Wednesday, July 25, 2007

Indonesia Motor Show 2007



Siang tadi saya diajak teman melihat pameran rutin tahunan otomotif nasional di Senayan. Pameran ini menginjak usianya yang ke 15, atau diawali tahun sekitar tahun 1992. Seingat saya, selalu rutin saya mengunjungi pameran otomotif paling akbar nasional ini sejak tahun 1996-an. Rasanya saya sudah hapal di luar kepala materi pameran dan bahkan lay out pengaturan mobilnya. Saya ingat awal-awal pameran dulu rasanya masuk pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Namun entah sejak tahun berapa ya, sekitar 2002-an kali, pengunjung harus membeli tiket masuk.

Kali ini besarnya tiket masuk adalah 20 ribu untuk hari kerja dan 25 ribu untuk weekend. Pameran ini sendiri biasanya berlangsung selama satu minggu. Besok Sabtu, 28-Juli adalah hari terakhir pameran karena minggunya akan ada pertandingan bola piala Asia di Senayan. Takut terjadi hal tidak diinginkan maka penyelenggara pamarena- Dyandra memutuskan menutupnya hari Sabtu. Apa yang saya ingin paparkan adalah bahwa dari sisi skala pameran tidak terlampau banyak perbedaan dalam beberapa tahun terakhir. Karena ya ATPM-nya hanya itu-itu saja sementara jenis produk mobilnya tidaklah terlampu berubah banyak. Memang ada beberapa jenis mobil baru, ya haruslah namanya juga industri yang sensitive dengan desain, model, harga, fungsional dan sebagainya sehingga perlu pembaharuan model baru. Saya juga melihat bahwa pameran kali ini terlihat lesu dan kurang bergairah. Banyak penyebab mengapa animo masyarakat membeli mobil baru stagnan atau cenderung menurun.

Bulan Juli ini sebagian dana masyarakat tersedot buat biaya masuk anak sekolah. Harga mobil juga semakin mahal saja. Ditambah belum pulihnya sisi pembiayaan atau leasing mobil. Meski ada juga promo bunga rendah dari misalnya BRI, tidak urung belum menggugah keinginan membeli. Bagaimana ingin membeli mobil kalau harganya begitu tinggi. Boleh dibilang untuk mendapat sebuah produk yang layak kita harus membayar di atas 200-an juta rupiah. Tentunya memang ada kelompok pembeli mobil tersebut. Saya kira kelompok ini adalah bagian dari mereka yang memang sudah punya mobil dan ingin ganti mobil baru.

Awamnya kelompok pembeli ya hanya itu-itu saja. Sementara entry buyer jumlahnya tidaklah banyak. Tidak terlihat rombongan pengunjung bertransaksi di meja-meja pameran sebagaimana tahun 2001 – 2003 lampau. Stand guide berwajah muram, meski mencoba tersenyum dan ramah, tetap terlihat mereka tidak happy. Sayapun hanya berjalan asal dan mengikuti alur saja. Tidak ada keceriaan atau kekaguman khusus pada produk tertentu. Ya betul saya juga merasa sedikit jenuh dengan industri otomotif nasional kita. Ada sih masuk produk Proton Malaysia dan Qingqi dari China, tapi ya itu, mahal. Proton mobil buatan Malaysia yang diadopsi dari teknologi Lotus dijual di rentang 200-an juta.

Qingqi memang lebih terjangkau dengan rentang 100 sampai 200 juta juga, namun ini produk China yang saya lihat perakitannya bahkan belum rapi dan masih dipertanyakan reliabilitas dan ketersedian spare partsnya. Ada juga unjuk kebolehan mobil hybrid dari Toyota dan Honda, namun nampaknya hanya sebatas show off belaka dan belum unutk tujuan komersial. Saya enggan memberikan semacam kesimpulan dari event tahunan kali ini. Ya begitulah, pameran ini berlangsung dan pengunjung memang tetap ramai, namun ini lebih mirip acara jalan-jalan ke mall tanpa maksud membeli kecuali tujuan pengin tahu belaka.