Friday, August 08, 2008

Hotel

Apa bisnis yang sebenarnya ditawarkan sebuah Hotel. Beragam hotel bertebaran mulai dari kelas melati sampai hotel berbintang empat atau lima. Apa yang membedakan bisnis hotel dengan penerbangan misalnya. Paling tidak keduanya sangat erat dengan pelayanan dan penanganan terhadap tamu atau penumpangnya. Persamaan lainnya adalah kedua konsumen baik hotel maupun penerbangan umumnya berasal dari kelas ekonomi menengah atas. Dibutuhkan perhatian dan penanganan lebih khusus terhadap orang yang ekonominya mapan ini. Seberapa sering anda menggunakan jasa sebuah Hotel. Bagi mereka yang sering bepergian entah urusan keluarga atau kantor tentunya pernah menginap di sebuah hotel.

Laki-laki itu pernah menginap di sebuah hotel berbintang empat di Malaysia selama lebih dari tiga bulan. Tentu saja bukan dari biaya sendiri, karena biayanya mencapai ratusan juta rupiah. Urusan kantorlah yang membawanya menginap sampai berbulan-bulan. Itu terjadi ditahun 1992 atau enambelas tahun silam. Masih ingat bagaimana pelayanan hotel di negeri jiran itu. Harus diakui cukup professional dan mencerminkan kelas bintangnya. Selama tinggal di hotel tersebut nampak tidak ada kejadian yang berarti. Masih ingat lelaki tadi mampir dan makan di restoran hotel hanyalah sekali. Itupun saat pertama kali datang dan disambut eksekutif kantor setempat. Selebihnya lelaki itu dan banyak rekan kantornya mencari makan di luar hotel. Sarapan pagi-pun tidak pernah di hotel, karena harus berangkat ke kantor. Jadilah sarapannya cukup di kantin kantor atau pabrik. Meski kantin namun ukuran dan ragam makannya sangat banyak. Tiga bulan lebih tinggal di hotel itu cukup memberikan catatan tersendiri baginya.

Belum lama ini kembali lelaki itu menginap di sebuah hotel berbintang di kota terbesar Jawa Tengah. Lamanya juga tiga bulan. Kepentingan sama, urusan pekerjaan sehingga biaya hotel bukan dari kocek pribadi namun ditanggung perusahaan. Saat meneken invoice selama tiga bulan tersebut terlihat jumlah yang cukup besar. Hmm dana sebesar itu, bila dari kocek sendiri tentu saja sayang kalau digunakan hanya tinggal di Hotel. Berbeda dengan konglomerat minyak dari Timur Tengah yang konon pernah menyewa sekian banyak kamar hotel super mewah di Eropa hanya untuk liburan dan bersenang-senang. Uang sang raja minyak itu ibaratnya tidak berseri, sehingga membelanjakan ratusan milyar adalah hal biasa baginya.

Lelaki itu sedikit banyak menyimpulkan pelayanan hotel tersebut. Untuk makanan karena memang tinggal berbulan-bulan nampanknya memang membosankan. Meskipun menu sebuah hotel berbintang empat tentunya mewah dan beragam tetap saja membuatnya bosan. Tidak jarang lelaki itu hanya mampir dan minum susu atau sereal saja. Kali lain hanya mengambil sayuran, lontong dan sambal untuk jatah sarapannya. Dan yang paling sering adalah minta dikirim ke kamar menu jus atau susu, sereal dan roti.

Pelayanan pegawai hotel sejujurnya kurang memuaskan. Banyak pegawainya yang kurang ramah dan kurang bersahabat. Meskipun tentu ada sebagian yang ramah dan sangat baik. Seingat lelaki itu sebagai tamu longstay, dia merasa tidak diperlakukan secara khusus. Entah ini kebetulan atau memang tidak ada bedanya tamu yang hanya semalam menginap dibanding longstay. Atau pegawai berpikir toh dia menginap atas biaya kantor jadi buat apa mendapat perhatian lebih. Bahkan di restoran-pun tidak banyak yang menyapanya meskipun dia tinggal 90 hari di situ. Sentuhan pribadi dari pelayanan nampaknya tidak ditemukan. Sering saat sarapan malah jarang ditawari minum teh atau kopi yang merupakan layanan standard hotel berbintang. Entah pegawainya yang malas atau sarapan kesiangan. Jam delapan pagi tentunya belum terlalu siang bukan. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali membatin bahwa hotel berbintang yang terletak di lokasi paling bergengsi kok pelayanannya jauh dari mengesankan dan kalah jauh dibanding hotel lainnya. Hal ini terjadi karena sudah mengalami puluhan kali menginap di hotel berbintang sehingga dapat membandingkan satu dengan lainnya. Bila dilihat memang hotel ini dimiliki oleh pemodal lokal dan tidak seperti biasanya sebuah hotel biasanya dimiliki atau dikelola oleh perusahaan asing yang memiliki jaringan internasional.

Puncaknya ketikan harus cek out setelah sembilan puluh hari menginap. Lelaki itu bermaksud minta sepotong kardus, tali atau lakban guna mempaking sebagian barangnya karena kopornya tidak muat. Jawaban hotel singkat tidak punya kardus. Pun tidak ada basa basi untuk mencarikan atau membelikan yang tentunya harganya akan diganti. Kardus akhirnya didapat dari kantor lelaki itu. Yang dapat dilakukan lelaki itu hanya mengisi daftar isian pelayanan yang ditaruh di meja telepon. Memang sesuai nayatanya poinya banyak di bawah rata-rata. Meski tidak begitu jelas apakah bakal ditindak lanjuti atau hanya merupakan atribut belaka. Bahwa sudah ada media penyampai uneg-uneg bagi tamu. Saat cek out di depan friontliner sungguh merupakan hal membosankan manakala harus mengantri lama, tidak ada pegawai yang menyapa, meskipun tamu itu baru saja memberikan kontribusi senilai sekian juta. Usai cek out lelaki itu bergegas menuju mobilnya tanpa menoleh. Hmm sungguh tidak ada sedikitpun keinginan untuk menginap di situ lagi.
Read More ..

Tuesday, July 08, 2008

Malam Di Suatu Kota

Semarang adalah kota yang menarik dan banyak menyimpan potensi. Semarang saat ini berbeda dengan sepuluh tahun silam. Perbedaan itu bisa jadi tidaklah besar kecuali tumbuhnya gedung bertingkat, bangunan jalan dan pusat perbelanjaan. Dari daya tarik kota barangkali Semarang masih kalah sama Bali atau Yogya. Namun Semarang sebenarnya cukup menarik. Selain berbagai potensi kekayaan kuliner, Semarang juga unik. Cukup jarang sebuah kota besar yang memiliki landscape dataran tinggi dan rendah. Makanya dikenal sebutan Semarang atas dan bawah.

Semarang juga terkenal dengan banjir rob-nya. Ketinggian daratan yang konon lebih rendah dari permukaan laut membuat bagian kota yang berdekatan dengan pantai sering terendam air laut. Meskipun sudah dilengkapi dengan pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda tidak urung banjir Rob selalu hadir menggenangi pemukiman. Hujan satu jam saja dapat berakibat sebagian wilayah kota terendam air, bahkan sampai ke pusat kota seperti simpang lima. Meskipun genangan ini tidaklah lama. Hanya beberapa jam saja langsung surut dan kering.

Laki-laki itu baru dua bulan tinggal di Semarang. Sebenarnya sepuluh tahun lalu pernah tinggal di kota itu selama satu tahun sebelum hijrah ke Jakarta. Kali ini kembali ia datang dan masuk kota lumpia tersebut. Lelaki itu cukup heran dengan keramaian kota dan maraknya berbagai hiburan malam.

Sebut saja Agnes yang merupakan gadis berumur dua puluh tahun yang dikenal di suatu tempat hiburan malam executive. Wajahnya cantik dan tubuhnya indah. Menurut penuturannya dia sudah memiliki satu anak dan cerai dari suaminya. Tapi keterangan tersebut diragukan manakala Agnes harus bekerja mulai dari jam tujuh malam sampai jam dua dinihari. Bagaimana ia merawat bayinya dengan ritme kerja seperti itu. Selain muda, cantik dan menarik Agnes juga bersuara bagus dan merdu. Agnes pintar menyanyi dan lelaki itu senang menyanyi. Mudah ditebak mereka berdua langsung akrab.

Rupanya hubungan itu berlanjut dan terjadilah hal itu. Lelaki itu sering menyesali tindakan yang kadang direnung kurang beradab. Menurutkan emosinya belaka atau keadaan jauh dari keluarga barangkali sering membuatnya khilaf. Tekanan kerja dan adaptasi di sebuah kota besar makin membuat gamang sikapnya. Agnes sering curhat di sela-sela hubungan mereka. Kehidupan malam kota itu memang tidak pernah mati. Diantara tempat hiburan bertebaran pula pusat perbelanjaan yang menyebar di berbagai sudut kota.

Malam itu adalah kejadian dua makhluk yang berbeda latar belakang namun yang terjadi terjadilah. Hanya satu kali memang namun sungguh sangat membawa penyesalan berkepanjangan. Tidak jelas apakah lelaki itu yang memang tidak bermoral, atau Agnes yang memang penggoda, atau temaramnya kehidupan malam dari sebuah kota besar.

Begitulah kehidupan kadang tidak adil. Kejadian itu barangkali bukanlah luar biasa dan sering menimpa banyak orang di berbagai kota. Bicara moral kadang tidak ada habisnya. Bagaimana kata bijak dapat mencerna mereka yang saling membutuhkan dan saling menyukai. Manusia terkadang merupakan makhluk paling hebat yang pernah ada - hebat dengan keanehannya. Agnes adalah potret gadis kota besar yang akrab dengan hiruk pikuk malam hari. Dan itulah memang pekerjaan yang ditekuninya. Meskipun sebenarnya ia bukanlah wanita nakal. Mungkin hanya iseng belaka. Tidak jelas apa bedanya nakal dan iseng. Lelaki itu punya keyakinan Agnes sebenarnya baik. Pun waktu berjalan terus dan dialah yang akan menjawab. Hidup bagaimanapun harus tetap berlanjut.
Read More ..

Friday, June 06, 2008

BBM

Kenaikan BBM lagi dan masyarakat semakin berat menanggung beban hidup. Pengangguran semakin banyak dan sulit mencari pekerjaan dan penghidupan. Berita bunuh diri anggota masyarakat karena kemiskinan sudah merupakan berita biasa di media. Ibu yang tega membunuh anaknya dan kemudian membunuh dirinya disebabkan himpitan ekonomi yang makin sesak. Ibarat hilang pegangan manakala Pemerintah dengan tega menaikkan harga bbm dengan argumen sakti untuk mengurangi subsidi. Harga minyak dunia melambung tinggi dan mendekati 200 dollar per baler adalah salah satu biang utama. Sementara harga bbm dipatok 95 dollar di anggaran pemerintah. Selisihnya menjadi beban subsidi pemerintah. Tidak kuyrang dari berbagai pakar mengatakan bahwa pemerintah masih punya opsi lainnya ketimbang sekedar menaikkan bbm. Lha kalau setiap kekurangan anggaran pemerintah selalu rakyat yang menanggung lantas gunanya pemerintah untuk apa.

Pakar energi mengatakan dengan adanya kenaikan harga minyak dunia mestinya kita mendapat berkah tambahan uang karena kita penghasil minyak. Semisal kebutuhan kita adalah 1,5 juta barrel maka yang dapat kita produksi hanya 900 ribu barrel. Dus kita harus import 650 ribu barrel. Import inilah yang menyedot anggaran pemerintah. Kenapa tidak ditingkatkan produksinya, karena belum mampu. Dan kenapa belum mampu sementara sudah merdeka puluhan tahun, ya karena belum mampu. Ktidakmampuan inilah bentuk dari kinerja Pertamina yang sudah puluhan tahun mengelola produksi minyak negara. PLN juga perlu dilihat manakala sumber listriknya masih menyedot minyak sebagai input-nya. Banyak pakar mengatakan PLN harus meminimalkan penggunaan minyak dan menggantinya dengan gas alam, batubara atau energi lainnya seperti air dan matahari yang melimpah.

Yang mampu menambang minyak adalah perusahaan minyak dunia semacam Exxon, Caltex, Conoco dan sebagainya. Masak sih kita ngga mampu meningkatkan produksi minyak sementara kandungan minyak-nya memang ada di perut bumi. Konon pertamina bukanlah penambang minyak terbesar namun hanyalah nomor empat atau lima di bawah penambang minyak asing. Sementara kandungan minyak milik negeri ini setiap hari8nya disedot oleh penambang minyak asing dan berapa yang disetor ke negara nampaknya kurang membantu. Buktinya kita tidak kuat menanggung subsidi.

Hitungan pakar ekonomi Kweek Kian Gee mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu menaikkan harga minyak karena subsidi yang digembar gembor hanyalah hitungan angka di anggaran. Subsidi itu hanyalah abstrak dan gambaran belaka. Masih ada jalan lain ketimbang menaikan harga minyak.

Mahasiswa yang masih jernih pemikirannya mengusulkan agar kita melakukan moratorium hutang yang cicilannya menyedot sepertiga anggaran negara. Sementara seruan banyak kalangan adalah gerakan efisiensi dari birokrat pemerintah dan BUMN-nya termasuk Pertamina dan PLN.

Ada juga yang menyebut adanya mafia minyak yang sudah bertahun tahun menneggak nikmatnya jaringan distribusi minyak. Pemerintah dihimbau untuk segera menertibkan geng mafia ini yang membebani distribusi dan produksi minyak. Ada juga yang menuduh kenaikan minyak adalah pesan sponsor dan kepentingan investor minyak asing.

Apapun itu yang jelas minyak harus segera dikelola oleh negara entah dengan melakukan perundingan bagi hasil dengan investor asing termasuk nasionalisasi minyak. Saat ini dibutuhkan komitmen pemerintah untuk membela penderitaan dan beban rakyat yang semakin berat melalui pengelolaan minyak oleh bangsa sendiri sebagaimana amanat presiden pertama Soekarno!!
Read More ..

Thursday, May 22, 2008

SMS ESIA 1 RUPIAH

Operator telepon memasuki puncak perang harga. Price War ini bakal terus berlangsung seiring dengan penetrasi pasar telepon yang masih terbuka lebar. Bahkan tidak henti-hentinya operator saling melempar produk yang diklaim murah dan kompetitif. Tidak ada fenomena unik perang harga seperti yang terjadi pada industri telekomunikasi. Bahkan ada sebuah operator yang bertahun-tahun tidur, belum kunjung komersialisasi dan terus sibuk menyiapkan infrastrukturnya, setelah merger dengan investor asing-pun segera go komersial dan meramaikan pasar.

Persaingan klasik antara kubu GSM dan CDMA terus berlangsung dan semakin sengit. Pada awalnya produk telepon hanya meliputi produk voice dan message. Mayoritas orang mengenal telepon kalau tidak untuk bicara ya mengirim pesan singkat, atau SMS. Inilah dua produk dasar telco pada awalnya. Seiring dengan perkembangan teknologi maka muncullah layanan berbasis 3G. Ada juga produk derivatif lainnya semacam Ring Back Tone (RBT). Namun industri masih mengandalkan layanan suara dan SMS sebagai tumpuan revenue-nya. Hal ini pula yang memberi kesan bahwa produk multimedia ala 3G nampak tidak terlampau sukses, mungkin karena tidak banyak yang membutuhkannya saat ini.

Price sensitif, demikian umumnya karakter pasar yang ada. Karena jargon perang harga dengan terkadang tarif promo-nya maka pasar terombang-ambing kesana kemari berburu tarif murah. Salah satu operator yang dianggap cukup kreatif dan inovatif adalah operator dari grup Bakrie yakni PT Bakrie Telecom. Beberapa hari lalu operator yang terkenal dengan produk Esia ini meluncurkan terobosan tarif SMS sebesar 1 rupiah per karakter. 1 rupiah per karakter ini hebatnya dikenakan untuk pengiriman SMS ke semua nomor baik GSM maupun CDMA. Hebatnya Esia ngeklaim bahwa tarif SMS 1 rupiah per karakter bukanlah tarif Promo sebagaimana banyak operator gembar gemborkan, namun benar merupakan tarif reguler

Yang jelas kembali konsumen dimanjakan dengan tarif yang murah dan terpenting adil, demikian klaim dari Esia. Cukup bayar yang anda pakai, adalah slogan Esia dalam promo tarif revolusioner SMS ini. Sebelumnya Esia juga melakukan edukasi tentang talktime sebagai ganti pemahaman masyarakat tentang pulsa. Ketika ditanya pulsa itu apa, umumnya orang bingung. Nah pada kondisi ini-lah Esia mencoba menyosialisasikan campaign talktime-nya.

Tentunya berbagai terobosan dan inovasi produk yang menguntungkan pasar dan konsumen luas patut ditunggu alih-alih hanya berkutat dengan tarif promo yang terkesan melakukan cheating atau jebakan. Harapan konsumen tentunya bukan sekedar tarif yang murah namun kualitas dan nilai tambah berkomunikasi haruslah diperhatikan oleh industri. Nampaknya hanya operator yang cerdas dan inovatif namun tetap memperhatikan layanan dan kualitas jaringan yang bakal mendapat empati dari konsumen. Konon dari sekitar sepuluh operator telekomunikasi yang sekarang beroperasi bakal hanya ada empat atau lima yang survive. Kemana lainnya, barangkali melakukan merger agar dapat bertahan. Itulah bisnis, akan sampai titik dimana hukum pasar menentukan segalanya. Tentunya sah-sah saja saling bersaing sejauh fair dan sehat. Persaingan yang tidak jujur hanya akan memperburuk iklim usaha dan akhirnya masyarakat luas yang bakal dirugikan.
Read More ..

Friday, May 16, 2008

Produk Telepon

Saat ini kita sudah sampai tahap kebingungan memilih produk telekomunikasi. Bila pada awal tahun 1990-an sambungan telepon ibarat barang mewah yang untuk mendapatkannya begitu susah, maka hari ini sambungan telepon semudah membeli pisang goreng. Bahkan dalam satu mall lebih banyak gerai telepon ketimbang penjual pisang goreng.

Booming telepon salah satunya karena deregulasi pemerintah yang mencabut monopoli duo Telkom dan Indosat. Maka masuklah beberapa pemain swasta ke dalam bisnis infrastruktur tersebut. Hari ini setiap orang sibuk nmenenteng telepon baik untuk kebutuhan bicara maupun sekedar mengirim pesan singkat. Parahnya lagi telepon hanya sekedar media ngobrol yang tidak jelas tujuannya. Ada juga yang wah dengan perangkat multimedianya meskipun barang ini pada dasarnya belum merupakan kebutuhan pokok bagi pengguna.

Semakin banyaknya operator telepon di tanah air memang sedikit banyak bakal menguntungkan konsumen dengan beragam pilihan produk dengan ragam harga. Perang harga sudah menjadi jor-joran operator telekomunikasi satu dua tahun ini. Banyak yang menawarkan tarif murah namun dengan syarat dan kondisi tertentu yang sering membingungkan konsumen. Maka terjadilah kesemrawutan informasi dan promosi dari sekian bayak operator tersebut.

Pada dasarnya operator telco juga bukan sembarang pengusaha, karena banyak modal asing dibelakangnya. Bisnis telco adalah bisnis modal dan investasi mahal meskipun strategis. Barang siapa bukan pemodal atau investor besar mustahil dapat masuk ke bisnis ini. Saking menggiurkannya bisnis ini maka banyak investor dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, dan Timur Tengah yang ikut bermain.

Salah satu aspek bisnis telco adalah skala ekonomi. Dengan sedemikian besarnya modal dan investasi yang dibutuhkan untuk menggelar jaringan telco dan semakin jenuhnya pasar maka apakah bisnis telco masih berpotensi menyumbang profit yang diharapkan patut mendapat perhatian. Namun bila melihat laporan keuangan perusahaan telco yang muncul di public nampak bahwa pada dasarnya skala ekonomi masih terpenuhi.

Berikutnya pasar dari produk telco ini. Konon angka jumlah pelanggan sudah menyentuh 100 juta dari jumlah penduduk nasional katakanlah 220 juta orang. Tentunya tidak semua penduduk membutuhkan telepon ini sehingga penetrasi sebesar 100 juta yang hampir setara dengan 50% dari penduduk nasional bukanlah cerminan dari jumlah penduduknya. Katakanlah hanya 30 atau 40 penduduk yang gonta ganti nomor telepon. Angka inipun masih relatif rendah bila dilihat penetrasi dan densitas kepemilikan sambungan telepon di negara lain dimana ada yang mencapai 90% atau bahkan lebih dari 100% seperti di Hongkong. Jadi nampaknya pasar masih terbuka luas untuk terus melakukan ekspansi bisnis telco.

Perlu dicatat, edukasi masyarakat pengguna telepon kadang dilupakan oleh operator. Alih-alih memberikan edukasi para operator malah secara semrawut mencekoki pasar dengan berbagai promo yang kadang menyesatkan. Yang jelas hangat saat ini adalah tentang tarif, baik untuk tarif voice maupun sms. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita yang terbuai dengan hal baru atau nampak baru maka bahkan masyarakat dapat terjebak konsumtif bila tidak berhati-hati. Tidak jarang satu orang memegang tiga atau empat nomor telepon sekaligus. Katakanlah memang nomor prabayar namun harga perdana itu sendiri kan sudah merupakan biaya. Tanpa sadar masyarakat dapat terjebak dalam permainan operator telco.

Cobalah hitung berapa pengeluaran satu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan dua anak baru gede. Bila keempatnya memegang nomor dan bahkan lebih dari satu nomor maka belanja untuk harga perdana sudah berapa besar. Ditambah pengeluaran setiap bulannya. Tanpa disadari pengeluaran untuk produk yang disebut telepon ini menjadi salah satu yang terbesar diantara konsumsi rumah tangga.

Sehingga masyarakat harus cerdas dan pintar memilih produk telepon yang sesuai dengan kebutuhannya. Janganlah hanyut oleh serangan promosi yang gencar ditawarkan operator semata. Masih banyak operator yang melakukan cheating dalam promonya.
Read More ..

Wednesday, April 23, 2008

Motor

Cukup seru melihat persaingan bisnis motor nasional antara Honda dan yamaha. Dengan market share hampir 5 juta unit per tahun tentunya cukup menggiurkan bertempur di pasar ini. Andaikan rerata harga satu motor sepuluh juta saja maka terdapat peluang sebesar lima puluh triliun per tahun yang bisa diperebutkan. Hmm jumlah yang cukup menggiurkan bagi sebuah industri. Honda adalah market leader dalam industri motor. Market sharenya diatas 50% dan tidak ada yang menggoyahkan dominasinya beberapa tahun terakhir. Motor Honda terkenal kuat dan handal meskipun dari sisi harga dan teknologi kadang sama atau lebih mahal. Justru teknologi yang biasa itu sekaligus sebagai strength dalam reliability produk. Yamaha adalah penguasa market dibelakangnya. Meksipun awalnya pangsa pasarnya hanya sekitar separo dari pasar honda namun makin lama Yamaha dapat meningkatkan market share disaat merk lainnya turun atau stagnan. Honda memang market leader namun mengalami stagnan dan nampak sulit meningkatkan penjualan. Memang sharenya sudah sangat besar, yakni lebih dari dua juta motor per tahun namun pertumbuhan tetap menjadi target pabrikan berlogo bergambar sayap ini.

Bisnis motor tidak semata alat transportasi. Banyak aspek yang mempengaruhi hasil akhir persaingan. Ada factor harga, model, teknologi, cara pembelian dan juga harga BBM yang turut andil membentuk kondisi persaingan. Pada awalnya Honda membuat motor dengan desain menarik, mesin reliable meskipun harganya relatif mahal. Perkembangan industri motor mengalami fluktuasi menarik. Sempat muncul motor china dengan penawaran harga yang murah dan hampir setengah harga motor jepang. Dasar jepang adalah negara industri dan capital yang ulet gaya bersaingnya lantas dengan spontan memberikan jawaban. Dibuatlah motor dengan model lama dan sparepart murah serta harganya beda tipis dengan motor china. Pasar dibuat sedikit chaos dengan banyaknya motor murah yang ditawarkan. Sempat berseliweran motor china di jalanan saking harganya begitu terjangkau. Bahkan modelnya meniru habis-habisan model dari jepang. Namun tidak lama orang kembali membeli motor jepang karena harganya beda tipis namun kehandalan teruji dan brandingnya jepang. Ditambah makin banyaknya masalah teknis yang mendera motor china praktis pelan tapi pasti ambruklah industri motor china dilibas industri jepang. Dengan hilangnya pesaing dari negeri tirai bamboo itu maka pasar terbuka kembali bagi persaingan keras sesama merk jepang.

Yamaha adalah merk yang cukup ternama sejak dulu. Boleh dikatakan sejajar dengan nama besar Honda. Dalam beberapa hal motor berlogo garputala ini bahkan lebih unggul ketimbang Honda seperti manuver dan modelnya. Hukum alamiah terjadi manakala sebagai market leader Honda sedikit terlena dan puas dengan penetrasi pasarnya. Seiring gencarnya iklan di media Yamaha terus mencari terobosan model dan pasar. Yamaha juga tidak pelit dengan teknologi. Banyak teknologi canggih diterapkan di produknya. Puncaknya adalah ketika dengan innovatif melemparkan produk jenis skuter. Padahal sebelumnya ada merk korea yang melempar jenis skutik di pasar, namun tidaklah sukses. Disamping harganya mahal factor terbatasnya spareparts, purna jual, service dan kurangnya brand turut berpengaruh atas kegagalan merk negeri ginseng itu. Kali ini Yamaha mengemas konsep sebuah produk dengan fungsi, harga, merk, model yang berbeda. Model tetep skutik namun ukuranya lebih kompak, harganya juga jauh lebih murah, produknya sangat user friendly dan tetap handal. Skutik dengan brand Mio itu menjadi market leader di pasar nasional. Dengan model menarik, kompak, handal dan harga sepuluh jutaan Mio menuai sukses besar. Jutaan unit dilempar ke pasar dan disambut antusias pengguna motor. Mengendarai mio ibaratnya hanyalah ngegas dan ngerem dimana keduanya dilakukan oleh tangan. Kaki hanya digunakana saat motor berhenti. Jadilah skutik Mio sebagai moda transportasi baru yang gaya dan sangat praktis. Ditambah cara kepemilikan motor yang didukung oleh institusi pembiayaan yang mudah, bunga murah dan kadang tanpa DP, bisnis motor makin mengalami boast.

Cerita Mio ibarat gambaran model innovatif yang mendobrak pasar dengan buah kesuksesan. Yamaha juga mengembangkan variant bebek dengan sentuhan teknologi tinggi serta variant motor kopling dengan model dan teknologi terkini. Jadilah rangkaian modelnya mencapai kesuksesan dengan membukukan peningkatan penjualan setiap tahunnya. Meskipun harga barang dan jasa selalu meningkat seiring kenaikan BBM, kesempatan kerja terbatas dan situasi perekonomian nasional lesu, bisnis motor nampak tetap bergairah. Hal ini masuk akal manakala motor memiliki nilai fungsi sekaligus investasi dan bahkan bagi sebagian orang merupakan kebutuhan dasar. Akhirnya Yamaha terus mengalamai pertumbuhan pasar manakala merk lain turun dan stagnan.

Honda sebagai market leader tidak ingin dipencundangi dua kali. Teknologi tinggi, model dan variant pun dikembangkan. Bila dulu Honda terkenal pelit dengan teknologi sekarang mulai unjuk gigi. Bahkan dengan ancaman Yamaha yang semakin kuat Honda mencoba mencari terobosan. Selain menurunkan varian skutik untuk bersaing di pasar Honda juga mengupgrade teknologi dan menjajagi jenis motor baru. Yang terakhir adalah keluarnya model gabungan antara jenis bebek dan jenis kopling. Jadilah motor gado-gado yang dipromosikan bakal mudah bermanuver di jalan jelek dan di tengah kemacetan kota. Belum bisa dikatakan terobosannya membawa sukses dan butuh waktu untuk melihat keberhasilan. Sementara Yamaha tentunya tidak akan tinggal diam dan akan terus menyaingi sang market leader. Merk lainnya seperti Suzuki dan Kawasaki-pun tidak akan duduk diam melainkan terlibat persaingan sengit dalam meraup ceruk pasar motor.
Read More ..

Tuesday, April 22, 2008

Doin’ Nothing

Pernahkah anda memperhatikan keadaan sekitar anda. Gampangnya keadaan dari rumah sampai kantor anda. Pernahkah anda memperhatikan dua atau lima tahun terakhir. Bila anda katakanlah dari rumah ke kantor pada tahun 2003 apa yang anda ingat. Jalanan macet dan semrawut. Tranportasi buruk, armada bus, kopaja, angkot juga saling serobot. Pernahkah anda merenungkan keadaan itu sekarang. Selain kesemrawutan dan buruknya armada transport sekarang ditambah rusaknya jalan dan merajalelanya kapling jalan atas nama busway. Jalan yang hanya tiga atau bahkan dua lajur-pun dikapling buat busway. Konon busway ini mengadopsi kesuksesan serupa di Bogotta. Namun sebuah sumber menjelaskan keberhasilan busway di Bogotta karena salah satunya kondisi jalan di sana begitu lebar, sampai enma belas lajur, jadi kalaupun diambil satu kapling buat busway tidaklah bermasalah. Berbeda dengan kita yang semua menyadari busway bukanlah solusi mengatasi kemacetan akut, namun tetep dipaksakan. Di Koran orang pinter bilang solusinya adalah menambah ruas jalan, mengatur tegas perilaku pengendara dan membangun mass rapid transport- MRT. Istilah MRT biasanya mengacu entah itu kereta bawah tanah/subway atau monorail di atas jalan. Artinya moda ini tidak mengganggu jalan yang sudah ada. Ada juga semacam kereta-traim yang rel-nya di tengah jalan dan masih bisa dilewati kendaraan lain. Lha kalau busway kita ini caranya mbeton jalan je,,dan banyak motor terjengkang saat menyeberang beton pembatas. Siapakah busway itu yak ok begitu kuasa dan melebihi kepentingan rakyat sekalipun.

Itulah pembangunan fisik dan prasarana yang nampak tidak berubah dan yang ada justru makain merana. Kita seolah tidak berbuat sesuatu kecuali saling berlomba, cakar mencakar, sodok menyodok sehari-hari mencari nafkah. Beban ibuko Negara ini semakin berat harus menanggung dua puluh juta rakyat yang setiap hari berlomba mencari nafkah karena pekerjaan yang sulit, kemakmuran hanya mimpi dan banyak yang bunuh diri karena lapar dan malu.

Barangkali dua puluh tahun silam bilapun keadaan masyarakat tidaklah makmur namun sumber daya alam masih banyak. Lha sekarang, yang bernama hutan saja setiap hari konon hilang sebanyak enam lapangan bola atau 360000 meter persegi, gila ya. Kita adalah perusak hutan nomor wahid di dunia ini. Tidak ada nilai tambah dan inovasi yang kita lakukan kecuali secara tamak menebang dan menjual gelondongan kayu hutan untu segera menjadi uang dan penopang konglomerasi mereka yang memiliki hak pengelolaan hutan. Lha ini hutan milik rakyat dan anak cucu kok dikapling dan dikelola seenaknya, gabungan antara penguasa dan pengusaha, enak yaa. Ntar kalau sudah negeri ini hancur, carut marut dan rakyat marah karena perut lapar, mereka tinggal lari tunggang langgang ke china, singapura atau Malaysia. Hmm nggak ada rasa kebangsaan sedikit pun yaa. Lha hutan sendiri saja dirampok untuk kepentingan golongan dan Pribadi emang mana punya rasa kebangsaan . Sangat-sangat minus.

Pajak yang dibayarkan pada kemana yaa. Konon bayarkan pajaknya dan awasai penggunaannya. Gimana caranya, kalau bayar jelas memang kata saktinya adalah kewajiban rakyat, tidak bayar pajak artinya nggak patuh hokum. Lha ngawasi penggunananya gimana caranya, gimana salurannya, gimana aksesnya. Coba hitung di satu kabupaten saja ada berapa ratus ribu roda empat dan berapa juta roda dua. Pernah dihitung secara mudah sebuah daerah memiliki 500 ribu kendaraan mobil dan dua juta roda dua. Dengan pajak mudahnya dua ratus ribu untuk motort dan sejuta untuk mobil maka sudah akan terkumpul 900 milyar rupiah per tahun. Ini hitungan mudah lho. Dan daerah tadi hanya menganggarkan di bawah 10 milayr untuk perbaikan jalan. Ya pantaslah kalau 70% jalan menjadi makin rusak, berlobang dan bila hujan mirip bendungan menggenang. Hanya 10 milyar saja dan tidak jelas berapa yang bener untuk menambal jalan dan berapa lagi yang dikorupsi. Yang 890 milyar itu kemana yaa, apa hilang ditelan bumi. Coba hitunglah secara sederhana pendapatan pajak hanya dari kendaraan bermotor. Belum dari PBB dari PPN dan seterusnya, semuanya dipajakin namun nggak jelas keman perginya.

Tahun 1980-an masih terlihat pembangunan jalan, pembangun sekolah, kantor, pasar, pertokoan maupun fasilitas umum lainnya. Nampak alamiah dan ada Harapan manakala ada pembangunan fisik bagi masyarakat luas. Lha sekarang pembangunan apa yang dilakukan ya. Itu monas sudah ada sejak Soekarno, Gelora Senayan juga, Semanggi juga. Jadi apa yang dibangun, oh paling hanya mall dan perumahan yang semuanya tidak melalui amdal yang layak sehingga berdampak makin memacetkan jalan dan menambah banjir manakala hujan karena resapan tanah berubah fungsi.

Tidak ada Harapan apaun saat ini. Hingar bingar pilkada, pilpres dan sebagainya hanyalah pesta sekelompok kecil orang yang rebutan jabatan belaka. Manakala menjadi bupati, gubernur atau presiden tindakannya sama saja dan tidak ada yang membangun untuk rakyat. Makin banyak rakyat golput dan tidak melihat manfaat bagi mereka artinya pilkada pilpres ini itu. Ketimbang nyoblos mending waktunya buat narik becak atau nguli untuk makan hari itu. Terlampau banyak rakyat lapar dan pusing sekedar memastikan hari ini bisa makan.

Tiga tahun lagai jalanan bakal tidak bergerak karena memang jalan banyak rusak dan makin semrawut. Jangan salahkan pertambahan mobil karena itu terjadi dimanapun. Jangan mengkambinghitamkan sebagian rakyat makin banyak beli mobil hingga jalan ngga bisa nampung, namun coba Tanya pada perencana jalana, pengelola jalan. Dan bagaimana pekerjaan mereka lima atau sepuluh tahun lalu. Tidakkah mereka mempersiapkan dan mengantisipasi sedemikian jauh-jauh hari dan membangun infrastruktur. Kita hanyalah menyerap 400 ribu setahun mobil dan 5 juta motor. Sementara Negara lain ada yang sejuta, lima juta atau bahkan lima belas juta per tahunnya. Jadi bandingkanlah juga dengan Negara lainnya. Jangan kuper kumpret dan selalu menyalahkan hal lain manakala pemerintah dan pengelola negeri ini yang memang salah. Tidak beces mengantisipasi dan membangun. Itulah hakekat adanya sebuah Negara, yakni membangun agar rakyatnya sejahtera.

Lihatlah sekitar, Malaysia, singapura, Taiwan, korea, china, Thailand dan bahkan Vietnam. Semuanya maju dan terjadi pembangunan besar-besaran. Negara itu sudah mulai memetik hasilnya. Jalanan lebar dan mulus, jalan tolo banyak sekali. Prasarna melimpah dan rakyatnay bias bekerja tenanag karena memang banyak lapangan kerja dan investor masuk. Berbanding 900 derajat dengan kita. Makin suram, rakyat lapar, investor tidak mau masuk, pejabat rebutan jabatan dan pilkada ini itu dan puncaknya adalah rusaknya moral, amburadulnya pengelola Negara, menumpuknya hutang, kacaunya birokrasi, habisnya hutan, tambang dan minyak kita tanpa bekas sedikitpun !!
Read More ..

Tuesday, March 18, 2008

The Richest Province

Pesawat boeing 737 seri 400 itu siap lepas landas. Pilot sudah mengatakan take off position dan dua mesin roll royce dari boeing mulai menggemuruh. Pesawat dengan 126 penumpang itu sudah mengarah runway dan siap terbang ketika terdengar gemuruh roda yang direm mendadak oleh pilot. Pesawat urung take off dan kembali memutar ke jalur antrian. Terdengar pilot menjelaskan permintaan maaf melakukan abort dan menjelaskan perlu mengecek sesuatu. Seorang laki-laki berjas hitam dengan rambut pendek bertanya heran kenapa pesawat batal terbang. Setelah memutar melewati jalur antrian pesawat kembali bersiap take off. Kali ini berlangsung mulus dan terbang dengan ketinggian 32 ribu kakipun berjalan mulus. Cuaca sedikit buruk dengan beberapa kali awan menghadang yang menyebabkan laju pesawat tergoncang.

Perjalanan Jakarta – Pekanbaru ditempuh selama satu jam tiga puluh menit. Tidak ada perbedaan waktu antara kedua kota jelas pramugari. Pekanbaru adalah kota yang menarik dan berlokasi di pula Sumatera bagian tengah. Peknabaru bisa ditempuh dari Padang selama lima jam perjalanan darat atau sembilan jam dari Palembang. Konon orang menyebut Pekanbaru adalah Malaysia-nya Indonesia. Seperti Medan disebut sebuah kota kembar dengan Penang di Malaysia (?).

Yang menarik dari Pekanbaru tentunya tidak macet seperti Jakarta. Sebagai kota propinsi yang konon terkaya Pekanbaru sibuk berbenah dan mempercantik diri. Gedung Gubernur terlihat megah di tengah kota. Hotel berbintang seperti Pangeran dan Gran Yuri sibuk menerima tamu setiap harinya. Tamu berdatangan dari Jakarta, Malaysia dan bahkan Singapura.

Hotel Pangeran terletak tidak jauh dari Bandara sementara hotel Gran Yuri dikelilingi keramaian seperti cafee dan tempat hiburan malam. Tempat hiburan itu bagaikan remaja yang tidak pernah tidur. Jam 12 siang sudah mulai dibuka dan menerima tamu sampai dini hari. Ada berbagai hiburan yang disuguhkan seperti karaoke, caffe dan hiburan lainnya.

Seorang rekan menjelaskan bahwa pendapatan daerah jauh lebih besar dari anggaran belanja. Apakah karena terdapat pusat pengolahan minyak Dumai-nya atau perkebunan kelapa sawitnya yang membuat Pekanbaru merupakan salah satu propinsi terkaya.

Dua hari berkeliling kota jarang mendapatkan jalanan bergelombang, umumnya beraspal hotmix mulus. Pusat perbelanjaan dan pertokoan mendominasi jalan protokol. Jangan pernah ke Pekanbaru tanpa mencobai ikan patin, begitu saran seorang rekan. Padahal jelas Pekanbaru bukanlah kota pantai. Apakah ikan patin bisa dibudidayakan di air tawar.

Tiga orang itu penasaran dan mencoba menu ikan patin di sebuah restaurant. Memang rasanya lezat dengan duri yang besar. Gulai ikan patin disajikan dalam piring besar. Semua bagian ikan itu mengeluarkan rasa yang lezat dengan tulang belulang besar yang mudah dibuang.

Cobalah juga menu daging rusa. Ada sebuah restaurant yang menyajikan menu ini. Konon daging rusa mirip daging kambing. Bila mengkonsumi maka badan akan berasa panas dan darah segera naik.

Ada juga pisang goreng pontianak yang kesohor itu. Padahal jarak kedua kota jauh banget ya, namun pisang goreng ponti dapat dijumpai di sini.

Lampu lalu lintas di pekanbaru mirip yang terdapat di Padang. Ukurannya lebih besar dari lampu lalu lintas umumnya.

Orang asli Pekanbaru memang terlihat seperti orang Malaysia. Seorang perempuan muda berusia 26 tahun bernama Santi yang asli Pekanbaru datang ke lobbi. Perempuan itu cantik dengan dandanan yang minim. Setelah berbasa-basi Santi minta sebatang rokok Marlboro dan menyulutnya. Santi bercerita dia memiliki seorang anak, namun sudah berpisah dengan suaminya. Anaknya ditinggal bersama neneknya sementara Santi sibuk mencari nafkah. Santi larut dalam hingar bingarnya malam.
Read More ..

Monday, March 03, 2008

WANNA SING

Tasikmalaya adalah kota kecil yang menawarkan kesegaran udaranya. Meskipun kecil cukup banyak yang bisa dinikmati. Ada beberapa mall seperti Yogya department Store. Cukup banyak bank yang membuka cabang di sini dan tentunya tersedia cukup ATM. Restaurant ada juga, namun yang jelas ada sebuah warung soto yang enak. Soto ayam enak dengan taburan ayam yang banyak memenuhi mangkok, sambal cabe hijau yang digiling lembut dan tidak ketinggalan kerupuk. Ada juga bubur ayam yang enak dimana mangkok besar penuh terisi bubur, ayam, sayuran, kacang dan rasanya enak. Minumnya teh tawar hangat.

Hotel tidak terlampau banyak jumlahnya dan ada satu yang terbesar dan berbintang tiga, namanya hotel Crown. Kamarnya cukup banyak dengan berbagai kelas seperti deluxe atau suite. Hotel ini menyediakan restaurant untuk breakfast, kolam renang dan sebuah caffe di depan pintu masuk. Tempat parkirnya cukup luas. Setelah sore hari tamu melakukan renang dan bersantai maka malam harinya bisa menikmati secangkir espresso di caffe sambil menikmati artis lokal bernyanyi.

Tiga laki-laki itu datang ke caffe pukul 21.00 malam. Laki-laki pertama berperawakan sedang dengan kaos putih dan celana hitam. Yang kedua berambut gondrong dengan kaos putih, jaket hitam dan celana jean biru. Yang ketiga paling tinggi dengan kaos biru dan celana jean biru. Ketiganya langsung menuju meja nomor 16 dan memesan espresso dan sebungkus rokok.

Hingar bingar musik sudah menghentak ruangan caffe yang temaram. Ada sekitar dua puluh meja yang ditata menyebar. Tamu yang datang cukup banyak dan memenuhi tiga perempat kapasitas meja. Di depan ada panggung dan lantai lapang untuk gerak penyanyi atau tamu yang pengin berjoget. Di belakang adalah bar yang menyediakan berbagai minuman dan panganan.

Lampunya redup, musiknya keras dan penyanyi hmm sangat seksi. Penyanyi itu cantik, putih, berambut pendek dengan dandanan ketat dan rok sangat minim. Harus diakui dia sangat menarik, dengan suara merdu dan gerak-gerik menggoda namun tidak murahan. Beragam lagu keluar dari mulut mungilnya. Dua keyboard dan sintesizer mengiringi lagu apapun mulai dari pop, dangdut, rock maupun lagu alternative yang baru ngetop. Lagu kondang macam Yang Paling Sexy-nya Mulan Jamilah, lagu-lagu band Dewa, Ungu, Nidji maupun dangdut dengan fasih dilantunkan. Para tamu mulai tergoda untuk bangkit dan berjoget. Meja diujung di depan bar dengan dua wanita dan satu laki-laki nampak heboh dengan goyangan salah satu dari wanita tersebut. Wanita itu bergoyang dengan hanya bercelana jean dan kaos ketat yang menggambarkan siluet bentuk tubuhnya dalam remang lampu.

Meja di depan panggung yang paling banyak rombongannya lebih heboh lagi. Terlihat ada seorang yang sangat gemuk, dengan kemeja bergaris dan celana jean yang tidak muat perutnya menjadi pusat perhatian. Berkali-kali disebut Hendrik – nama dari lelaki itu oleh sang artis yang bolak balik mendekat, bergoyang menggoda ditingkahi oleh Hendrik. Rupanya Hendrik ini nyawer kepada artis dan mendapat kehormatan bergoyang bersama dan ditawari menyanyi di panggung.

Begitulah malam kian larut dan panas. Makin banyak yang nyawer kepada penyanyi nan cantik tadi. Setiap ada yang nyawer sang penyanyi mendekat dan bergoyang dengan penyawer. Cukup menarik manakala sikap penyanyi meskipun dengan dandanan super ketat namun tidaklah kampungan dan cukup hanya melenggak menggoda. Sang tamupun cukup tahu diri dan tidak main colek layaknya hiburan dan saweran kebanyakan.

Meja ketiga laki-laki nomor enambelas sempat ditawari sang apenyanyi untuk ke depan namun ketiganya hanya tersenyum dan terus menghisap rokok mild putih. Beberapa wanita maju dan menari menambah panasnya malam di kota dingin tersebut. Serombongan yang nampaknya dari luar kota maju berbareng dan bergoyang di depan. Satu dua tamu sempat menyumbang suaranya menyanyi diiringi sang biduan. Sekelompok anak muda dengan minum bir dan makan kacang nampak histeris bergoyang. Tidak ada keributan berarti dan semuanya menikmati malam yang gempita.

Lepas jam 00.00 malam hiburan selesai dan para tamu bubaran. Sang biduan sudah berganti pakaian dan beristirahan dengan manajernya. Meja nomor enambelas belum beranjak dan menikmati kepulan dari rokok yang kesepuluh batang. Ada kerlingan kecil dari sang biduan kepada meja enambelas, tatapan heran. Lima menit berlalu akhirnya ketiga laki-laki beranjak dan keluar dari kaffe.
Read More ..

MENGALIR

Pukul 09.00 pagi. Jalanan perumahan basah oleh hujan. Air menggenang di pinggiran jalan. Satpam di pintu keluar duduk mengantuk. Saat disapa kaget melongok dan spontan bilang,” Selamat pagi,” Jelas kantuk masih terlihat di wajahnya setelah semalaman ronda menjaga lingkungan.

Hujan masih turun rintik-rintik. Genangan air di jalan terlibas roda kendaraan. Sepotong jalan menuju tol nampak rusak. Kemarin jalan itu berlobang dan digenangi air hujan berwarna coklat. Hari ini semua lobang ditutup bebatuan. Terlindas kendaraan lalu lalang bebatuan terpencar ke sana kemari. Bebatuan hanya ditaruh dan tidak dilem dengan aspal.

Sebuah jembatan nampak gagah terbentang diatas jalan tol. Warna cat kuning menambah kemeriahaan. Kendaraan di jalan tol yang selalu ramai pagi itu sedikit lengang. Jalan tol terlihat panjang menjauh. Iringan truk kadang menutup pandangan ke depan.

“Kita membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai di Garut,” suara memecah kesunyian.

Deruman mesin halus sayup terdengar ditingkahi gemuruh roda menjejak aspal. Jalan dengan panjang lebh dari seratus kilometer terus dilalui. Langit terlihat mendung dan gerimis kadang menyela.

Dua jam perjalanan berlalu dan jalanan mulai berkelak kelok. Rupanya melewati perbukitan. Naik turun belok ke kiri kemudian ke kanan. Sawah, rumah dan hijau perbukitan terlihat jelas. Hari sudah cerah dan hujanpun pamit.

“Selamat siang, apa yang bisa kami bantu,” sapa front liner cottage Sumber Alam, Garut dengan ramah.

“Check in, hmm untuk tiga orang,,family suit,,,coba saya lihat,,oh ya masih ada,,,”front liner sibuk menekan tuts pada computer di mejanya.

Gemericik air dimana-mana yang semuanya air panas mengalir dari pegunungan. Nuansa cottage didominasi aliran sungai kecil, kolam di sana-sini dan bangunan cottage ada yang kecil, sedang dan suite.

Family suite itu besar nan luas, ada kolam air panas di halaman depan dan kolam kecil di dalamnya. Terdapat dua lantai dengan dua tempat tidur besar – kingsize. Bangunan terbuat dari kayu dan berlangit tinggi. Ruang santai ada di samping dan menghadap restaurant dan kolam renang.

Pengunjung beragam mulai dari keluarga, pasangan muda-mudi maupun rombongan kantor. Saat itu datang dua gadis muda diantar oleh petugas cottage. Mereka lewat disamping suite family dan sempat mengerling namun tanpa senyum.

Kolam renang terlihat lengang dan tenang serta belum ada pengunjung karena masih siang hari. Ketika jam menunjukkan pukul 15.00 mulai berdatangan tamu yang akan renang di air panas. Seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan kacamata datang pertama dan renang perlahan-lahan, seolah begitu menikmati. Tidak lama disusul dua orang laki-laki. Kemudian lima orang lagi dan kemudian tiga gadis muda. Semuanyan mebentuk tiga rombongan dan saling bercengkerama disela-sela renang.

Mulailah kolam renang itu meriah dengan gemericak air dari gerakan renang.

Cottage yang tenang menjelang sore hari. Nun jauh di atas perbukitan berdiri megah nan misteri. Air panas terus mengalir seolah tanpa habis dan disalurkan ke sekian puluh cottage yang ada di bawahnya.
Read More ..