Friday, January 19, 2007

SPBU

Bila kita kebetulan lewat tol Cikampek, Jagorawi atau Cileunyi maka tidak terlampau susah mendapatkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Unit usaha ini terintis sejak puluhan tahun lalu dan umumnya dikelola oleh Pertamina. Bisa dikatakan bahwa SPBU merupakan bentuk usaha yang nyaris tanpa resiko saat itu. Kenapa? Karena memang monopolis dan pasarnya semakin besar. Hampir semua kendaraan di tanah air menggantungkan operasionalnya kepada SPBU. Mustahil kan subuah perusahaan, entah itu konglomerasi atau perusahaan multinasional sekalipun membangun SPBU sendiri. Tetap semuanya dikelola oleh BUMN tersebut. Kalaupun join venture rasanya mesti melibatkan Pertamina.

Saking monopolis dan begitu dibutuhkannya SPBU ini berdampak pelayanan yang terkesan seenaknya. Mulai dari takaran liter yang tidak akurat, kondisi statsiun tidak nyaman maupun saat bensin habis tanpa sosialisasi. Praktis semua kendaraan hanya bisa menerima apapun layanan yang diberikan sang monopolis.

Sudah begitu ketersediaan SPBU belumlah merata di berbagai tempat. Di pulau jawa, sebagai sentral kegiatan ekonomi nasional nampaknya paling banyak SPBU di sepanjang jalan propinsinya. Menyusul di Sumetera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua tidak cukup banyaklah ketersediaan statisun pengisian bahan bakar ini. Bahkan bila kita harus bepergian entah itu di pulau Sumatera atau Kalimantan kita harus mengatur di SPBU mana mengisi bensin-nya, atau saat bensin habis kita tidak menemukan SPBU.

Masih segar dalam ingatan kita pada awal tahun 2006 terjadi kenaikan harga BBM yang membuat masyarakat terhenyak. Pemerintah menaikkan harga BBM setara dengan harga internasional sekaligus mencabut subsidi-nya. Lagi-lagi yang bisa dilakukan masyarakat hanyalah menerima dan pasrah. Hebohlah kehidupan social ekonomi masyarakat menyusul kenaikan BBM ratusan persen tersebut.

Berbagai analisis dilontarkan sehubungan kenaikan BBM ini. Ada yang bilang Pemerintah kesulitan anggaran dan terbebani subsidi BBM puluhan triliun, sehingga penghentian subsidi BBM tidak terhindarkan. Ada yang membandingkan bahwa seliter air mineral saja harganya sama atau lebih mahal dari seliter bensin, ini kan tidak lucu. Lontaran lainnya bahwa minyak merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui sehingga penggunaannya haruslah hemat dan ekonomis, menaikkan harga merupakan salah satu instrument mengatur pemakaian ekonomis.

Salah satu komentar datang dari Jogya, seorang ekonom UGM ~ Revrisond Baswir, yang menganalis bahwa liberalisasi harga minyak terkait dengan rencana masuknya investor minyak sector hilir. Konon bakal banyak investor masuk bila harga minyak sesuai harga global. Tidak lama, menyusul kenaikan BBM mulai bermunculan SPBU asing asal Belanda yakni Shell. Shell membangun beberapa SPBU di lokasi strategis. Berikutnya investor raksasa negeri jiran, Petronas juga masuk dan terjun dalam bisnis eceran BBM ini.

Entah ini dalam prediksi Pertamina atau kejutan, yang jelas segera terjadi perang saling berlomba membangun lebih banyak stasiun pengisian bahan bakar. Memang pemain asing tersebut hanya menjual minyak dengan oktan tinggi atau akrab disebut pertamax plus. Sementara Pertamina masih menguasai produk premium dan solar. Hal ini karena Pertamina unggul dalam distribusi dan logistic ketimbang pesaing yang harus membangun jalur distribusinya sendiri.

Puncaknya adalah ketika Pertamina segera membabat habis sepanjang jalur tol utama yakni Cikampek dengan membangun tidak kurang dari tujuh SPBU besar. Logis sekali mengingat debit kendaraan terbanyak adalah jalur tol ini. Singkatnya fenomena ini setidaknya memberikan masyarakat lebih banyak pilihan pengisian bahan bakar sekaligus peningkatan pelayanan SPBU oleh Pertamina.

No comments: