Friday, June 06, 2008

BBM

Kenaikan BBM lagi dan masyarakat semakin berat menanggung beban hidup. Pengangguran semakin banyak dan sulit mencari pekerjaan dan penghidupan. Berita bunuh diri anggota masyarakat karena kemiskinan sudah merupakan berita biasa di media. Ibu yang tega membunuh anaknya dan kemudian membunuh dirinya disebabkan himpitan ekonomi yang makin sesak. Ibarat hilang pegangan manakala Pemerintah dengan tega menaikkan harga bbm dengan argumen sakti untuk mengurangi subsidi. Harga minyak dunia melambung tinggi dan mendekati 200 dollar per baler adalah salah satu biang utama. Sementara harga bbm dipatok 95 dollar di anggaran pemerintah. Selisihnya menjadi beban subsidi pemerintah. Tidak kuyrang dari berbagai pakar mengatakan bahwa pemerintah masih punya opsi lainnya ketimbang sekedar menaikkan bbm. Lha kalau setiap kekurangan anggaran pemerintah selalu rakyat yang menanggung lantas gunanya pemerintah untuk apa.

Pakar energi mengatakan dengan adanya kenaikan harga minyak dunia mestinya kita mendapat berkah tambahan uang karena kita penghasil minyak. Semisal kebutuhan kita adalah 1,5 juta barrel maka yang dapat kita produksi hanya 900 ribu barrel. Dus kita harus import 650 ribu barrel. Import inilah yang menyedot anggaran pemerintah. Kenapa tidak ditingkatkan produksinya, karena belum mampu. Dan kenapa belum mampu sementara sudah merdeka puluhan tahun, ya karena belum mampu. Ktidakmampuan inilah bentuk dari kinerja Pertamina yang sudah puluhan tahun mengelola produksi minyak negara. PLN juga perlu dilihat manakala sumber listriknya masih menyedot minyak sebagai input-nya. Banyak pakar mengatakan PLN harus meminimalkan penggunaan minyak dan menggantinya dengan gas alam, batubara atau energi lainnya seperti air dan matahari yang melimpah.

Yang mampu menambang minyak adalah perusahaan minyak dunia semacam Exxon, Caltex, Conoco dan sebagainya. Masak sih kita ngga mampu meningkatkan produksi minyak sementara kandungan minyak-nya memang ada di perut bumi. Konon pertamina bukanlah penambang minyak terbesar namun hanyalah nomor empat atau lima di bawah penambang minyak asing. Sementara kandungan minyak milik negeri ini setiap hari8nya disedot oleh penambang minyak asing dan berapa yang disetor ke negara nampaknya kurang membantu. Buktinya kita tidak kuat menanggung subsidi.

Hitungan pakar ekonomi Kweek Kian Gee mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu menaikkan harga minyak karena subsidi yang digembar gembor hanyalah hitungan angka di anggaran. Subsidi itu hanyalah abstrak dan gambaran belaka. Masih ada jalan lain ketimbang menaikan harga minyak.

Mahasiswa yang masih jernih pemikirannya mengusulkan agar kita melakukan moratorium hutang yang cicilannya menyedot sepertiga anggaran negara. Sementara seruan banyak kalangan adalah gerakan efisiensi dari birokrat pemerintah dan BUMN-nya termasuk Pertamina dan PLN.

Ada juga yang menyebut adanya mafia minyak yang sudah bertahun tahun menneggak nikmatnya jaringan distribusi minyak. Pemerintah dihimbau untuk segera menertibkan geng mafia ini yang membebani distribusi dan produksi minyak. Ada juga yang menuduh kenaikan minyak adalah pesan sponsor dan kepentingan investor minyak asing.

Apapun itu yang jelas minyak harus segera dikelola oleh negara entah dengan melakukan perundingan bagi hasil dengan investor asing termasuk nasionalisasi minyak. Saat ini dibutuhkan komitmen pemerintah untuk membela penderitaan dan beban rakyat yang semakin berat melalui pengelolaan minyak oleh bangsa sendiri sebagaimana amanat presiden pertama Soekarno!!

No comments: