Thursday, March 15, 2007

Doa

Ada setitik rasa haru ketika baru saja saya telepon ke rumah dan anak saya menjelaskan besok jumat di sekolahnya diadakan itikaf bagi siswa kelas 3. Tentunya kita tahu belaka bahwa saat ini baik siswa kelas 6 atau sekolah menengah kelas 3 bersiap menghadapi ujian nasional (unas). Meskipun menjadi bahan perdebatan tahun lalu namun pemerintah memutuskan kebijakan unas ini. Tentunya hal ini sah-sah saja guna standarisasi dunia pendidikan kita. Di sisi lain bagi siswa atau sekolah pada umumnya dalam menghadapi suatu momen menentukan kecuali kerja keras maka permintaan bantuan kepada Yang Di Atas adalah jalan terbaik. Sehingga kenapa anak-anak kita yang bersiap menghadapi unas SMP mengadakan semacam doa bersama guna keberhasilan menghadapi unas.

Rasa haru juga pernah menyentuh manakala perusahaan kita beberapa kali mengadakan semacam doa bersama. Di saat persaingan dunia usaha begitu ketat maka lagi-lagi selain kerja keras, doa yang tulus wajib dilakukan guna mendapat bantuan dan perkenan-NYA.

Dalam kedua kejadian tersebut saya melihat suatu niat baik dan tanpa kepura-puraan, karena praktis tidak ada suatu maksud tersembunyi misalnya. Berbeda dengan berbagai acara dan agenda tobat nasional yang berulang kali disuarakan. Selain memang ada niat tulus dari kegiatan tobat nasional namun tidak urung menyimpan tujuan lain. Katakanlah tujuan politis atau semacam kepura-puraan sikap terhadap masyarakat luas. Buktinya meskipun berbagai tobat nasional diadakan namun tanpa dibarengi suatu sikap moral tulus, benar-benar tobat dan bertekad berbuat baik bagi sesame - nyatanya belum ada hasil konkritnya.

Sejauh ini kita belum tahu persis apakah berbagai doa yang dilakukan baik oleh sekelompok kecil atau berbagai lapisan masyarakat tersebut telah diterima dan mendapat perkenan-NYA. Bahwa doa tidaklah akan berarti tanpa dibarengi sikap dan perbuatan yang selaras dengan isi doa itu sendiri.

Berbagai kejadian maupun bencana yang menimpa kita barangkali bisa menjadikan doa sebagai upaya terakhir memohon perlindungan-NYA. Pun yang paling berat justru adalah lanjutan dari doa tadi yang tidak lain adalah berubahnya sikap dan perbuatan kita. Selama ini barangkali kita terlampau lalai dan katakanlah mendzalimi sesama. Selama ini kita terlampau rakus dan menempuh berbagai cara guna mencapai ambisi dan tujuan kita. Seolah hidup hanyalah saat ini dan kenikmatan haruslah direguk sebanyak yang kita bisa. Tidak heran bila kita menjadi semacam makhluk yang haus materi, haus kekuasaan dan haus segala nafsu kenikmatan dunia. Kita tidak cukup puas dengan apa yang sudah didapat dan selalu melakukan katakanlah penyimpangan di setiap kesempatan.

Ada semacam batas dan pagar yang bisa kita jadikan semacam control manakala ambisi dan kehausan kita menguasai, yakni kewajaran dan menghormati sesame. Konsep wajar, manusiawi dan memikirkan sesame adalah bentuk pengeremen dari laju ambisi tersebut. Kita kembalikan kepada kita masing-masing apakah kita sudah cukup memikirkan sesame. Sehingga jangan sampai doa selalu kita panjatkan namun sebaliknya perbuatan masih bertentangan dengan doa itu sendiri.

No comments: