Thursday, May 04, 2006

Underestimate

Seorang eksekutif perusahaan kedatangan tamu di ruangannya yang megah nan luas. Sang tamu terlihat sederhana, lugu, tanpa dasi, sepatu tidak mengkilap serta bersikap kalem. Sang eksekutif mengernyitkan dahi, muka agak mendongak dan mengerling tamunya. Seingatnya dia mengundang konsultan beken untuk membantu dan memberikan masukan atas berbagai masalah perusahaan. Dengan sopan sang tamu memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa ia adalah staf dari konsultan yang diundang serta menanyakan kapan bisa mulai saling presentasi. Masih dengan wajah muram sang eksekutif sedikit malas memulai agenda hari itu, dengan gaya elegan dan tekanan suara layaknya petinggi perusahaan, eksekutif mulai membuka presentasinya. Beragam table, grafik, data yang tentu saja disusun oleh bawahannya ditampilkan. Semuanya berjalan biasa saja. Giliran konsultan yang melakukan presentasi, dengan bahasa tertata rapi, presentasi yang padat namun sistematis, dipadu wawasan dan pengetahuan yang hebat serta berbagai rekomendasi dan alternatif solusi atas masalah perusahaan, perlahan terhapus keraguan sang eksekutif dan berubahlah cara melihat tamunya yang “sederhana” namun menyimpan bobot pemikiran yang tinggi.

Meremehkan, itulah kata yang menggambarkan betapa cara pandang, penilaian, subyektifitas maupun anggapan seseorang atas lainnya. Sudah jamak berlaku di masyarakat kita bahwa penampilan fisik, cara berpakaian, desain pakaian, sepatu mahal, parfum, dasi maupun atribut fisik lainnya kadang mendominasi penilaian. Tidak jarang hal ini banyak menimpa diantara kita. Bila kebetulan kita bertemu entah itu pejabat tinggi, CEO perusahaan besar, BUMN atau golongan the haves lainnya, kita kadang merasa risih dengan lirikan mereka ke sepatu kita, ke pakaian kita yang memang sederhana dan apa adanya. Celakanya lagi penilaian ini kadang merembet ke lainnya—hmm dengan tampilan seperti itu paling dia hanya staf yang tidak tahu apa-apa, dan seterusnya.

Konon budaya kita adalah budaya agung yang ramah, tamah, sopan, suka membantu, menghargai, kekeluargaan dan seabreg budaya mulia lainnya. Namun kadang kita juga menjadi bangsa yang suka mencampuri urusan orang lain, meremehkan, suka bergunjing, suka memandang rendah dan sebagainya. Generasi muda kita barangkali menyebutnya, munafik—katanya sopan nan ramah kok juga suka memandang rendah orang lain.

Meremehkan bisa jadi merupakan sifat alamiah setiap orang, sebagaimana sifat rendah hati, sombong, pamer maupun sifat bawaan lainnya. Setiap orang juga tentunya tidak akan terlepas dari sifat-sifat bawaan tersebut. Namun barangkali kita bisa mengatur dan menampilkan sifat sifat tersebut secara arif. Pada konteks di atas dimana seorang eksekutif perusahaan yang sukses dan berhasil mencapai tingkat pencapaian materi yang tinggi, meremehkan bisa jadi alamiah sejauh segera dikoreksi dan perlahan dihilangkan. Namanya juga orang sukses dengan segala hal yang dimiliki wajar toh melihat secara remeh kepada orang berpakaian sederhana yang alim —pada kesempatan pertama.

Kadang-pun meremehkan tidaklah semata buruk. Misalnya dalam pertandingan olahraga atletik lari sprint Olimpiade, olahragawan dari negara anu guna mendorong semangat kemenangan, memandang lawan lainnya remeh—ah sayalah yang tercepat dan mereka semua ngga ada apa-apanya buat saya. Namun secara umum bahwa sifat meremehkan memang kurang baik karena terbiasa meremehkan akan segera diikuti sifat sombong kita, sifat merasa diri lebih segalanya dan hal ini mendorong kita tidak bijak. Sifat-sifat yang kita miliki kadang bakal menampilkan dan menggambarkan kita seperti apa. We are what our characters do. Jagalah dan kendalikan segala sifat-sifat tersebut secara bijak dan pandanglah manusia lainnya semulia kita juga, dan janganlah attribut fisik mengaburkan penilaian kita.