Tuesday, September 05, 2006

Kendaraan

Konon penjualan kendaraan roda empat nasional adalah sekitar 300 sampai 500 ribu per tahun. Geliat industri otomotif nasional dimulai sejak tahun 1970-an dan nampaknya mencapai puncaknya sekitar tahun 1995 sampai tahun 2000-an. Bila kita ambil penjualan kendaraan nasional sejak tahun 1980 saja maka selama 25 tahun dengan jumlah kendaraan terjual per tahun 300 ribu maka akumulasinya menjadi 7,5 juta unit. Dan bila panjang kendaraan anggap 4 meter maka dibutuhkan setidaknya jalan sepanjang 30 ribu kilometer atau setara dengan 30 kali panjang pulau jawa. Praktis dengan jumlah kendaraan segitu banyak bila tanpa diimbangi pembangunan panjang jalan akan berdampak semakin macetnya jalanan.

Jakarta, adalah kota dimana kendaraan terkonsentrasi. Pernahkah anda bayangkan bila di depan rumah kita saja sudah macet, sehingga sekedar untuk keluar pagar saja terhalang antrian kendaraan. Tidak percaya, nyatanya ini terjadi di berbagai bagian kota. Sebagai masyarakat kita kadang bertanya kemana saja pajak kendaraan yang jumlahnya triliunan rupiah kok kondisi jalan semakin macet ditambah kondisinya yang semakin rusak.

Ada anomali disini manakala kendaraan dibuat dan dipasarkan sebagai bukti kemajuan jaman dan kemudahan, namun di sisi lain kemacetan yang diciptakan menimbulkan biaya social dan beban emosi masyarakat. Ibaratnya untuk pergi sejauh 5 kilometer naik mobil bahkan kadang lebih lambat ketimbang naik sepeda onthel misalnya.

Kendaraan sebagai salah satu ikon suatu pembangunan serta sarana transportasi yang semestinya menjawab hambatan waktu, jarak, tenaga dan biaya sering mulai bergeser menjadi bagian dari hambatan itu sendiri. Di berbagai sudut jalan selalu berjejal yang namanya kendaraan dan menjadikannya sumber masalah social kita.

Mestinya ada yang harus diluruskan di sini bahwa pembangunan memang haruslah seimbang dan sejalan. Percuma menjual 400 ribu kendaraan per tahun bila sarana jalan terbengkelai. Alih-alih menikmati kemudahan berkendara justru timbul masalah dengan transportasi kita. Banyak pakar mengatakan bahwa sebaiknya dikembanagkan mass rapid transport semacam subway, busway atau monorail. Hal ini yang dilakukan di Negara lain ketika jumlah kendaraan pribadi semakin banyak dan jalanan tidak lagi dapat menampung jumlah kendaraan.

Namun bila pembangunan mass rapid transport baru dilakukan sekarang dan itupun berjalan begitu lambat masyarakat luaslah yang menderita dan membayar social cost sangat mahal. Semestinya pembangunan itu dilakukan 5 atau 10 tahun silam dan hari ini sudah menjadi bagian terpadu dari system transportasi kita. Kenyataanya itulah yang terjadi, kemacetan semakin parah ditambah project mass rapid yang menyita waktu, bagian badan jalan serta lambannya project yang mestinya menjadi super project yang dikebut 24 jam sehari 7 hari seminggu.

Nasi menjadi bubur dan kendaraan telah menjadikan kita begitu lelah dan terbebani setiap harinya. Seolah tak pernah ada titik terang dan gambaran akan nyamannya berkendara di Jakarta ini maupun di kota-kota lainnya yang rata-rata menghadapi masalah baik prasarana jalan yang rusak parah maupun perimbangan jumlah kendaraan dan kapasitas jalan yang ada. Belum ditambah dengan perilaku pengguna jalan kita yang seenaknya sendiri maupun jarang yang mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

No comments: