Wednesday, February 14, 2007

Kemana 20 tahun mendatang ?

Kemana dan bagaimana arah kita lima sampai dua puluh tahun mendatang. Kutipan di bawah saya coba ambil dari internet.Fraksi-PKS Online: Kondisi keuangan negara mengalami equity minus. Utang negara diperkirakan telah mencapai Rp 1.300 trilyun. Sementara aset kekayaan negara hanya Rp 851 trilyun. Sehingga terdapat equity minus lebih dari Rp 400 trilyun. APBN-Perubahan tahun 2007 harus diproyeksikan pada sektor-sektor penting yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat. Pengirim: Moses Caesar Assa Update: 03/07/2006 Oleh: Hartono

Konon beban cicilan hutang besarnya sekitar sepertiga sampai setengah dari APBN. Hmm luar biasa ternyata pengelolaan uang Negara ini. Secara awam saja bagaimana sebuah katakanlah rumah tangga dapat sehat dan mencapai taraf kemakmuran bila anggaran setiap bulan atau tahunnya dibebani cicilan hutang setengahnya. Apalagi ini sebuah pengelolaan uang Negara yang tentunya dampaknya menyangkurt langsung 200-an juta rakyat kita.

Pada kesempatan lain, di TV kabel yaitu Quick Channel ditayangkan sebuah acara Bincang Sugeng Saryadi dengan mengundang Ichsanuddin – mantan anggota DPR, Chatib Basri – dosen UI dan Cristianto Wibisono – mantan Direktur Pusat Data Bisnis Indonesia. Dalam bincang bincang tersebut dibahas bagaiman gambaran Indonesia lima sampai dua puluh tahun mendatang.

Tidak ada yang baru dalam perbincangan tersebut meskipun masing-masing dengan latar belakang keahliannya menjabarkan idealnya bagaimana kebijakan nasional menyongsong era dua decade mendatang.

Dalam perbincangan tersebut konon kita termasuk top 20 negara dunia dlam hal potensi ekonominya. Kalau hanya potensi ekonominya barangkali iya, namun bagaimana dengan sumber daya manusia dan pengelolaan sumber daya ekonomi tersebut. Bahkan kita mesti hati-hati di sini dan wajib menginventaris kembali berapa sesuangguhnya “SISA” asset dan sumber daya yang kita miliki, jangan-jangan sudah sangat tergerus jauh dan tinggal ampasnya.

Kembali kepada informasi di atas dimana hutang kita besarnya jauh di atas asset kekayaan Negara. Bukankah memang benar kita artinya bangkrut alias gulung tikar. Sebagai Negara ternyata kita telah gagal dan harus gulung tikar. Namun bagaimana kongkritnya kebangkrutan kita ini. Mestikah kita diakuisisi atau dimerger oleh katakanlah Negara pemberi hutang atau Bank Dunia.

Kembali kepada kebiasaan dan kultur kita menyusun APBN yang mana konon dirumuskan terlebih dulu pengeluarannya baru dipikirkan pemasukannya, lha kurangnya ngutang. Begitulah gambarannya kenapa hutang kita makin membesar dan bukannya makin mengecil, karena lebih memikirkan pengeluarannya.

Guna mengurangi hutang kita sederhananya ya jangan ngutang lagi dan segera kembalikan dan cicil hutang tadi. Kalau ngemplang dan pasang badan hmm bakal sangat serius dampaknya bagi kiprah Negara secara global di waktu mendatang. Lagi-lagi inilah penyakit mendasar kita, sudah tahu sejelas-jelasnya dampak hutang masih terus dilakukan. Polemik hutang Negara ini memang menjadi subject sekian lama dan panjang lebar argumennya oleh berbagai elemen bangsa namun tetap saja dilakukan. Capek dehh.

Kembali kepada perdebatan para pakar tadi bagaimana Negara ini dibawa dan diarahkan lima sampai dua puluh tahun ke depan. Memang cukup ramai dibahas termasuk seputar target kualitatif maupun kuantitif guna haluan membangun ke depan.

Whatever-lah, simpelnya adalah mulailah detik ini juga dengan disiplin anggaran dan kembali ke slogan nenek moyang kita, jangan besar pasak daripada tiang. Jangan selalu besar pengeluaran daripada pemasukan, dan bila pengin memperbesar pengeluaran maka pastikan dan perbesar dulu pemasukannya, nah mumet kan ! Sama dong.

No comments: