras beliau menegakkan dunia musik tanah air.
Bung Indra Lesmana, sosok anda yang kalem, ganteng dan low profile menjadi kekaguman banyak kawula muda. Musik jazz yang bisa dimasukkan kelompok musik modern adalah keahlian dari bung Indra. Beliau pernah aktif terlibat dalam beberepa band jazz tanah air. Tidak berlebihan bila Indra Lesmana adalah salah satu pelopor musik jazz tanah air. Kiprahnya didunia jazz baik local maupun mancanegara makin mengukuhkan sosoknya sebagai profil pemusik jazz handal. Beliau juga tidak berlebihan dimasukkan daftar legenda musik tanah air. Kita masih menunggu karya karya hebatmu bung Indra.
Waljinah dan Didi Kempot mewakili dari kubu musik daerah utamanya musik jawa. Waljinah kesohor sebagai pesinden lagu jawa. Beliau terlibat dalam banyak pementasan wayang kulit sebagai pesinden maupun pelantun lagu-lagu jawa di banyak kaset. Sampai sekarang pun beliau masih konsisten di jalur sinden dan aktif tampil baik off air maupun on air. Kang Didi Kempot masyur dengan musik yang disebut sebagai campur sari. Yakni kombinasi antara musik modern dan tembang jawa. Hasilnya adalah lagu-lagu yang enak didengar dan disukai berbagai kalangan terutama di ranah jawa. Praktis bicara musik campur sari adalah tidak bisa lepas dari nama besar kang Didi Kempot ini. Tidak hanya ajang local yang beliau rambah, ajang mancanegarapun juga dimeriahkan dengan musik campur sari. Konon kang Didi sempat diundang ke Suriname dalam rangka unjuk kebolehan musik campur sari. Hit-nya sewu kutho sempat diangkat menjadi sinetron di televise. Kang Didi-pun tidak berlebihan kiranya masuk dalam daftar legenda musik tanah air. Read More ..
Tidak berlebihan bila bung Rhoma merupakan legenda hidup musik dangdut kita. Lagu ciptaannya bisa jadi mencapai puluhan atau ratusan buah dan menggema di berbagai tempat tanah air. Bahkan konon sampai ke Malaysia. Sampai hari inipun bung Rhoma masih sering tampil di televisi mendendangkan lagu-lagunya. Warna musik dangdut bung Rhoma adalah khas, karakternya kuat dan tidak mudah pemusik lain menirunya. Hal ini wajar mengingat grup dangdutnya digawangi sekian banyak pemusik mulai dari suling, ketipung, beberapa guitar, ecrek, terompet dan belakangan ditambah drum dan perkusi. Kita bisa sepakat bahwa warna musik dangdut Rhoma pantas menjadi sebuah kiblat musik.
Siapa pula tidak kenal bung Ebiet yang jernih melantunkan lagu-lagu bernuansa pop nan bening. Bung Ebiet kental mencantumkan syair dan lyric indah dalam lagu-lagunya. Penonjolan karakter vocal bung Ebiet begitu kental meski dentingan guitar, piano, bas dan drum sayup-sayup mengiringi. Lagu-lagu pop ala Ebiet begitu nikmat dinikmati sembari duduk santai dan minum the hangat. Karakter dan warna musik Ebiet begitu tangguh tak tergoyahkan. Kembali kita mendapatkan satu prototip kiblat musik local. Bung Ebiet pantas dimasukkan legenda musik kita.
Mba Sundari Sukoco atau akrab disebut mba Untie, tidak kalah juga mewarnai ragam musik local. Dengan alunan suara merdu nan lembut melantunkan lagu-lagu keroncong dan menghanyutkan kita pada nuansa damai nan teduh. Sudah berapa banyak album dikeluarkan dan berapa puluh lagu keroncong dilantunkan tentunya bukan hal penting manakala sosok mba Untie identik dengan lagu keroncong. Konon mba Unti beberapa kali diundang ke Istana Presiden guna melantunkan lagu-lagu keroncong. Meski relative muda mba Untie pantas disebut sebagai legenda musik local. Pemuatan profil mba Untie pada situs www.tokohindonesia.com makin mengukuhkan bagaimana bobot beliau dalam musik local. Saya beruntung pernah menjadi sahabat beliau ketika bersama-sama menempuh pendidikan pasca sarjana.
Titik Puspa, hmm siapa pula yang tidak mengenal nama besar beliau yang pada usianya yang sudah cukup umur masih begitu energik dan cantik. Bicara hingar bingar dunia panggung musik local tentunya tidak bisa lepas dari keberadaan beliau. Begitu spontan, begitu lincah, begitu riang adalah gayanya di setiap penampilannya. Saya kebetulan sempat melihat di televisi ketika beliau berada dalam rumahnya yang begitu besar serta menekuni bisnis catering. Hmm pemusik sekaligus pebisnis adalah kombinasi indah yang berhasil dirajut beliau. Artis serba bisa ini juga tentunya sangat pantas menjadi acuan dan legenda musik kita. Kita masih kagum dan terus mendukung kerja keras beliau menegakkan dunia musik tanah air.
Bung Indra Lesmana, sosok anda yang kalem, ganteng dan low profile menjadi kekaguman banyak kawula muda. Musik jazz yang bisa dimasukkan kelompok musik modern adalah keahlian dari bung Indra. Beliau pernah aktif terlibat dalam beberepa band jazz tanah air. Tidak berlebihan bila Indra Lesmana adalah salah satu pelopor musik jazz tanah air. Kiprahnya didunia jazz baik local maupun mancanegara makin mengukuhkan sosoknya sebagai profil pemusik jazz handal. Beliau juga tidak berlebihan dimasukkan daftar legenda musik tanah air. Kita masih menunggu karya karya hebatmu bung Indra.
Waljinah dan Didi Kempot mewakili dari kubu musik daerah utamanya musik jawa. Waljinah kesohor sebagai pesinden lagu jawa. Beliau terlibat dalam banyak pementasan wayang kulit sebagai pesinden maupun pelantun lagu-lagu jawa di banyak kaset. Sampai sekarang pun beliau masih konsisten di jalur sinden dan aktif tampil baik off air maupun on air. Kang Didi Kempot masyur dengan musik yang disebut sebagai campur sari. Yakni kombinasi antara musik modern dan tembang jawa. Hasilnya adalah lagu-lagu yang enak didengar dan disukai berbagai kalangan terutama di ranah jawa. Praktis bicara musik campur sari adalah tidak bisa lepas dari nama besar kang Didi Kempot ini. Tidak hanya ajang local yang beliau rambah, ajang mancanegarapun juga dimeriahkan dengan musik campur sari. Konon kang Didi sempat diundang ke Suriname dalam rangka unjuk kebolehan musik campur sari. Hit-nya sewu kutho sempat diangkat menjadi sinetron di televise. Kang Didi-pun tidak berlebihan kiranya masuk dalam daftar legenda musik tanah air. Read More ..
Tuesday, November 07, 2006
Sabtu, 28 Oktober
Sabtu kemarin kami bertiga berkendara menuju suatu tempat di kerawang timur. Jaraknya sekitar 50-an km dari Jakarta. Dan kita tidak membawa driver sehingga cukup gantian mengemudikan kendaraan. Sebelum tiba di lokasi jam menunjukkan waktu 12.00 WIB dan perut mulai keroncongan rupanya. Berhenti di sebuah restoran padang di pinggir kali dan dekat dengan percetakan Peruri kerawang. Hmm perut lapar berasa lahap menikmati nasi hangat, sambal dan lauk. Yach meskipun lauknya sudah agak dingin, cincaylah, bismillah yang penting kenyang dan sehat.
Hawa begitu terik nan panas, sehingga AC dari mobil baru milik kantor inipun tidaklah berasa begitu sejuk saking serangan panas mentari. Bertiga kami menuju pos keamanan dari perumahan dimana antenna kita berlokasi. Agenda kita adalah memeriksa atas terjadinya pencurian kabel di lokasi antenna milik perusahaan. Bersama beberapa petugas satpam kita diskusi dan membahas kejadian pencurian tersebut. Antena setinggi 45 meter kita yang berdiri pada lahan seluas 300-an meter persegi dikelilingi pagar brc tinggi serta kawat berduri pada ujung pagar ternyata bobol juga oleh ulah sang oknum nakal.
Kita patut menyayangkan kejadian ini dimana umumnya antenna yang jumlahnya mencapai ratusan titik kondisinya aman nan kondusif. Bersama teman dari teknisi kita melakukan investigasi layaknya detektif Hercules poirot. Kita mendapatkan kenyataan bahwa setidaknya ada delapan lempeng tembaga grounding dan sekitar dua puluh meter kabel grounding telah diambil paksa. Rupanya segerombolan orang iseng tersebut menggergaji pagar brc untuk dapat masuk ke area. Dari jejak yang ditinggalkan nampaknya pencurian bukanlah aksi spontanitas namun lebih tindakan yang direncanakan. Terlihat dari pemotongan kabel dan penggergajian besi yang cukup rapi. Juga pencoleng nampaknya memahami listrik dengan baik manakala dua jalur kabel listrik tegangan tinggi dan kabel grounding dapat mereka ketahui dan hanya grounding yang dipotong. Bayangkan mereka salah memotong kabel listrik, dipastikan hanguslah tangan dan tubuh mereka.
Tidak banyak kerugian yang ditimbulkan. Tidak sampai tiga juta rupiah dengan meng-estimasi harga barang yang diambil. Yang disayangkan adalah fungsi dari item tersebut yang vital sebagai kabel penangkal petir, di saat menjelang musim hujan serta daerah kerawang yang terkenal banyak petirnya. Mengapa pencurian menjadi hal yang cukup menyita perhatian kita. Dari lokasi dilanjutkan diskusi dengan kemanan setempat di pos akhirnya diteruskan menuju kepolisian setempat guna pelaporan.
Praktis sabtu itu dilanjutkan senin berikutnya waktu kita habis di kepolisian guna pelaporan dan pembuatan berita acara kehilangan. Konon pelakunya sudan teridentifikasi baik oleh satuan keamanan setempat maupun oleh kepolisian sector. Berikutnya hari-hari ini kita tinggal menunggu upaya penangkapan oleh kepolisian.
Ada sesuatu yang mengusik benak kita. Konon pencurian dilakukan oleh sekitar empat orang dan menilik dari barang yang berhasil diambil, meskipun harga ditaksir sekian juta, namun di pasar loak saya yakin tidak bakal laku lebih dari empat ratus ribuan. Praktis, bila gerombolan tersebut berhasil menjual, maka hanya mengantongi seratus ribu perak per orang. Dus, kesempatan tersebut justru sirna ketika pencurian berhasil digagalkan satuan satpam dan penangkapan serta masuk bui hanya menunggu waktu saja bagi mereka. Terakhir kita dengar bahwa sang buron sempat menghilang, namun semua data dan kartunya sudah ditangan polisi, jadi hanya soal waktu saja giliran mereka dipersilakan masuk hotel rodeo.
Kita terusik bahwa terlampau banyak sekarang ini orang-orang yang menganggur dan membutuhkan nafkah guna menghidupi keluarga. Dari obrolan diketahui bahwa memang banyak penganggur di kampong sekitar antenna berada. Yang cukup memprihatinkan adalah manakala pencuri mengambil barang demi menafkahi keluarga yang lapar. Meskipun norma kita jelas tidak mentolerir jalan dan cara mencuri meskipun perut anak dan istri lapar. Hanya apakah bedanya mereka dengan koruptor nan kaya nan terhormat. Uang yang dicuri koruptor jutsru sekian juta kali lipat lebih banyak ketimbang pencuri kabel tadi. Bedanya koruptor tetap hidup terhormat, kaya dan makmur sementara pencuri tadi bersiap menghuni terali besi. Alangkah makin laparnya perut anak istrinya manakala sang pencari nafkah harus dikurung. Hmm saya hanya bisa menghela napas panjang. And justice for all,,,, Read More ..
Hawa begitu terik nan panas, sehingga AC dari mobil baru milik kantor inipun tidaklah berasa begitu sejuk saking serangan panas mentari. Bertiga kami menuju pos keamanan dari perumahan dimana antenna kita berlokasi. Agenda kita adalah memeriksa atas terjadinya pencurian kabel di lokasi antenna milik perusahaan. Bersama beberapa petugas satpam kita diskusi dan membahas kejadian pencurian tersebut. Antena setinggi 45 meter kita yang berdiri pada lahan seluas 300-an meter persegi dikelilingi pagar brc tinggi serta kawat berduri pada ujung pagar ternyata bobol juga oleh ulah sang oknum nakal.
Kita patut menyayangkan kejadian ini dimana umumnya antenna yang jumlahnya mencapai ratusan titik kondisinya aman nan kondusif. Bersama teman dari teknisi kita melakukan investigasi layaknya detektif Hercules poirot. Kita mendapatkan kenyataan bahwa setidaknya ada delapan lempeng tembaga grounding dan sekitar dua puluh meter kabel grounding telah diambil paksa. Rupanya segerombolan orang iseng tersebut menggergaji pagar brc untuk dapat masuk ke area. Dari jejak yang ditinggalkan nampaknya pencurian bukanlah aksi spontanitas namun lebih tindakan yang direncanakan. Terlihat dari pemotongan kabel dan penggergajian besi yang cukup rapi. Juga pencoleng nampaknya memahami listrik dengan baik manakala dua jalur kabel listrik tegangan tinggi dan kabel grounding dapat mereka ketahui dan hanya grounding yang dipotong. Bayangkan mereka salah memotong kabel listrik, dipastikan hanguslah tangan dan tubuh mereka.
Tidak banyak kerugian yang ditimbulkan. Tidak sampai tiga juta rupiah dengan meng-estimasi harga barang yang diambil. Yang disayangkan adalah fungsi dari item tersebut yang vital sebagai kabel penangkal petir, di saat menjelang musim hujan serta daerah kerawang yang terkenal banyak petirnya. Mengapa pencurian menjadi hal yang cukup menyita perhatian kita. Dari lokasi dilanjutkan diskusi dengan kemanan setempat di pos akhirnya diteruskan menuju kepolisian setempat guna pelaporan.
Praktis sabtu itu dilanjutkan senin berikutnya waktu kita habis di kepolisian guna pelaporan dan pembuatan berita acara kehilangan. Konon pelakunya sudan teridentifikasi baik oleh satuan keamanan setempat maupun oleh kepolisian sector. Berikutnya hari-hari ini kita tinggal menunggu upaya penangkapan oleh kepolisian.
Ada sesuatu yang mengusik benak kita. Konon pencurian dilakukan oleh sekitar empat orang dan menilik dari barang yang berhasil diambil, meskipun harga ditaksir sekian juta, namun di pasar loak saya yakin tidak bakal laku lebih dari empat ratus ribuan. Praktis, bila gerombolan tersebut berhasil menjual, maka hanya mengantongi seratus ribu perak per orang. Dus, kesempatan tersebut justru sirna ketika pencurian berhasil digagalkan satuan satpam dan penangkapan serta masuk bui hanya menunggu waktu saja bagi mereka. Terakhir kita dengar bahwa sang buron sempat menghilang, namun semua data dan kartunya sudah ditangan polisi, jadi hanya soal waktu saja giliran mereka dipersilakan masuk hotel rodeo.
Kita terusik bahwa terlampau banyak sekarang ini orang-orang yang menganggur dan membutuhkan nafkah guna menghidupi keluarga. Dari obrolan diketahui bahwa memang banyak penganggur di kampong sekitar antenna berada. Yang cukup memprihatinkan adalah manakala pencuri mengambil barang demi menafkahi keluarga yang lapar. Meskipun norma kita jelas tidak mentolerir jalan dan cara mencuri meskipun perut anak dan istri lapar. Hanya apakah bedanya mereka dengan koruptor nan kaya nan terhormat. Uang yang dicuri koruptor jutsru sekian juta kali lipat lebih banyak ketimbang pencuri kabel tadi. Bedanya koruptor tetap hidup terhormat, kaya dan makmur sementara pencuri tadi bersiap menghuni terali besi. Alangkah makin laparnya perut anak istrinya manakala sang pencari nafkah harus dikurung. Hmm saya hanya bisa menghela napas panjang. And justice for all,,,, Read More ..
Friday, November 03, 2006
And just a story,,,
What we are having now sometimes still not we accept. As human being we are always not enough of everything given. When you still able to sleep well at your convenience mattress or when you may choose any food you want are indicating you are quite rich. Often what we already had likely home, cars, land, savings, bond, stocks or everything seems not satisfy us. Until you compare or realize that there is even more other person do not have even just their own home. They even still rent the home and always in shortage of money to buy just food.
So some religions always teach us that please accept and thank anything given to you before everything gone from you. If you still have food for today you are such lucky person in the world since there are many others being in hungry.
A friend of mine recently came to my place for the thing. He is 54 years old and has two sons that study in high school and university. His job first was smooth and he got good payment. He is already twelve years on his job. His company first had many employments and running well. This is operating for years until recently business getting tight and complicated. To get just little order is such hard thing to reach. Company surely runs down and its finance getting worse. Some effort already done and seem not show well return.
At last with the rest of energy the company start fire one by one employment. From almost a hundred people now left only six people. Asset of company sell gradually to back up operation cost. Practically there is no job and no any revenue as well. It is such a hard situation they are facing this moment.
What they are trying to do now absolutely difficult and seem no way out available. From our conversation I understand that company with only six guy now trying all out to survive. They are doing some breakthrough and hope a little revenue. Until yesterday the effort seem not getting things.
My friend who is being old with burden of his family describes completely sadness story. He just surrenders to the nature and just prays for his life. So considering this story that is why we are always to have good feeling of whatever we are given. Because whatever happen tomorrow is always our beyond. Read More ..
So some religions always teach us that please accept and thank anything given to you before everything gone from you. If you still have food for today you are such lucky person in the world since there are many others being in hungry.
A friend of mine recently came to my place for the thing. He is 54 years old and has two sons that study in high school and university. His job first was smooth and he got good payment. He is already twelve years on his job. His company first had many employments and running well. This is operating for years until recently business getting tight and complicated. To get just little order is such hard thing to reach. Company surely runs down and its finance getting worse. Some effort already done and seem not show well return.
At last with the rest of energy the company start fire one by one employment. From almost a hundred people now left only six people. Asset of company sell gradually to back up operation cost. Practically there is no job and no any revenue as well. It is such a hard situation they are facing this moment.
What they are trying to do now absolutely difficult and seem no way out available. From our conversation I understand that company with only six guy now trying all out to survive. They are doing some breakthrough and hope a little revenue. Until yesterday the effort seem not getting things.
My friend who is being old with burden of his family describes completely sadness story. He just surrenders to the nature and just prays for his life. So considering this story that is why we are always to have good feeling of whatever we are given. Because whatever happen tomorrow is always our beyond. Read More ..
Thursday, November 02, 2006
Masih Seputar Mudik
Membahas mudik memang tidak ada habisnya. Ritual ini selalu berulang dari tahun ke tahun. Kira-kira tepatnya fenomena mudik mulai dari tahun berapa yaa, nampaknya agak sulit menjawabnya. Saya sendiri sejak empat belas tahun silam selalu mudik ke kampong halaman. Pengalaman mudik-pun beragam mulai dari jarak tempuh normal 10 jam antara Jakarta ~ solo, sampai pernah mengalami 26 jam saking macetnya. Waktu mudikpun pernah merasakan muai dari seminggu sebelum lebaran , malam lebaran itu sendiri maupun habis lebaran. Suka duka mudikpun pernah kita alami mulai dari makan berbuka di pinggir danau ambarawa, sampai ban pecah di sekitar Tegal. Hanya tahun ini kita absent mudik karena berbarengan dengan suatu urusan yang cukup penting.
Meskipun tidak mudik, namun kerabat, teman, relasi, semuanya mudik dan senang berbagi cerita serunya mudik. Ada yang sampai menempuh 27 jam untuk jarak solo ~ Jakarta sampai terjebak macet di boyolali berjam-jam. Yang cukup mengangetkan adalah banyaknya pemudik roda dua atau sepeda motor. Alat transportasi roda dua itu memenuhi jalan sampai memenuhi jalur kendaraan lainnya. Praktis terjadi kemacetan dan kesemrawutan di berbagai ruas jalan karena banyaknya kendaraan roda dua ini. Kono kenaikan jumlah pemudik yang menggunakan roda dua meningkat sekitar 300% ! dari tahun kemarin.
Sebagaimana pernah diulas diblogs ini bahwa fenomena mudik membawa sekian dampak, juga beberapa kali termuat di artikel harian ibukota mengenai ritual mudik ini beserta ekses dan dampak negative positifnya. Terlepas dari semakin meningkatnya angka kecelakaan dan korban jiwa bahwa mudik memang membawa ekses dan pengaruh bagi warga pemudik maupun warga di kampong tujuan mudik itu sendiri. Secara umum pemudik mayoritas terjadi di pulau jawa yakni dari Jakarta menuju kota-kota di jawa barat, tengah maupun timur. Konon lagi jumlah pemudik mencapai jutaan orang. Andaikan satu orang membawa pulang uang satu juta dengan jumlah pemudik katakan lima juta maka terdapat uang lima triliun yang berpindah dan tersebar dari Jakarta ke tempat lainnya. Tentunya jumlah ini tidaklah sedikit dan apalagi ritual mudik hanya berkisar satu atau dua minggu.
Mudik ibarat bersilaturohmi dan menjaga hubungan kekeluargaan agar tidak terputus. Bayangkan bila perantau sama sekali tidak mudik maka dipastikan perlahan hubungan keluarga dengan orang tua dan handai taulan di kampong bakal terputus.
Sarana mudik utama yakni media transportasi serta termasuk infrastruktur jalan sangatlah berpengaruh bagi kelancaran mudik. Kiranya tahun demi tahun sudahkah tercapai kenyamanan pemudik, nampaknya merupakan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Dimulai dari kondisi jalan yang usai diperbaiki tidak lama rusak lagi karena kelebihan beban kendaraan berat. Praktis agenda yang tidak kalah seru-nya menjelang mudik adalah kegiatan atau project perbaikan jalan tersebut. Tentunya ada juga masalah turunannya selain kondisi jalan, yakni jembatan, pasar tumpah di pinggir jalan maupun kondisi sekitar jalan tersebut.
Pernah kita singgung di artikel blogs ini juga bahwa berapa panjang jalan tol yang berhasil dibuat pemerintah selama puluhan tahun yang ternyata baru berkisar ratusan kilometer belaka. Padahal untuk pulau jawa sendiri yang terdapat baik jalur utara/pantura, jalur tengah maupun jalur selatan tentunya memiliki total panjang jalan ribuan kilometer. Praktis baru sebagian kecil saja jalan yang berhasil dibangun menjadi tol.
Sarana transportasi yang nyaman dan terjangkau harganya oleh pemudik juga merupakan pekerjaan rumah lainnya. Saat ini tidak banyak sarana transportasi yang memberikan pilihan kenyamanan. Kereta api umumnya begitu terbatas kapasitasnya dan untuk berhasil mendapat satu kursi ibarat mendapat kejatuhan durian runtuh sekedar menggambarkan susahnya pesan tiket kereta api. Angkutan darat lain macam bus selalu penuh dan harga tiketnya membubung tinggi setiap waktu mudik tiba. Mode angkutan udara belakangan cukup meluas dan tiketnya berlomba diturunkan, namun tetap terhadang kondisi kapasitas, letak bandara yang jauh dan rawan macet, kondisi bandara yang semakin kurang nyaman dan berbagai kesulitan terkait lainnya. Kenapa hal ini menjadi logis bila pengguna mudik berkendara roda dua mengalami lonjakan tiga kali lipat. Bagaimanpun mudik tetap jalan terus. Read More ..
Meskipun tidak mudik, namun kerabat, teman, relasi, semuanya mudik dan senang berbagi cerita serunya mudik. Ada yang sampai menempuh 27 jam untuk jarak solo ~ Jakarta sampai terjebak macet di boyolali berjam-jam. Yang cukup mengangetkan adalah banyaknya pemudik roda dua atau sepeda motor. Alat transportasi roda dua itu memenuhi jalan sampai memenuhi jalur kendaraan lainnya. Praktis terjadi kemacetan dan kesemrawutan di berbagai ruas jalan karena banyaknya kendaraan roda dua ini. Kono kenaikan jumlah pemudik yang menggunakan roda dua meningkat sekitar 300% ! dari tahun kemarin.
Sebagaimana pernah diulas diblogs ini bahwa fenomena mudik membawa sekian dampak, juga beberapa kali termuat di artikel harian ibukota mengenai ritual mudik ini beserta ekses dan dampak negative positifnya. Terlepas dari semakin meningkatnya angka kecelakaan dan korban jiwa bahwa mudik memang membawa ekses dan pengaruh bagi warga pemudik maupun warga di kampong tujuan mudik itu sendiri. Secara umum pemudik mayoritas terjadi di pulau jawa yakni dari Jakarta menuju kota-kota di jawa barat, tengah maupun timur. Konon lagi jumlah pemudik mencapai jutaan orang. Andaikan satu orang membawa pulang uang satu juta dengan jumlah pemudik katakan lima juta maka terdapat uang lima triliun yang berpindah dan tersebar dari Jakarta ke tempat lainnya. Tentunya jumlah ini tidaklah sedikit dan apalagi ritual mudik hanya berkisar satu atau dua minggu.
Mudik ibarat bersilaturohmi dan menjaga hubungan kekeluargaan agar tidak terputus. Bayangkan bila perantau sama sekali tidak mudik maka dipastikan perlahan hubungan keluarga dengan orang tua dan handai taulan di kampong bakal terputus.
Sarana mudik utama yakni media transportasi serta termasuk infrastruktur jalan sangatlah berpengaruh bagi kelancaran mudik. Kiranya tahun demi tahun sudahkah tercapai kenyamanan pemudik, nampaknya merupakan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Dimulai dari kondisi jalan yang usai diperbaiki tidak lama rusak lagi karena kelebihan beban kendaraan berat. Praktis agenda yang tidak kalah seru-nya menjelang mudik adalah kegiatan atau project perbaikan jalan tersebut. Tentunya ada juga masalah turunannya selain kondisi jalan, yakni jembatan, pasar tumpah di pinggir jalan maupun kondisi sekitar jalan tersebut.
Pernah kita singgung di artikel blogs ini juga bahwa berapa panjang jalan tol yang berhasil dibuat pemerintah selama puluhan tahun yang ternyata baru berkisar ratusan kilometer belaka. Padahal untuk pulau jawa sendiri yang terdapat baik jalur utara/pantura, jalur tengah maupun jalur selatan tentunya memiliki total panjang jalan ribuan kilometer. Praktis baru sebagian kecil saja jalan yang berhasil dibangun menjadi tol.
Sarana transportasi yang nyaman dan terjangkau harganya oleh pemudik juga merupakan pekerjaan rumah lainnya. Saat ini tidak banyak sarana transportasi yang memberikan pilihan kenyamanan. Kereta api umumnya begitu terbatas kapasitasnya dan untuk berhasil mendapat satu kursi ibarat mendapat kejatuhan durian runtuh sekedar menggambarkan susahnya pesan tiket kereta api. Angkutan darat lain macam bus selalu penuh dan harga tiketnya membubung tinggi setiap waktu mudik tiba. Mode angkutan udara belakangan cukup meluas dan tiketnya berlomba diturunkan, namun tetap terhadang kondisi kapasitas, letak bandara yang jauh dan rawan macet, kondisi bandara yang semakin kurang nyaman dan berbagai kesulitan terkait lainnya. Kenapa hal ini menjadi logis bila pengguna mudik berkendara roda dua mengalami lonjakan tiga kali lipat. Bagaimanpun mudik tetap jalan terus. Read More ..
Monday, October 16, 2006
Mudik
Ada apa dengan mudik yaa. Setiap tahun menjelang berakhirnya bulan puasa maka bakal diramaikan dengan persiapan mudik. Berbagai atribut mudik bakal makin terlihat seiring makin dekatnya ujung dari bulan romadhon ini. Berbagai Mall, pasar tradisional dan pusat perbelanjaan lain bakal dipenuhi orang atau keluarga yang berbelanja kebutuhan lebaran atau kebutuhan mudik tersebut. Konon Jakarta adalah kota dimana beragam orang daerah di Indonesia berkumpul. Behubung pusat dan sentra ekonomi ada di Jakarta maka makin banyaklah kaum urban mengadu untung dan mencari pekerjaan. Jadilah Jakarta menjadi kota multi etnis atau multi penduduk yang dihuni oleh mayoritas kaum pendatang. Penduduk asli Jakarta yang akrab disebut betawi-pun bahkan mulai tenggelam diantara hiruk pikuk kaum pendatang. Yang namanya pendatang maka tentunya memiliki kampong aslinya. Entah dari sesame pulau jawa, sumatera, sulawesi dan seterusnya. Jadilah tiap lebaran jutaan pendatang tadi melakukan tradisi tahunan menjelang idul fitrie yakni mudik atau pulang kampoeng..
Fenomena mudik tiada habisnya dikupas dan dianalisi waktu demi waktu. Bagi yang tidak pernah mudik atau memang asli asal kota Jakarta tadi misalnya tidak habis pikir kenapa tradisi ini berjalan terus. Bahwa mudik memang identik dengan perjalanan panjang, macet dan melelahkan. Bahwa mudik memang identik dengan menyatakan bahwa kita benar orang daerah atau orang perantauan. Bahwa mudik seiring dengan makin mahalnya BBM dan ongkos transportasi adalah membutuhkan banyak biaya. Bahwa mudik adalah ritual yang kadang sulit dimengerti sebagian orang. Kenapa orang rela bercapek ria macet dan menempuh ratusan kilometer padahal kalau hanya pulang bisa memilih waktu lainnya kan, yang tidak berbarengan misalnya. Itulah sedikit mudik dan tanda tanya yang menyertainya.
Bagaimana dengan pemikiran dan pembelaan golongan yang memang mudik setiap tahunnya. Tentunya bakal tidak kalah banyaknya argument yang bisa dilontarkan. Bahwa kampong halaman identik dengan tanah kelahiran atau leluhur yang memiliki nilai-nilai histories. Bahwa di daerahlah berkumpul akar keluarga besarnya. Ritual mudik juga ibarat charger battery dimana battery kehidupan yang sebelas bulan sudah sedemikian buram dan perlu sentuhan segar. Dengan mudik ibaratnya pikiran kita menjadi fresh kembali, segar dan siap bekerja berat. Mudik memanglah melelahkan dan macet, namun segalanya bakal terbayar lunas beserta bunga-bunganya manakala kita sampai di rumah, bertemu handai taulan dan merasa kembali menjadi bagian dari kampong halaman. Bagi etnis jawa konon mudik sangatlah mustahil tidak dilakukan karena semangat mudik memang membara dalam dada. Makanya ada pepatah yang mengatakan, mangan ra mangan asal ngumpul atau makan tidak makan yang penting berkumpul, sehingga kenapa ritual mudik wajib dilakukan. Mudik juga menjadi ajang promosi bahwa si A atau si fulan berhasil tuh dalam rantauanya dengan mudik bermobil dan membawa banyak uang. Hal ini mengapa semakin banyak orang yang merantau dan dampaknya adalah jumlah pemudik bakal terus meningkat.
Terlepas dari duduk masalah sebenarnya dan pergeseran nilai-nilai mudik, setidaknya mudik adalah merupakan ajang pemerataan pendapatan masyarakat. Berapa milyar atau triliun rupiah uang dari Jakarta atau kota besar lainnya dapat terbagi ke daerah asal perantau. Konon lagi rumah makan warteg asal tegal telah menyumbang sekian milyar ke kampong halaman. Juga perantau asal wonogiri, solo atau sleman dan seterusnya turut menyumbang pendapatan putra daerah. Meski periode mudik berkisar hanya sebulan nampaknya cukup significant nominal yang disumbang bagi roda perekonomian baik pada sector transportasi maupun sector terkait lainnya semacam home industri, makanan atau pariwisata. Read More ..
Fenomena mudik tiada habisnya dikupas dan dianalisi waktu demi waktu. Bagi yang tidak pernah mudik atau memang asli asal kota Jakarta tadi misalnya tidak habis pikir kenapa tradisi ini berjalan terus. Bahwa mudik memang identik dengan perjalanan panjang, macet dan melelahkan. Bahwa mudik memang identik dengan menyatakan bahwa kita benar orang daerah atau orang perantauan. Bahwa mudik seiring dengan makin mahalnya BBM dan ongkos transportasi adalah membutuhkan banyak biaya. Bahwa mudik adalah ritual yang kadang sulit dimengerti sebagian orang. Kenapa orang rela bercapek ria macet dan menempuh ratusan kilometer padahal kalau hanya pulang bisa memilih waktu lainnya kan, yang tidak berbarengan misalnya. Itulah sedikit mudik dan tanda tanya yang menyertainya.
Bagaimana dengan pemikiran dan pembelaan golongan yang memang mudik setiap tahunnya. Tentunya bakal tidak kalah banyaknya argument yang bisa dilontarkan. Bahwa kampong halaman identik dengan tanah kelahiran atau leluhur yang memiliki nilai-nilai histories. Bahwa di daerahlah berkumpul akar keluarga besarnya. Ritual mudik juga ibarat charger battery dimana battery kehidupan yang sebelas bulan sudah sedemikian buram dan perlu sentuhan segar. Dengan mudik ibaratnya pikiran kita menjadi fresh kembali, segar dan siap bekerja berat. Mudik memanglah melelahkan dan macet, namun segalanya bakal terbayar lunas beserta bunga-bunganya manakala kita sampai di rumah, bertemu handai taulan dan merasa kembali menjadi bagian dari kampong halaman. Bagi etnis jawa konon mudik sangatlah mustahil tidak dilakukan karena semangat mudik memang membara dalam dada. Makanya ada pepatah yang mengatakan, mangan ra mangan asal ngumpul atau makan tidak makan yang penting berkumpul, sehingga kenapa ritual mudik wajib dilakukan. Mudik juga menjadi ajang promosi bahwa si A atau si fulan berhasil tuh dalam rantauanya dengan mudik bermobil dan membawa banyak uang. Hal ini mengapa semakin banyak orang yang merantau dan dampaknya adalah jumlah pemudik bakal terus meningkat.
Terlepas dari duduk masalah sebenarnya dan pergeseran nilai-nilai mudik, setidaknya mudik adalah merupakan ajang pemerataan pendapatan masyarakat. Berapa milyar atau triliun rupiah uang dari Jakarta atau kota besar lainnya dapat terbagi ke daerah asal perantau. Konon lagi rumah makan warteg asal tegal telah menyumbang sekian milyar ke kampong halaman. Juga perantau asal wonogiri, solo atau sleman dan seterusnya turut menyumbang pendapatan putra daerah. Meski periode mudik berkisar hanya sebulan nampaknya cukup significant nominal yang disumbang bagi roda perekonomian baik pada sector transportasi maupun sector terkait lainnya semacam home industri, makanan atau pariwisata. Read More ..
Wednesday, October 11, 2006
Pajak Kendaraan
Hari ini saya membayar pajak kendaraan di sebuah samsat yang berlokasi di timur Jakarta. Berbeda dengan kegiatan saya terakhir bahwa di samsat nampaknya calo sama sekali sudah tidak diperbolehkan beroperasi. Semua diurus oleh wajib pajak kendaraan sendiri. Hanya yang cukup melonjak adalah antrian pajak kendaraan roda dua. Lantai dua ruang samsat begitu berjubel, gerah dan hanya ditopang kipas angina nan panas. Sungguh meski pujian bisa kita sematkan pada tekad samsat namun kenyamanan wajib pajak yang notabene adalah raja, karena patuh membayar pajak kan, masih belum sepenuhnya diperhatikan.
Karena sedikit banyak sudah tahu prosedurnya begitu datang saya langsung foto kopi bpkb, stnk, ktp dan beli kuitansi bermaterei. Critanya ini mau bayar pajak sekalian balik nama. Habis foto kopi langsung ke loket cek fisik beli kertas gesek nomor mesin dan rangka seharga sepuluh ribu perak. Berikutnya kita tinggal mendatangi petugas yang menggesek nomor mesin lalu nomor rangka. Sempat saya tanya bayar berapa pak, dia balik melihat saya, ya sudah kita berikan sekedarnya, diapun bilang terima kasih, so far okelah, no such any free lunch in this funny world bukan.
Balik lagi ke petugas cek fisik dengan kertas gesek sudah tertera nomornya, kembali membayar sepuluh ribu. Menunggu barang dua puluh menit nama dipanggil dan keluarlah sebendel berkas lengkap berisi formulir dan lampiran dokumen kendaraan. Berikutnya kita naik ke lantai tiga dimana dilayani pajak kendaraan roda empat. Pak polisi yang melayani bilang, pak ini cabut berkas ke Jakarta pusat bapak saja yang melakukan. Wah karena tidak punya banyak waktu ya saya jawab, sudahlah saya minta Bantu bapak saja. Oke dia jawab dan bilang, ini untuk cabut berkas sekitar tiga ratus lima puluh ribu perak pak dan tolong ditambahkan ongkos jalannya. Ya sudah saya nitip saja dan berikutnya diminta seminggu lagi datang untuk bayar kekurangannya dan ambil dokumen aslinya.
Bahwa belumlah segala sesuatunya ideal dan bebas dari biaya birokrasi memang benar, namun tetap semangat ini perlu dihargai. Hanya semestinya pihak samsat bisa mengantisipasi lonjakan jumlah kendaraan apalagi yang roda dua sehingga dapat menata secara nyaman pelayanan dari wajib pajak kendaraan ini. Per hari ini saja jalur masuk ke halaman samsat guna menggesek nomor sudah sangat dipenuhi oleh kendaraan roda dua yang juga melakukan cek fisik, sehingga kendaraan roda empat yang lewat haruslah pelan sekali atau bakal nyerempet. Apalagi dapat dibayangkan satu dua tahun ke depan, dengan kondisi perkantoran samsat yang segitu-segitu saja, tentunya bakal terjadi lonjakan antrian pembayar pajak ini.
Sudah jamak dalam negeri kita ini bahwa berbagai hal mengenai pelayanan umum masih sangat jauh dari nyaman dan waktu yang singkat. Singkatnya pelayanan umum masih belum efisien dan efektif. Tidak hanya pelayanan pajak kendaraan namun berbagai pelayanan public lainnya. Padahal masyarakat berduyun-duyun antri itu guna setor uang ke Negara, kenapa tetap saja kurang diperhatikan dan dihargai misalnya.
That’s it, tidak pengin panjang lebar tentunya kecuali kita semestinya bisa berubah, menjadi lebih baik dalam segala hal ketimbang selalu terkondisi keadaan yang serba menyusahkan rakyat belaka. Read More ..
Karena sedikit banyak sudah tahu prosedurnya begitu datang saya langsung foto kopi bpkb, stnk, ktp dan beli kuitansi bermaterei. Critanya ini mau bayar pajak sekalian balik nama. Habis foto kopi langsung ke loket cek fisik beli kertas gesek nomor mesin dan rangka seharga sepuluh ribu perak. Berikutnya kita tinggal mendatangi petugas yang menggesek nomor mesin lalu nomor rangka. Sempat saya tanya bayar berapa pak, dia balik melihat saya, ya sudah kita berikan sekedarnya, diapun bilang terima kasih, so far okelah, no such any free lunch in this funny world bukan.
Balik lagi ke petugas cek fisik dengan kertas gesek sudah tertera nomornya, kembali membayar sepuluh ribu. Menunggu barang dua puluh menit nama dipanggil dan keluarlah sebendel berkas lengkap berisi formulir dan lampiran dokumen kendaraan. Berikutnya kita naik ke lantai tiga dimana dilayani pajak kendaraan roda empat. Pak polisi yang melayani bilang, pak ini cabut berkas ke Jakarta pusat bapak saja yang melakukan. Wah karena tidak punya banyak waktu ya saya jawab, sudahlah saya minta Bantu bapak saja. Oke dia jawab dan bilang, ini untuk cabut berkas sekitar tiga ratus lima puluh ribu perak pak dan tolong ditambahkan ongkos jalannya. Ya sudah saya nitip saja dan berikutnya diminta seminggu lagi datang untuk bayar kekurangannya dan ambil dokumen aslinya.
Bahwa belumlah segala sesuatunya ideal dan bebas dari biaya birokrasi memang benar, namun tetap semangat ini perlu dihargai. Hanya semestinya pihak samsat bisa mengantisipasi lonjakan jumlah kendaraan apalagi yang roda dua sehingga dapat menata secara nyaman pelayanan dari wajib pajak kendaraan ini. Per hari ini saja jalur masuk ke halaman samsat guna menggesek nomor sudah sangat dipenuhi oleh kendaraan roda dua yang juga melakukan cek fisik, sehingga kendaraan roda empat yang lewat haruslah pelan sekali atau bakal nyerempet. Apalagi dapat dibayangkan satu dua tahun ke depan, dengan kondisi perkantoran samsat yang segitu-segitu saja, tentunya bakal terjadi lonjakan antrian pembayar pajak ini.
Sudah jamak dalam negeri kita ini bahwa berbagai hal mengenai pelayanan umum masih sangat jauh dari nyaman dan waktu yang singkat. Singkatnya pelayanan umum masih belum efisien dan efektif. Tidak hanya pelayanan pajak kendaraan namun berbagai pelayanan public lainnya. Padahal masyarakat berduyun-duyun antri itu guna setor uang ke Negara, kenapa tetap saja kurang diperhatikan dan dihargai misalnya.
That’s it, tidak pengin panjang lebar tentunya kecuali kita semestinya bisa berubah, menjadi lebih baik dalam segala hal ketimbang selalu terkondisi keadaan yang serba menyusahkan rakyat belaka. Read More ..
Tuesday, October 10, 2006
Pertanian
Negara kita “sempat” terkenal dengan sebutan negara agraris karena luas lahan produktif yang dimilikinya. Dengan bekal luas lahan dan sumber daya manusia maka mestinya kita bisa lebih optimal dalam menghasilkan produk pertanian ketimbang yang kita capai hari ini. Produk pertanian tersebut bisa berupa beras dan sejenisnya, buah, sayur atau singkatnya produk hasil bumi. Dalam konteks ini barangkali bisa termasuk disebutkan pengembangan produk pendukung-nya seperti pupuk, peralatan pengolah lahan, peralatan panen, peralatan pengupas gabah dan seterusnya.
Bicara pertanian pada dasarnya sangatlah luas lingkupnya, sehingga kita fokuskan saja pada budi daya beras yang merupakan makanan pokok kita. Belum lupa dalam ingatan kita di era 1980-an kita pernah berswasembada beras. Artinya produksi beras mencukupi bagi kebutuhan nasional dan lebihnya dapat diekspor. Bila produksi cukup selain terjaminnya kebutuhan pangan juga tentunya harganya akan dapat dikontrol, atau diserahkan mekanisme pasar.
Sebagai Negara yang berkutat mengolah komoditas beras puluhan tahun sudah semestinya kita menguasai seluk beluk mulai dari pembibitan, penyemaian, penanaman sampai pemanenan. Idealnya kita haruslah memiliki berbagai jenis padi mulai dari yang umur panen pendek, bulir padinya banyak, yang rasanya enak dan seterusnya. Produktifitas-nya mudah diukur dengan salah satunya dengan menghitung berapa ton padi/gabah dihasilkan untuk setiap hektar lahan misalnya. Rasanya untuk produktifitas perhektarnya kita masih jauh di bawah Thailand, Taiwan atau Jepang misalnya dan masih sangat luas bisa ditingkatkan lagi. Makanya tidak heran beras Thailand merajalela di pasar kita.
Dengan banyaknya ahli pertanian kita, termasuk fakultas pertanian di berbagai perguruan tinggi bukan mustahil mengembangkan bibit padi unggul yang mudah tanam namun hasilnya optimal. Sudahkah hal ini kita capai, nampaknya belumlah menggembirakan.
Aspek pendukung pertanian misalnya pupuk juga belum kunjung tuntas dalam arti mudah diperoleh dengan harga terjangkau oleh petani kita. Sering terjadi pupuk langka keberadaannya dan kalaupun ada harganya selangit. Kenapa hal ini belum menjadi perhatian utama kita.
Fakta di lapangan bahwa kondisi petani kita masih jauh dari sejahtera. Terlampau banyak petani yang kehidupannya marginal dan belum menikmati peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Pernah ada yang namanya koperasi unit desa dan koperasi lainnya yang dimaksudkan membantu petani dalam hal pengadaan pupuk maupun penyerapan hasil panen, namun terakhir kok gaungnya mulai hilang.
Mustahikah bila sector pertanian diangkat menjadi backbone kita, menjadi tulang punggung perekonomian kita. Dengan berbagai modal yang dimiliki mestinya hal ini bukanlah mustahil. Fokuskan pada riset dan pengembangan bibit padi sampai dihasilkan berbagai jenis bibit unggul sesuai kebutuhan. Fokuskan pada pembangunan lebih banyak pabrik pupuk dan jalur distribusinya agar pupuk mudah dan murah diperoleh. Kembangkan terus teknologi pertanian sehingga konteks pertanian berubah menjadi konteks yang makin canggih dan berteknologi. Janganlah tahun demi tahun teknologinya usang tanpa ada perubahan dan peningkatan.
Wujudkan semuanya dengan hal konkrit dan tindakan nyata di lapangan. Janganlah pertanian hanya menjadi sector kelas dua yang penanganan dan pengelolaan puluhan tahun stagnant belaka. Diperparah dengan saling berlomba melakukan import beras yang semestinya bisa dihindari dan dananya bisa dialihkan pengembangan produk pertanian. Read More ..
Bicara pertanian pada dasarnya sangatlah luas lingkupnya, sehingga kita fokuskan saja pada budi daya beras yang merupakan makanan pokok kita. Belum lupa dalam ingatan kita di era 1980-an kita pernah berswasembada beras. Artinya produksi beras mencukupi bagi kebutuhan nasional dan lebihnya dapat diekspor. Bila produksi cukup selain terjaminnya kebutuhan pangan juga tentunya harganya akan dapat dikontrol, atau diserahkan mekanisme pasar.
Sebagai Negara yang berkutat mengolah komoditas beras puluhan tahun sudah semestinya kita menguasai seluk beluk mulai dari pembibitan, penyemaian, penanaman sampai pemanenan. Idealnya kita haruslah memiliki berbagai jenis padi mulai dari yang umur panen pendek, bulir padinya banyak, yang rasanya enak dan seterusnya. Produktifitas-nya mudah diukur dengan salah satunya dengan menghitung berapa ton padi/gabah dihasilkan untuk setiap hektar lahan misalnya. Rasanya untuk produktifitas perhektarnya kita masih jauh di bawah Thailand, Taiwan atau Jepang misalnya dan masih sangat luas bisa ditingkatkan lagi. Makanya tidak heran beras Thailand merajalela di pasar kita.
Dengan banyaknya ahli pertanian kita, termasuk fakultas pertanian di berbagai perguruan tinggi bukan mustahil mengembangkan bibit padi unggul yang mudah tanam namun hasilnya optimal. Sudahkah hal ini kita capai, nampaknya belumlah menggembirakan.
Aspek pendukung pertanian misalnya pupuk juga belum kunjung tuntas dalam arti mudah diperoleh dengan harga terjangkau oleh petani kita. Sering terjadi pupuk langka keberadaannya dan kalaupun ada harganya selangit. Kenapa hal ini belum menjadi perhatian utama kita.
Fakta di lapangan bahwa kondisi petani kita masih jauh dari sejahtera. Terlampau banyak petani yang kehidupannya marginal dan belum menikmati peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Pernah ada yang namanya koperasi unit desa dan koperasi lainnya yang dimaksudkan membantu petani dalam hal pengadaan pupuk maupun penyerapan hasil panen, namun terakhir kok gaungnya mulai hilang.
Mustahikah bila sector pertanian diangkat menjadi backbone kita, menjadi tulang punggung perekonomian kita. Dengan berbagai modal yang dimiliki mestinya hal ini bukanlah mustahil. Fokuskan pada riset dan pengembangan bibit padi sampai dihasilkan berbagai jenis bibit unggul sesuai kebutuhan. Fokuskan pada pembangunan lebih banyak pabrik pupuk dan jalur distribusinya agar pupuk mudah dan murah diperoleh. Kembangkan terus teknologi pertanian sehingga konteks pertanian berubah menjadi konteks yang makin canggih dan berteknologi. Janganlah tahun demi tahun teknologinya usang tanpa ada perubahan dan peningkatan.
Wujudkan semuanya dengan hal konkrit dan tindakan nyata di lapangan. Janganlah pertanian hanya menjadi sector kelas dua yang penanganan dan pengelolaan puluhan tahun stagnant belaka. Diperparah dengan saling berlomba melakukan import beras yang semestinya bisa dihindari dan dananya bisa dialihkan pengembangan produk pertanian. Read More ..
Monday, October 09, 2006
Saat Ini
Saya sering mencari “perenungan” atas kehidupan ini, ceilee hebat yaa. Perenungan saya adalah apa sebenarnya hakekat inti dari kehidupan kita ini. Wah berat amat topiknya. Kalau Sidharta Gautama akhirnya menyimpulkan bahwa kehidupan adalah sengsara belaka, kenapa beliau memilih untuk bersemedi, guna menghindari kesengsaraan Berhasilkan beliau dengan solusinya atas kehidupan, ya saya tidak tahu. Kehidupan kita memang harus terus berlanjut manakala kita sudah memilih lahir di alam ini. Alur sederhana yang bisa kita ungkap misalnya waktu kecil kita sangat ingin bersekolah. Ketika sudah sekolah ingin sekali kerja yang enak dan banyak uang. Ketika sudah kerja dan kaya kita ingin dihormati semua orang dan menjadi tokoh. Ketika sudah menjadi tokoh, dihormati dan sebagainya kita ingin dicatat hebat dalam sejarah. Demikian seterusnya.
Bahwa apa yang belum terjadi akan selalu menjadi mimpi kita sementara hari kemarin adalah masa lalu. Pernahkah kita mengalami kebosanan. Tentunya banyak dari kita sering merasa bosan belaka. Ah setiap hari kerja mulu, kerja dan kerja. Sementara yang pensiun juga mengeluh, duh bosannya hari-hari, duduk mulu melihat orang lewat. Yang menganggur mencari kerja apalagi, bosan banget mencari kerja nggak dapat-dapat. Barangkali sudah adakah yang benar-benar nikmat menjalani detik demi detik hidup ini berlalu. Mungkin ada juga, hanya kita saling tidak tahu siapakah gerangan yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya. Apakah beliau itu seorang professor? seorang ustad? seorang pastor? seorang pertapa? seorang tokoh? seorang menteri? presiden? atau malah orang gila di pinggir jalan itu.
Bahwa kehidupan memang silih berganti, kadang indah kadang sedih. Kadang kita merasa bahagia kadang derita tiada akhir. Maka perenungan ini barangkali masih belum bisa memegang apa sih inti dari kehidupan kita. Mestikah kita harus berbuat baik sepanjang waktu? Jelas ini tidak salah, namun adakah orang demikian, masak seumurnya terus berbuat baik, namanya juga manusia akan sulitlah. Pan punya nafsu, ambisi, hasrat, sifat iseng, sifat jahat disamping sifat baiknya. Hmm bahkan baik dan buruk pun dapat secara luas diperdebatkan. Apa yang kita sebut baik belum tentu sama bagi orang lain. Yang kita nilai buruk-pun tidak sama bagi penilaian orang lain.
Bahwa, kita dapat mulai mencoba menengok ke atas, ya betul Tuhan Yang Maha Besar. Jadi kita sebagai makhluk hidup mesti meyakin keberadaan Sang Pencipta ini dulu. Tanpa meyakini sang Pencipta dijamin hidup kita bakal berasa kosong ompong, dan inti kehidupan bakal sulit digapai. Setelah meyakini Pencipta kita, coba tengok alam semesta ini yang terbentang luas dimana kehidupan kita ditopang. Toh kita tidak bisa hidup di langit atau di dasar laut kan. Setelah Tuhan, Alam semesta, berikutnya kita coba tengok saudara kita. Ya betul umat manusia. Jadi hampir lengkaplah semuanya antara keberadaan Tuhan, Alam Semesta dan Umat manusia. Terakhir kita jangan lupa masih ada agama, norma masyarakat dan akal budi kita.
Nah barangkali sudah dekatkah perenungan kita akan inti kehidupan ini. Coba diolah dan ditata secara rapi sekali antara hakikat tadi yakni Pencipta kita, Agama kita, Norma kita, Alam kita, Umat manusia dan pikiran kita. Apakah kira-kira inikah hakikat kehidupan kita? Saya juga belum bisa menjawabnya. Yang jelas kehidupan kita adalah saat ini. Saat ini kita dapat melakukan ibadah kepada Tuhan, dapat melakukan tindakan yang tidak merusak alam, jangan menyakiti sesama/masyarakat serta gunakan selalu akal pikiran kita demi keserasian hakikat tadi. Read More ..
Bahwa apa yang belum terjadi akan selalu menjadi mimpi kita sementara hari kemarin adalah masa lalu. Pernahkah kita mengalami kebosanan. Tentunya banyak dari kita sering merasa bosan belaka. Ah setiap hari kerja mulu, kerja dan kerja. Sementara yang pensiun juga mengeluh, duh bosannya hari-hari, duduk mulu melihat orang lewat. Yang menganggur mencari kerja apalagi, bosan banget mencari kerja nggak dapat-dapat. Barangkali sudah adakah yang benar-benar nikmat menjalani detik demi detik hidup ini berlalu. Mungkin ada juga, hanya kita saling tidak tahu siapakah gerangan yang sudah sedemikian tinggi tingkatnya. Apakah beliau itu seorang professor? seorang ustad? seorang pastor? seorang pertapa? seorang tokoh? seorang menteri? presiden? atau malah orang gila di pinggir jalan itu.
Bahwa kehidupan memang silih berganti, kadang indah kadang sedih. Kadang kita merasa bahagia kadang derita tiada akhir. Maka perenungan ini barangkali masih belum bisa memegang apa sih inti dari kehidupan kita. Mestikah kita harus berbuat baik sepanjang waktu? Jelas ini tidak salah, namun adakah orang demikian, masak seumurnya terus berbuat baik, namanya juga manusia akan sulitlah. Pan punya nafsu, ambisi, hasrat, sifat iseng, sifat jahat disamping sifat baiknya. Hmm bahkan baik dan buruk pun dapat secara luas diperdebatkan. Apa yang kita sebut baik belum tentu sama bagi orang lain. Yang kita nilai buruk-pun tidak sama bagi penilaian orang lain.
Bahwa, kita dapat mulai mencoba menengok ke atas, ya betul Tuhan Yang Maha Besar. Jadi kita sebagai makhluk hidup mesti meyakin keberadaan Sang Pencipta ini dulu. Tanpa meyakini sang Pencipta dijamin hidup kita bakal berasa kosong ompong, dan inti kehidupan bakal sulit digapai. Setelah meyakini Pencipta kita, coba tengok alam semesta ini yang terbentang luas dimana kehidupan kita ditopang. Toh kita tidak bisa hidup di langit atau di dasar laut kan. Setelah Tuhan, Alam semesta, berikutnya kita coba tengok saudara kita. Ya betul umat manusia. Jadi hampir lengkaplah semuanya antara keberadaan Tuhan, Alam Semesta dan Umat manusia. Terakhir kita jangan lupa masih ada agama, norma masyarakat dan akal budi kita.
Nah barangkali sudah dekatkah perenungan kita akan inti kehidupan ini. Coba diolah dan ditata secara rapi sekali antara hakikat tadi yakni Pencipta kita, Agama kita, Norma kita, Alam kita, Umat manusia dan pikiran kita. Apakah kira-kira inikah hakikat kehidupan kita? Saya juga belum bisa menjawabnya. Yang jelas kehidupan kita adalah saat ini. Saat ini kita dapat melakukan ibadah kepada Tuhan, dapat melakukan tindakan yang tidak merusak alam, jangan menyakiti sesama/masyarakat serta gunakan selalu akal pikiran kita demi keserasian hakikat tadi. Read More ..
Subscribe to:
Posts (Atom)