Friday, June 02, 2006

Gempa Jogya

Pagi itu saya berada di RS Hermina Bekasi ketika di TV ditayangkan telah terjadi gempa bumi di Bantul, Jogyakarta. Gempa dengan kekuatan 5,7 pada skala Ritcher telah meluluhlantakkan Bantul, Jogya, Klaten dan sekitarnya. Kabarnya gempa dirasakan secara luas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu hebatnya goncangan gempa sehingga lebih dari 5000 saudara kita di daerah tersebut meninggal ditambah puluhan ribu rumah roboh. Datangnya gempa sungguh tidak terduga sama sekali bakal melanda kota yang terkenal dengan pariwisata dan mendapat sebutan Daerah Istimewa, dimana gubernurnya sekaligus merupakan seorang raja dari daerah tersebut yang bergelar Hamengku Buwono. Gempa yang mengguncang juga menjadi sangat mengejutkan dikala kita setiap hari dalam sebulan terakhir disuguhi kegiatan gunung Merapi yang menyeburkan lava panasnya. Gunung tersebut juga berlokasi di sekitar Jogya serta bahkan sudah dalam status awas dan siap meletus meski sampai hari ini baru menyeburkan lava panas sejauh dua atau tiga kilometer dari kawahnya.

Belum lupa kita dengan bencana alam tsunami di Aceh yang merenggut sekitar 170 ribu saudara kita meninggal, kembali kita terhenyak dengan bencana gempa bumi. Dua musibah terbesar beruntun datang dan menguji kita sebagai rakyat maupun umat manusia yang beragama serta dianugerahi sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai umat beragama tentunya semua bencana yang datang merupakan cobaan yang harus kita hadapi dengan tegar. Air mata dan duka sah saja kita deraikan namun tetap harus penuh kesabaran dan ketabahan, bahwa tidaklah bencana dicobakan melebihi batas kemampuan kita, demikian para pemimpin agama mengajarkan.

Jogya, Klaten, Solo- tiga kota yang terkenal dengan daerah yang aman, nyaman, adem penuh pepohonan, sawah dan perbukitan menjadikan kota tersebut impian bagi kita menghabiskan masa tua pensiun kita. Rakyat dari kota tersebut juga terkenal ramah dan kental dengan tradisi kegotongroyongan. Hal ini spontan terjungkir-balik dengan datangnya musibah gempa 27-Mei kemarin. Lantas apakah musibah yang datang artinya akhir dari segalanya? Tentunya justru sebaliknya. Bahwa dimanapun kita tinggal dan berdiri, kita harus selalu siap dan waspada akan datangnya bencana alam baik berupa gempa, banjir, gunung meletus, angin badai yang tak terduga. Pun Negara kita memang berlokasi di daerah rawan gempa, rawan banjir, badai, gunung merapi dan seterusnya.

Kewaspadaan kita juga tentunya harus dituangkan dalam bentuk kegiatan nyata agar bila datang suatu musibah, kita secara sigap mengatasi dan memulihkan baik korban dan daerah bencana secepatnya. Sudah dirasa sangat perlu keberadaan suatu badan atau institusi baik pemerintah maupun swasta yang menangani datangnya setiap bencana yang datang. Institusi ini haruslah dilengkapi dengan tenaga trampil, peralatan pendukung, logistic, dan pos/lokasi di daerah rawan gempa. Jangan sampai penanganan gempa hanya berjalan populis dan tanpa standard yang baku dan teruji.

Belajar dari bencana tsunami dua tahun silam sampai saat ini masih diberitakan kondisi pemulihan berjalan tersendat dan rakyat korban bencana masih banyak yang belum terpulihkan sebagaimana mestinya. Gempa Jogya juga serupa dimana sudah sekian hari kejadian masih banyak korban yang belum tersentuh oleh bantuan dasar maupun penanganan medis. Kita akan bisa melihat pemulihan dari gempa Jogya ini, apakah sama parahnya dengan pemulihan tsunami Aceh atau bisa lebih baik lagi.

Yang terpenting lainnya adalah kesadaran dan kewaspadaan dari kita semua bahwa bumi yang kita pijak bukanlah selalu aman tentram namun setiap saat bakal tidak terduga datangnya berbagai bencana alam. Bila kesadaran dan pemahaman sudah tertanam baik maka segala tindakan dan perilaku kita akan selalu memperhitungkan faktor bencana alam ini. Semoga sebagai bangsa kita semakin dewasa dan mampu menyelesaikan segala permasalahan sebaik-baiknya.

No comments: