Wednesday, January 07, 2009

Israel Attack


Hampir dua minggu ini kita kembali dikejutkan dengan penyerangan Israel atas wilayah Palestine di jalur Gaza. Penayangan metro TV beberapa waktu sebelumnya menggambarkan bahwa Wilayah Palestine pada awalnya terbentang luas sementara wilayah Israel berukuran sangat kecil. Beberapa tahun berselang Israel dengan operasi agresi-nya mulai memperluas wilayah.

Hanya dalam hitungan tahun wilayah Palestine mulai tergerus dan terkuasai. Hal ini berjalan terus menerus dan hari ini sungguh kontras wilayah Israel menjadi begitu luas sementara Palestine tinggal sepotong. Jikalau jalur gaza bisa dikuasai maka bisa diperkirakan dalam beberapa tahun gantian Palestine yang makin kehilangan wilayahnya. Mungkinkah sebuah Negara berdaulat tidak memiliki wilayah. Apakah serangan Israel memang dimaksudkan untuk memusnahkan bangsa Palestine ? Apapun alasannya menyerang rakyat sipil dan anak-anak sungguh menyalahi hak asasi dan hak hidup umat manusia. Hal ini harus dicegah dan dihentikan.

Sudah menjadi rahasia dunia bahwa Israel memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Negara adikuasa Amerika Serikat. Di Koran beberapa hari kemarin diberitakan upaya dewan keamanan untuk menghentiksan penyerangan Israel kembali diveto dan digagalkan Amerika Serikat- sekutu terdekat Israel. Israel atau yang lebih umum disebut sebagai kaum Yahudi konon menguasai berbagai asset dan bisnis internasional. Bukan rahasia lagi kalau Yahudi ini kesohor dengan otaknya yang brilian serta berhasil mendominasi bisnis dan penguasaan ekonomi di Negara Amerika Serikat. Hal ini menyebabkan pengaruh dan kekuatan Yahudi atas Amerika sungguh besar dan logis kenapa sertiap upaya dewan keamanan selalu digagalkan oleh Amerika Serikat. Negara Inggris dan Prancis- yang juga sekutu Amerika tidak kurang berteriak keras dan minta agresi Israel atas Palestine dihentikan, namun nampaknya himbauannya tidak digubris oleh Amerika. Jelaslah bahwa Amerika hanya takut kepada Israel/Yahudi ketimbang dengan Negara lain manapun. Amerika, yang saat ini memiliki kekuatan bersenjata yang paling hebat di dunia sering menggunakan standard ganda dalam kebijakannya. Bila Irak yang menyerang Kuwait tanpa ampun langsung diserbu. Namun berunlangkali Israel menyerang Palestine, arguimennya jadi berbeda dan selalu membela Israel, sungguh mencolok sikap yang bertolak belakang ini. Negara Irak-pun belum lama ini diagresi dan diduduki oleh pasukan Amerika Serikat. Alasannya sederhana yakni Irak dituduh mengembangkan persenjataan nuklir/biologi/kimia. Dengan alasan inilah Irak digempur habis dari laut, darat dan udara, persis seperti Israel menyerbu Palestine di jalur Gaza ini. Terbukti setelah Irak dutaklukantidak ditemukan persenjataan yang dituduhkan. Dunia-pun mahfum belaka bahwa motif Negara adikuasa ini hanyalah ingin menguasai sumber minyak di Irak.

Penyerangan Israel atas Palestine patut disayangkan dan bahkan dikutuk. Sampai hari ini lebih dari 400 orang termasuk wanita dan anak-anak tidak berdosa meninggal sia-sia dihantam peluru dan rudal milik Israel. Ribuan lainnya menderita luka ringan dan parah akibat penyerangan membabi buta dari Israel. Beberapa Negara Arab pun menyerukan gencatan dan penghentian serangan seperti Mesir dan Iran. Apa daya dengan dukungan penuh dari Amerika maka seruan dan kutukan internasional ini ibarat embekan kambing belaka sementara Yahudi terus berlalu. Yang patut disayangkan adalah beberapa Negara Arab sekutu Amerika yang mestinya bisa berperan lebih banyak namun cenderung pasif. Saudi Arabia, Turki dan Kuwait adalah negara yang umumnya kaya minyak namun cenderung kurang bereaksi karena tidak dipungkiri ketiganya merupakan sekutu Amerika Serikat. Saat Kuwait diserang Irak waktu itu Amerika langsung turun dan menghajar Irak. Beberapa Negara arab lain seperti Yordania, Libanon, Suriah, Oman, Yaman dan Qatar juga belum keliahatan upaya konkritnya untuk menghentikan penyerangan Israel. Barangkali seluruh dunia menyadari bahwa Amerika-lah penyebab Israel dengan berani , leluasa dan semena-mena melakukan agresi atas Palestine. Andaikan tidak ada dukungan Amerika tentu Israel akan berpikir seribu kali untuk menyerang Palestine.

Sejarah mencatat banyak pertikaian yang terjadi di negara timur tengah umumnya berjalan dalam rentang waktu yang panjang dan melelahkan. Belum lupa konflik berkepanjangan yang terjadi antara Irak dan Iran beberapa waktu sebelumnya. Juga pertikaian Irak dan Kuwait dengan campur tangan Amerika Serikat. Sementara dunia juga memperkirakan bahwa ke depan akan terjadi perebutan sumber energi yang sangat serius. Usai ambruknya Uni Soviet menjadi beberapa bagian maka negara dengan kekuatan bersenjata raksasa seperti Amerika dan China diperkirakan bakal bersaing memperebutkan dan mengamankan sumber energi yang dikenal dengan sebutan emas hitam/minyak mentah. Apakah motif Israel menyerang dan nampaknya ingin membuat punah bangsa Palestine juga sebagian karena motif minyak, untuk beberapa % mungkin benar meski permusuhan keduanya sudah dimulai sejak lama. Disamping faktor sejarah berkepanjangan kaum Yahudi dengan aliran zionis-nya memang bertekad menyebarkannya ke seluruh dunia dan bila perlu dengan kekuatan senjata. Tidak dipungkiri Amerika sebagai pemasok senjata utama ke Israel turut berperan dalam perang ini.

Dengan adanya PBB sebagai induk organisasi dunia yang peran utamanya menjaga perdamaian dunia maka serangan Israel apapun alasannya semestinya harus segera dihentikan. Jangan sampai ratusan atau ribuan nyawa tidak berdosa menjadi tumbal nafsu dan kebiadaban dari suatu Negara atas Negara lainnya. Siapapun yang mengaku sebagai manusia yang beradab dan bermoral patut mengutuk serangan semena-mena ini. Termasuk ratusan Negara beradab lainnya yang ada dimuka bumi ini harus secepatnya menghentikan pertikaian tersebut dengan segala cara serta berapapun harga yang mesti dibayar demi kemanusiaan. Pemerintah Amerika harus dilobi, disadarkan, didebat -bila dunia memang tidak memiliki cukup kekuatan fisik menghadapi- bahwa tindakannya selalu membela Israel sungguh bertentangan dengan kemanusiaan sebagaimana selalu dia dengungkan. Rakyat Amerika sendiripun banyak yang menghujat dan tidak setuju serangan atas Irak beberapa waktu lalu. Semestinya masih banyak rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh rakyat Amerika ketimbang pertimbangan politis pemerintahanya.

No comments: