Monday, March 05, 2007

Crisis On School

Sudah menginjak dua bulan saya menikmati siaran parabola dari Indovision. Sejauh ini cukup memuaskan untuk kualitas dan kinerja siaran. Namun kualitas dan materi acaranya masih so so, ada yang bagus namun cukup sering diulang-ulang. Masih dimaklumi karena siaran selama 24 jam nonstop tentunya tidak terlampau salah secara acak dilakukan repeat atas suatu program yang bagus. Sebut box office movies satu dua judul macam World Of War ataupun Descent misalnya, okelah diulang satu dua kali.


Saya justru pengin sharing sebuah acara dari Metro TV yakni Oprah Winfrey, meskipun ada di Indovision, tapi semalem disiarkan tayangan “tunda” tahun 2005, atau dua tahun lalu. Yang cukup menggelitik dan menyita adalah Oprah kali ini bercerita mengenai “buruknya” pendidikan di Amerika. Tahun sebelumnya selalu siswa dari negeri paman Sam menjadi langganan juara pada setiap contest internasional. Barangkali hal ini tidak terbantahkan bahwa siapa menyangkal di sana gudangnya sumua sumber daya yang dibutuhkan untuk melahirkan intelektual hebat. Namun beberapa tahun belakangan, versi Oprah untuk contest matematika internasional Amerika terpuruk di ranking 24 !! Luar biasa merosotnya.

Bersama dengan majalah top “Time” Oprah menggelar survey bagi ratusan atau ribuan siswa SMU. Hasilnya sangat mengejutkan bahwa setiap 9 detik terdapat satu siswa drop out. Kita tentu terhenyak dengan kondisi tersebut. Bila kejadian itu menimpa katakanlah Negara Afrika atau Asia, masih biasa dan tidak mengagetkan, but this attacks on such power country like USA, really amazing. Dalam survey lapangan sempat digambarkan profil siswa yang putus sekolah. Umumnya mereka putus karena berbagai alasan seperti pemikiran tidak butuh sekolah/ijazah, kebosanan/jenuh atau factor narkoba misalnya. Barangkali juga karena standard kemakmuran mereka tinggi maka anak drop out SMU –pun masih bisa bekerja dengan gaji cukup. Katakanlah dari mereka cerita kerja di toko saja dibayar $6 perjam, atau bila dikali 8 jam sudah $48 atau setara dengan 480 ribu, hmm masih luar biasa untuk ukuran kita.

Seorang kepala SMU dalam wawancara bahkan mengatakan dari sekitar 300 siswa SMU kelas tiga yang siap ujian bakal hanya lulus 200-an. Hmm berapa tingkat ketidaklulusan yakni sekitar 30%. Kalau ini terjadi di India atau Rwanda, masih make sense, but this occurs in USA man,,

Berikutnya juga digambarkan kondisi fisik satu dua SMU yang jaraknya dari Gedung Putih hanya beberapa mil. Apa yang digambarkan adalah cukup mengenaskan untuk Negara semaju Amerika, karena di dalam sekolah banyak WC mampet, kran mampet, tembok melepuh karena gas, plafon lapuk karena bocor dan sebagainya. Kondisi yang sama juga dialami sebuah sekolah SMU elit berlokasi beberapa mil dari Gedung DPR. Betapa dari luarnya sekolah tersebut keren dan konon paling favorit namun dalamnya sama, banyak ruangan jorok dan tembok-tembok mengelupas.

Oprah bagaimanapun cukup salut dengan tanggapan pemerintah karena begitu mendapati kondisi sekolah yang memprihatinkan pemerintah langsung mengalokasikan 1 billion dollar untuk merenovasinya. Berapa dalam rupiah kira-kira yaa, sekitar 9 triliun, luar biasa untuk kita namun mungkin biasa saja bagi mereka.

Benang merah yang bisa kita diskusikan barangkali adalah bahwa kemajuan sebuah Negara yang sebenarnya bisa merupakan katakan lompatan deret ukur, yaitu pencapaian saat ini yang sudah maju bisa mengantarkan lompatan jauh ke depan ketimbang pencapaian yang biasa, kadang tidak sepenuhnya berlaku. Artinya tetap ada peluang mengejar ketinggalan. Sehingga hal ini dapat menambah semangat kita misalnya untuk berkinerja lebih baik lagi. Ini jelas satu peluang bagi kita, bila kita menyadari. Namun kontra produktifnya sering kita terbelit dengan permasalahan internal tiada habisnya. Seputar anggaran yang terbatas, kondisi fisik sekolah yang rusak dan klasiknya masalah kurikulum serta content materi SMU kita yang terlampau luas dan menyebar.

Terlepas dari semuanya nampaknya semangat (SPIRIT) baru patut terus kita cetus dan letupkan menuju “our sustainable attainment”. Selamat bekerja !

2 comments:

tuhu said...

benerrrr, Amerika terkena sindrom negara-ngera maju yang penduduknya jadi males. Kalo gak hati-hati bisa dikalahkan ama India dan Cina. Mereka kan sangat mendominasi sekolah-sekolah terbaik di sana...

Trio Adhitya said...

terima kasih infonya..

Visit my link to st3telkom.ac.id