Friday, August 04, 2006

Batam

Habibie pernah bermimpi menjadikan Batam sebagai Singapore-nya negara kita. Konon ada teori balon kembar dimana dua balon berdampingan maka besarnya balon karena gelembung udara terhubung bakal cenderung sama. Batam dan Singapore diibaratkan dua balon dimana balon Singapore sudah demikian besar sementara Batam masih kecil. Waktupun berjalan dan desain dimulai. Brbagi investor local maupun asing diundang untuk mendirikan pabriknya di Batam. Berbagai fasilitas disediakan seperti kemudahan birokrasi dan insentif pajak misalnya.

Awalnya teori tersebut sempat berjalan dan mulailah banyak perusahaan berdiri di Batam. Hampir terlihat nampaknya Batam bakal menjadi balon kembar dari Singapore sampai beberapa tahun berjalan. Namun semudah itukah menjadikan balon Batam menggembung layaknya balon Singapore?? Hmm cerita klasik kalau kita yang selalu cenderung menyukai yang serba instant sering gigit jari karena hasilnya jauh panggang dari api.

Mulailah kondisi Batam menunjukkan wajah aslinya. Alih-alih menjadi kembaran Singapore ini malah mulai berantakan. Jumlah pabrik memang masih banyak namun banyaknya perumahan liar dan semrawutnya kehidupan masyarakat ditambah membajirnya pendatang mulai mendominasi wajah Batam. Tahun 2002 saya sempat datang ke Batam selama dua hari dalam rangka seminar. Saya dikirim perusahaan untuk menghadiri seminar mengenai regulasi wartel maupun perangkat wartel yang sebagian masih diimpor.

Hmm ternyata Batam bukanlah sebagaimana yang diharapkan maupun kondisi tahun-tahun awal programnya. Sopir taxi yang cukup dibayar 30 ribu untuk mengelilingi Batam banyak cerita bahwa dulu turis yang datang ke Batam adalah eksekutif dari Singapore dan Malaysia. Karena eksekutif maka banyaklah devisa yang berhasil mengucur dan menghidupkan ekonomi masyarakat Batam. Namun belakangan boro-boro eksekutif yang datang, ternyata yang berkunjung hanyalah sopir taxi juga dari negeri seberang itu. Sementara eksekutifnya lari ke China atau Malaysia. Hmm prihatin nian nasib pulau kita ini. Memang tidak dipungkiri bahwa Batam ibarat pulau terlantar yang kurang tertata baik.

Rumah liar dimana-mana memberikan pemandangan berantakan, sementara hutan nan hijau banyak ditebangi dan tanah-tanah mulai gundul mulai menimbulkan banjir. Kepulauan yang semula alami dan hijau perlahan tergerus menjadi gersang dan permukaan tanahnya terancam gundul. Sudah suhu kotanya panas, lalu lintas meski tidak semacet Jakarta namun terasa mulai kurang nyaman.

Semalam bersama sopir taxi Batam memberikan banyak pengalaman menarik. Mengelilingi pulau dengan kehidupan malam yang kental dominasi kota “hiburan” tempat siapa saja datang dan menaburkan uang yang dimilikinya demi kesenangan singkat.

No comments: