Wednesday, January 24, 2007

Polusi

Kompas hari ini memberitakan buruknya kondisi udara/langit di atas Jakarta. Konon tiap kilometer jalan terdapat 2000 kendaraan bermotor. Disamping jumlahnya yang banyak umumnya kendaraan motor yang beroperasi di Jakarta belum ramah lingkungan. Rekor-pun dengan mudah diraih, yakni kota dengan polusi udara terkotor nomor tiga di dunia, di belakang Mexico dan Bangkok. Makin bertambah saja gelar kita, selain terkorup, kotanya juga ter-polusi.

Belum lama saya melakukan penerbangan dari Changi, Singapura menuju Jakarta. Nampak langit di atas Singapura terlihat cerah dan awannya terlihat jarang/wajar. Namun selang sekian menit ketika pesawat berada sekitar atas pulau Sumatera dan menuju Jakarta, langit nampak tebal dan awan bertumpuk-tumpuk. Sangat kontras bedanya langit di atas Singapura dan diatas Sumatera dan Jakarta. Entah gumpalan dan awan bertumpuk ini menandakan memang polusi di atas kita sudah sedemikian terkontaminasi, sementara udara Singapura lebih bersih, saya tidak tahu persis.

Entah sampai kapan kita harus belajar dan menyadari bahwa lingkungan hidup merupakan penopang kehidupan kita. Dianugerahi hutan yang luas habis ditebang. Ditambah pembakaran hutan yang asapnya sempat mengganggu masyarakat dan bahkan negara tetangga. Sungai banyak tercemar oleh sampah yang dibuang sembarangan. Kualitas air semakin menurun, sementara bisnis air minum semakin ramai dan harganya semakin mahal. Oksigen dan udara yang menaungi kitapun kita kotori dengan berbagai asap kendaraan dan pabrik.

Tentunya kita juga pernah mendengar istilah pemanasan global. Bayangkan bila hutan semakin gundul, langit semakin tipis kadar ozon-nya dan sinar matahari makin menyengat. Konon lagi es di kedua kutub bumi dapat saja mencair dan lautpun menjadi pasang. Singkatnya bahwa alam atau lingkungan hidup tidaklah berdiri sendiri. Kerusakan suatu lingkungan akan berdampak terhadap lingkungan yang lain.

Bahwa lingkungan hidup yang begitu luas pada hakekatnya adalah sumber hidup kita. Makanan, sandang dan tempat tinggal berasal dari alam dan lingkungan. Saat ini hampir tidak ada sesuatu yang gratis – there is even no further free lunch. Menyusul cerita lama bahwa hutan dikapling-kapling, sekarang bahkan lebih hebat lagi. Yang namanya pantai-pun sudah dikapling-kapling juga, tidak percaya coba datang ke Anyer atau Bali. Tadi kita sebut bisnis air minum ramai, ternyata sumber air di pegunungan-pun juga sudah dikapling-kapling.

Nampaknya hanya udara atau oksigen yang sulit untuk mengapling, makanya ya sudah dikotori sekalian. Toh saat ini kita belum kesulitan oksigen kan. Masa bodoh dengan hari esok dan dampak lingkungan karena udara terpolusi. Saat ini semuanya yang terpenting adalah barangkali memuaskan segala kenikmatan hidup. Itulah yang sedikit banyak tercermin dari kehidupan kita semua. Terbayangkah apa jadinya kehidupan kita tanpa oksigen? Bila lapisan ozon tadi menipis dan kandungan oksigen semakin berkurang sementara manusianya tambah banyak apa yang terjadi ? bakal sangat mengerikan.

Tidak ada salahnya pemerintah, lagi-lagi pemerintah dan masyarakat luas tentunya segera memberikan perhatian yang besar dengan pengelolaan lingkungan hidup kita utamanya air dan udara. Janganlah kita sudah tahu belaka dampaknya namun kurang peduli. Konon lingkungan hidup, tanah dan air ini merupakan titipan anak cucu, lantas kenapa kita bahkan cenderung merusaknya.

No comments: