Thursday, March 04, 2010

Wayang


Dyah Utari adalah satu-satunya putri di kerajaan Wirata, dan ia adalah bungsu dari empat bersaudara keturunan Prabu Matswapati. Usia dengan kakak terdekatnya, Wratsangka, terpaut jauh. Ia menjalin hubungan dengan Angkawijaya secara rahasia. Dan ketika diketahui oleh Siti Sendari, istri pertama Angkawijaya, telah menikah dengan Angkawijaya tanpa diketahui Sendari sehingga sempat berselisih paham. Akibatnya terjadi insinden Gathotkaca yang tanpa sengaja membunuh pamannya sendiri, Kalabenda, yang tidak bisa menjaga rahasia itu. Dari Angkawijaya Dyah Utari melahirkan penerus takhta Hastinapura bernama Parikesit.

Itulah sepenggal kisah yang diambil dari buku Tokoh Wayang & Sislislahnya karangan Mahendra Sucipta. Buku ini diteritkan oleh Penerbit Narasi, Jl. Irian Jaya D-24, Perum Nogotirto II, Yogyakarta Hadiningrat. Dalam buku tersebut dikisahkan bagaimana watak dan karakter dari setiap tokoh wayang. Buku tersebut juga menjelaskan senta andalan dari setiap tokoh misalnya Bima dengan kuku Pancanaka dan Gada Rujakpala-nya. Gambaran karakter tersebut sering memiliki nilai atau strategi yang tinggi seperti pada halaman 74 dijelaskan tentang sebuah kisah menarik. Batari Aswani adalah bidadari di Kayangan Suralaya. Ia diperistri Kumbakarna, adik Dasamuka. Kala itu Dasamuka datang ke kayangan dan membuat kerusuhan. Membuat kalang kabut dewa-dewa yang mendiami kayangan. Demi menghentikan ulah Dasamuka, Batara Guru mengajukan tiga bidadari kepada Dasamuka asalkan ia berhenti berulah. Dasamuka menepati janjinya. Tiga bidadari yang diberikan adalah Batari Tari yang diperistri Dasamuka, Batari Aswani diperistri Kumbakarna dan melahirkan raksasa kembar- Aswani Kumba dan Kumba-kumba serta Batari Triwati yang diperistri Gunawan Wibisana.

Cerita wayang ini sungguh menarik dan sangat kaya dengan berbagai kisah kepahlawanan, kstaria, maneuver, strategi, nafsu, kebaikan, keharmonisan maupun angkara murka. Bahkan, pada halaman 26 terdapat pula kisah yang tidak kalah modern dibandingkan saat ini seperti kisah percintaan sedarah antara kakak dan adiknya. Alasrenggi adalah Putra hasil hubungan inses antara Prabu Jatagimbal dengan adiknya Dewi Jatagini. Kisah seorang kakak yang menodai adiknya inilah yang memunculkan rasa dendam Alasrenggi terhadap Arjuna. Dalam lakon Kuntulwilanten dikisahkan kalau Prabu Jatagimbal jatuh cinta pada Wara Subadra, sementara Dewi Jatagini jatuh cinta pada Janaka. Keduanya menyamar sebagai Janaka dan Subadra. Sesudah sempurna keduanya pergi mencari jantung hati masing-masing. Lantas keduanya bertemu di hutan dan karena menyamar mereka justru menjadi lupa diri, timbul birahi dan memadu kasih. Akibatnya Jatagini hamil dan disitulah penyamaran mereka terbongkar. Jatagini melahirkan anaknya yang dinamaikan Alasrenggi. Singkat cerita Alasrenggi berhasil menjadi raja dan menuntutu balas atas kematian kedua orang tuanya terhadap Janaka. Namun akhirnya Alasrenggi binasa oleh tangan Bambang Irawan Putra Janaka.

Pagi itu cuaca cerah dan nyaman. Burung berkicau terdengar menandakan masih lumayan hijau lingkungan dan cukup pepohonan. Usai subuh paling pas keluar rumah mencari hawa segar. Hmm sungguh tiada tara nikmat yang dilimpahkan Sang Pencipta atas keindahan alam ini. Jalan santai, jogging, aerobic dipagi hari ditemani sebotol aqua, sangat menyegarkan. Langit cerah, meski tidak seindah beberapa tahun lalu. Dulu langit berwarna biru indah, sekarang semakin banyak udara yang terpolusi dan menutupi birunya langit. Dikejauhan terlihat kokoh memanjang jalan tol Semarang – Solo yang sedang dibangun. Kebetulan titik ini adalah perpanjangan dari tol yang sudah ada menyambung dengan tol baru ke-arah Solo. Jalan santai satu jam sungguh menyegarkan badan. Sekitar jam 06 lebih lima menitan meneruskan membaca buku kisah para wayang tadi, yang semalam sudah dibaca setengahnya. Masih terdapat sekitar 200-an tokoh wayang yang belum di baca namun bisa selesai dalam sejam lebih. Hm jam 07.20 mesti mandi dan berkemas serta jam 07.30 sudah harus keluar rumah. sayup-sayup dari sebuah rumah terdengar lagunya Dewa, akulah Arjuna, aaaa,,,,