Monday, January 19, 2009

BBM Turun-2, Tangki Pertamina Terbakar


Sebenarnya saat ini waktunya makan siang, namun karena tadi sarapanya terlambat dan menunya nasi, sayur asem, sambal, sehingga perut masih terasa kenyang sehingga mending ngetik-ngetik. Sementara kantor relative lengang, karena pada turun makan siang iseng-iseng menulis tentang kejadian dalam Breaking News Metro/SCTV semalem yakni salah satu tangki berisi 5000 kiloliter pertamina terbakar.

Kebakaran terakhir konon terjadi tahun 2002 dan tidak sebesar tangki semalem serta berhasil dipadamkan dalam waktu tiga jam. Semalam dari kebakaran jam 21.00 WIB sampai jam 01.00 masih belum berhasil dipadamkan. Sementara running text di metro menjelaskan bahwa stock pertamina aman yakni 60000 kiloliter dan aman bagi jabodetabek selama sepekan. Bahkan bila perlu akan didatangkan dari gudang lainnya untuk mensupply kebutuhan bbm di ibukota Negara.

Sementara sebagian masyarakat mulai panic dengam memenuhi tangki mobilnya di SPBU terdekat. Kalau dulu biasanya terjadi antrian panjang sampai tengah malam ketika akan diumumkan kenaikan bbm esok harinya. Itulah potret masyarakat kita yang inovatif dan dinamis serta spontan menghadapi berbagai kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Kebakaran sebuah tangki minyak bisa diartikan bermacam-macam. Yang jelas minyak memang rentan terbakar sehingga semestinya standard operating procedure sudah sedemikan safe dan berlapir-lapis sehingga kejadian kebakaran dapat dihindari. Memang masih belum jelas penyebabnya namun kejadian itu sendiri merupakan fenomena yang menarik. Apalagi ini hanya berselang 3 hari dari pengumuman pemerintah tentang penurunan bbm dari harga lima ribu menjadi empat ribu lima ratus per liter untuk jenis premium. Apakah tangki perlu dibakar agar stock menurun dan langka. Setelah langka apa lantas harga biar naik lagi. Mungkin salah satu hipotesa konyol seperti ini. Atau karena harga turun sebagai bentuk protes karena terkurangi margin-nya maka tangki dibakar, ha ha bentuk andai-andai konyol lainnya. Hush yang jelas perusahaan plat merah sedang dapat musibah ini malah ditambah-tambah. Ya guyonan duikit lah biar ngga cepet tua dan sedikit melupakan tumpukan hutang kita, he he

Bisa saja masih akan muncul beberapa hipotesa parodi lainnya mengingat ini merupakan depo pertamina yang besar dan penting. Lokasinya di Jakarta pula, sebuah ibukota Negara yang tingkat keamanan mestinya paling tinggi. Sehingga si jago merah yang datang tak diundang dan membakar tangki nampaknya memang terlampau menyita perhatian dan keheranan publik. Hari gene tangki dibakar-bakar, mending mbakar tumpukan sampah di pinggiran kota biar mengurangi beban lingkungan.

Pertamina - lagi-lagi perhatian akan mengarah ke sana. Ada apa dengan pertamina ini. Ada apa dengan pengelolaan salah satu perusahaan Negara paling bergengsi tersebut. Dengan terjadinya musibah kebakaran apa yang ingin diketahui masyarakat barangkali konsep 5W 1H, he he kayak nulis blogs. Masyarakat ingin tahu What, Why, When, Where, Who dan How terjadinya kebakaran tangki. Apa penyebabnya, mengapa sampai terjadi kebakaran, kapan, dimana, siapa yang bertanggung-jawab dan bagaimana. Termasuk jaminan apa kejadian itu tidak perlu berulang. Pertamina barangkali perlu menjelaskan secara terbuka bertumpuk daftar pertanyaan tersebut agar public mengerti kalau memang itu suatu musibah. Dan terpenting bagaimana Pertamina memberikan jaminan kejadian tidak akan terulang lagi.

Siapa ya yang musti bertanggung jawab. Kalau dijelaskan Security atau staf yang menjaga tangki, wah mereka kan hanya frontliner atau orang yang disuruh. Penanggunjawab ya mestinya orang yang memiliki wewenang mengelola tangki itu. Kemudian apa bentuk pertanggungjawaban dari si penganggungjawab tersebut. Apakah cukup minta maaf, atau bilang ya ini kan manusiawi atau bentuknya apa getu lho,,

That’s it mudah-mudahan berbagai bentuk fenomena “nasional” mendapat cukup perhatian dari yang berwenang di Pertamina dan muaranya dari pemerintah Negara Republic Of Indonesia agar kita belajar semakin dewasa dan menghormati apa yang disebut pertanggungjawaban publik. Jadi kalau kita terbiasa minta anak-anak TK atau SD untuk grow up dan menjadi besar maka tidak berlebihan kita juga bilang ke pertamina, let’s grow up pal,,,do not be kid any longer, he he

No comments: