Monday, April 02, 2007

Dokter,,,



Hmm ,,, dokter adalah profesi yang unik. Bila kita tanya anak kita akan jadi apa kelak bila sudah besar maka jawabnya antara lain pengin jadi dokter, insiyur atau tentara. Jadi rupanya hampir setiap anak pengin dan berangan-angan jadi dokter. Salah satu sebabnya kurang lebih bahwa setiap anak tentu mengenal profesi ini ketika masa kecilnya entah sakit atau saat imunisasi. Sehingga tidak heran sosok dokter terbayang jelas di-angan setiap anak.

Keunikan dokter bisa lebih lanjut terlihat dari sekolahnya. Selepas sekolah menengah bagi mereka yang mendapat top rank nampak secara alami memasukkan fakultas kedokteran dalam pilihannya. Tidak heran bila fakultas kedokteran merupakan salah satu fakultas favourite. Padahal jelas dibutuhkan tidak hanya otak encer dan waktu yang lama namun juga biaya yang besar. Pun selalu berjubel jebolan sekolah menengah ngantri masuk fakultas ini. Saking favouritenya konon banyak yang bersedia membayar puluhan sampai ratusan juta guna mendapat satu kursi di fakultas ini.

Keunikan berikutnya adalah ilmunya itu sendiri. Berbeda dengan reparasi mobil atau televisi yang lebih pasti dan resiko kecil. Reparasi tubuh manusia oleh dokter sangat beresiko tinggi. Bila diagnosis mobil meleset paling hanya satu atau bebera parts perlu diganti, lha kalau diagnosis atas tubuh manusia meleset, tidak jarang nyawa menjadi taruhannya. Jadi obyek hidup merupakan obyek unik dari profesi ini.

Berikutnya adalah seputar etika dimana sebagai dokter sangat besar godaannya utamanya dalam membuat resep obat baik untuk pasien atau untuk apotik rumah sakit. Tidak jarang berdatangan perusahaan farmasi menawarkan berbagai bonus dan hadiah bila dokter bersedia meresepkan obatnya. Bila kurang berpegang pada etika maka doker bisa terjebak dan berdampak pasien menjadi korban.

Seorang dokter akan memiliki berbagai permasalahan yang tiadak putus-putusnya. Sebagai gambaran bila anak anda lahir di sebuah rumah sakit A, maka mulai dari umur 1 hari dan seterusnya dokter anak akan menjadi tumpuan. Bila anak anda pilek atau panas segera dokter anak yang akan anda minta bantuannya. Pernahkah terbayang seorang dokter anak dalam sesore sampai malam praktek harus menangani 10 sampai 50 anak. Belum jadwal operasi dan pasien yang parah dan seterusnya.

Saya memiliki pengalaman cukup mendalam berkaitan dengan dokter anak ini. Bayi saya pernah lahir dengan kelainan bawaan. Istilah kedokterannya disebut Omphalocele yakni semacam organ atau usus yang tidak sempurna masuk ke dalam perut bayi. Pada minggu 10 ukuran janin di rahim masih kecil dan beberapa organ dan usus berkembang di luar janin. Seiring membesarnya janin organ/usus ini perlahan tertarik dan masuk ke dalam perut janin dan menutup sempurna. Bayi saya karena sesuatu hal tidak selesai menutupnya dan ada organ tertinggal di luar. Nah organ ini harus perlahan dimasukkan ke dalam perut dan dijahit agar sempurna.

Singkatnya bayi saya terancam meninggal dunia bila tidak ditangani medis secara tepat. Untuk proses kelahiran saja terdapat sekian banyak dokter seperti dokter kandungan, dokter bedah, dokter anak, dan dokter anestesi. Setelah lahir harus ditangani satu tim dokter untuk perawatan selanjutnya samnpai dinyakatan sehat dan boleh pulang. Hampir satu bulan bayi saya harus tinggal di rumah sakit.

Salut buat dokter anak yang dengan tekun setiap menit dan jam merawat bayi saya. Napas mesin, infuse dan obat setiap hari dipantau mili demi mili. Ditingkatkan sedikit sedikit secara tepat agar bayi segera lepas masa kritis dan berangsur membaik.

Akhirnya satu bulan perawatan dan diperbolehkan pulang meski harus control tiap minggu, lalu dua minggu dan satu bulan. Dilanjutkan dengan imunisasi tiap bulannya. Saat ini bayi saya sudah sehat dan berumur delapan bulan. Setiap bayi saya pilek atau panas langsung telepon dokter anak tersebut dan segera disebutkan harus membeli obat apa. Rasanya dokter anak kita ini selalu siap 24 jam tentunya tidak hanya bagi bayi saya namun juga bagi ratusan bayi lainnya.

Ada beberapa hal yang patut direnungkan mengenai profesi dokter ini. Tidak disangkal mereka memang kaya raya dan mendapatkan begitu banyak uang dari pasien. Namun jarang yang memikirkan bagaimana kehidupan seorang dokter. Mereka harus sedia kala setiap detik dan menit demi pasiennya. Bila pasien sembuh dan sehat nampaknya kita berpikir ya sudah semestinya. Bila meleset kadang timbul tuduhan malpraktek dan seterusnya. Saya tidak hendak membela profesi dokter, namun perlu diingat mereka juga manusia yang bisa khilaf dan memiliki banyak kekurangan. Barangkali ini hanya sepotong kisah profesi dokter. Gambar di atas adalah bayi saya usai operasi dan dirawat di NICU sebuah rumah sakit di Bekasi.
Read More ..

Wednesday, March 28, 2007

And Justice For All,,,

Sebagaimana sudah diperkirakan sebelumnya bahwa semua kembali seperti biasa, - business as usual - usai berbagai bencana menghantam. Banjir besar tempo hari yang disebabkan oleh salah satunya berubahnya fungsi resapan air menjadi bangunan permanent tidak mengubah tindakan kita. Tetap saja pembangunan mall, pusat perbelanjaan, perumahaan dan berbagai bangunan fisik lainnya dilakukan secara gencar seolah kejadian kemarin kita sudah lupa tuh – mengutip iklan obat sakit kepala.

Saat ini dan beberapa waktu kemarin banyak pekerjaan proyek di kota besar, utamanya di Jakarta gencar dilakukan. Diantara proyek tersebut misalnya pembangunan fly over, underpass dan yang kemarin bekasnya masih adalah jalur busway dan jalur monorail. Biasanya proyek atau pembangunan public facility ini dianggap crashed program dan prioritas dikebut dan dikerjakan 24 jam sehari, seiring tujuan mulia sejak awalnya. Namun di kita nampaknya hanya angan belaka berharap proyek tadi dikebut siang malam. Satu underpass saja bisa memakan waktu dua tahun sementara proyek busway, meski sekarang sudah berjalan telah begitu melelahkan pengguna jalan karena menyempitnya lebar jalan dan makin macetnya kendaraan. Proyek monorail bahkan sekarang dibiarkan begitu saja dan tidak jelas kelanjutannya.

Pun pemerintahan kita dengan paket cabinet bersatu juga nampak berjalan seperti biasa dan nampak belum banyak hasil konkrit yang dinikmati rakyat. Masalah klasik seputar terbatasnya supply beras dan harganya yang melambung masih terus berulang.

Di sector good government macam KKN, korpusi kolusi dan nepotisme terasa makin jenuh kita mendengarnya namun belum ada kakap atau bawal, eh tersangka apalagi pelaku korupsi. Memang aneh ada asset yang dikorupsi tapi pelakunya tidak ada.

Apa yang kita kemukakan semuanya bukan hal baru dan faktanya terjadi di sekitar kita. Yang kita hendak selalu ingatkan adalah pola pikir dan mindset kita yang harus berani berubah saat ini juga. Janganlah kita selalu bersikap sok benar dan berpura-pura. Masih mending saat ini terdapat para cendekia, ulama, pemuka agama dan tokoh masyarakat yang selalu menyuarakan hal yang benar. Karena bila berbagai lapisan masyarakat yang peduli pada nasib bangsa ini ini menjadi lelah dan berhenti mengingatkan, kita tidak tahu lagi akan jadi seperti apa.

Kita tidak hendak menjadi khawatir berlebihan atau bersikap seolah besok akan kiamat. Kita tentunya menyadari belaka bahwa kehidupan bukan saat generasi kita sekarang namun ada kehidupan anak dan cucu kita semua. Ironisnya kiat semua mencari nafkah bahkan kadang dengan korupsi segala tujuannya tidak lain untuk kesejahteraan anak cucu kita. Pola pikir kita selama ini terlampau ego dan sangat salah. Kita mengumpulkan sebanyak mungkin harta dan kekayaan pada dasarnya untuk jaminan keluarga, anak cucu dan keturunan kita. Berbagai cara termasuk KKN kita lakukan demi orang yang kita sayangi. Kita lupa bahwa cara ini justru menghancurkan lingkungan dan masyarakat luas dan imbasnya akan menimpa anak cucu kita. Akibat KKN timbul biaya tinggi dan merugikan lebih banyak orang. Alih-alih keturunan kita hidup sejahtera ke depan justru untuk mencari pekerjaan saja susah. Bicara harta warisan akan tahan berapa lamakah dan sungguh tidak imbang dengan tujuan awal tadi – menjamin sejahtera keturunan kita. Saat ini pun sudah terjadi gambaran ruwetnya kehidupan bernegara kita beserta eksesnya. Lapangan kerja susah, pengangguran semakin banyak, sumber daya alam habis dan basik industri kita rapuh. Apa yang kita tuai adalah semata makin merosotnya kesejahteraan masyarakat luas dan makin susahnya mencari sekedar penghidupan.

Benang merah yang hendak kita angkat adalah kita harus berani berubah saat ini juga. Mindset dan attitude kita harus dikembalikan ke jalurnya. Selalu bertindak dan berjalan di atas rel kebenaran harus menjadi acuan kita. Rambu lainnya adalah batas hak kita dengan hak orang lain. Hak setiap orang harus dijunjung tinggi dan jangan terus menurutkan ego kita belaka. Kembalikan rakyat sebagai nakhoda biduk pembangunan ini dan ciptakan akses terhadap sumber daya yang ada secara fair. And justice for all,,,
Read More ..

Thursday, March 15, 2007

Nihon,,

Saya pernah mengalami 5 tahun kerja di perusahaan Jepang. Apa yang bisa kita dengar atau alami sehari-hari bahwa memang benar orang Jepang adalah pekerja keras. Mereka bisa bekerja dengan tekun dan focus dari pagi hari sampai larut malam. Bos saya bernama Kashiwakura adalah pria yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dalam setahun hanay beberap hari beliau pulang ke negerinya. Waktunya banyak digunakan bekerja di perusahaan. Bos saya ini termasuk senior di perusahaan dan menjadi tangan kanan President Direktur. Bos saya menggantikan pejabat sebelumnya – Yoneyama yang dipanggil ke kantor pusat di Tokyo. Hari-hari pertama dating ke kantor bos banyak belajar tentang situasi pekerjaan. Belum banyak teguran atau pertintah diarahkan ke kita-kita. Selang tiga bulan mulailah bos menunjukkan kelasnya.

Setiap pagi dan sore semua dikumpulkan untuk membahas pekerjaan. Kita belum boleh pulang kecuali urusan esok sudah benar-benar pasti. Karena perusahaan ini merupakan pabrik maka segala sesuatu bisa saja dijadwalkan dan kita harus memenuhi semua jadwalnya. Konsepnya sebenarnya tidak rumit-rumit amat. Sejauh kita sudah melakukan sesuatunya dengan benar maka kita tidak akan disalahkan. Namun bukan berarti kita bebas teguran atau amarah. Pernah ada seorang karyawan jatuh pingsan saking takutnya. Bisa jadi sang karyawan tadi memang ada kesalahan yang dibuat.

Pada dasarnya orang Jepang itu ramah dan cukup peduli dengan orang lain. Mereka juga memiliki etika yang bagus. Seberapa mendesak bos pengin bicara dengan kita namun melihat kita memegang telpon tetap akan ditunggu sabar sampai selesai. Tidak peduli kita telpon urusan kerja atau pribadi misalnya. Justru kita yang tidak enak kalau nelpon bukan tentang pekerjaan.

Mereka umumnya menjunjung tinggi konsep senioritas. Bagi manajer yang muda sungguh tunduk dan patuh terhadap manajer senior. Manajer senior juga takluk dan menurut apapun instruksi dari Presiden. Barangkali itu sudah budaya mereka.

Berikutnya adalah mereka tidak bakal berhenti memikirkan suatu masalah kecuali sudah ditemukan solusinya. Dalam hal ini kita bisa belajar bahwa mereka sungguh sistematis dan taktis sekali. Kadang kita, orang local sempat putus asa suatu ketika muncul masalah serius dalam produksi. Masuklah seorang manajer menengah Imai namanya dan berlatar belakang insinyur elektro. Perlahan masalah dibedah secara sistematis, dibuatkan alur dan diagramnya, disajikan beragam scenario beserta eksesnya. Akhirnya ditarik suatu kesimpulan kompromistis yang paling ideal.

Mungkin bukan berarti orang kita kalah dengan mereka. Barangkali hanya keuletan atau semangat yang membedakan dan membuat mereka menjadi tangguh.

Jadi sebutan workaholic atau gila kerja dan semacamnya sering benar belaka. Kita juga sering berpikir wah bila setiap menit dan waktu pikiran kita curahkan terus soal pekerjaan bakal cepet tua nih. Bila ekstrem mungkin iya, katakana dalam 24 jam isinya hanya kerja, kerja dan kerja, Istirahat dan tidur bila mata sudah tidak kuat bertahan dan seterusnya. Baiknya mereka memiliki kombinasi kegiatan yang barangkali seimbang dan proporsional. Bisa jadi mereka kerja mati-matian, namun usai kerja mereka sempatkan ke café untuk minum dan barangkali mencari hiburan lain. Bukan rahasia lagi kalau orang Jepang suka mencari hiburan semacam perempuan misalnya. Sehingga pengurasan energi dalam kerja bisa di reset dan fresh dengan hiburan tadi.

Konon lagi saat ini banyak generasi muda Jepang yang jenuh dengan pola kerja keras belaka. Banyak diantara mereka mencoba menikmati hidup dan bergaya hidup layaknya orang barat misalnya. Gaya hidup santai dan memanjakan diri bisa jadi dilakukan. Hebatnya kita belum mendengar katakanlah mereka mengalami krisis. Ekonomi mereka begitu bersinar dan tangguh. Rasanya banyak hal atau konsep bisa dipelajari dan diangkat agar kite tertular ketangguhan mereka.
Read More ..

Doa

Ada setitik rasa haru ketika baru saja saya telepon ke rumah dan anak saya menjelaskan besok jumat di sekolahnya diadakan itikaf bagi siswa kelas 3. Tentunya kita tahu belaka bahwa saat ini baik siswa kelas 6 atau sekolah menengah kelas 3 bersiap menghadapi ujian nasional (unas). Meskipun menjadi bahan perdebatan tahun lalu namun pemerintah memutuskan kebijakan unas ini. Tentunya hal ini sah-sah saja guna standarisasi dunia pendidikan kita. Di sisi lain bagi siswa atau sekolah pada umumnya dalam menghadapi suatu momen menentukan kecuali kerja keras maka permintaan bantuan kepada Yang Di Atas adalah jalan terbaik. Sehingga kenapa anak-anak kita yang bersiap menghadapi unas SMP mengadakan semacam doa bersama guna keberhasilan menghadapi unas.

Rasa haru juga pernah menyentuh manakala perusahaan kita beberapa kali mengadakan semacam doa bersama. Di saat persaingan dunia usaha begitu ketat maka lagi-lagi selain kerja keras, doa yang tulus wajib dilakukan guna mendapat bantuan dan perkenan-NYA.

Dalam kedua kejadian tersebut saya melihat suatu niat baik dan tanpa kepura-puraan, karena praktis tidak ada suatu maksud tersembunyi misalnya. Berbeda dengan berbagai acara dan agenda tobat nasional yang berulang kali disuarakan. Selain memang ada niat tulus dari kegiatan tobat nasional namun tidak urung menyimpan tujuan lain. Katakanlah tujuan politis atau semacam kepura-puraan sikap terhadap masyarakat luas. Buktinya meskipun berbagai tobat nasional diadakan namun tanpa dibarengi suatu sikap moral tulus, benar-benar tobat dan bertekad berbuat baik bagi sesame - nyatanya belum ada hasil konkritnya.

Sejauh ini kita belum tahu persis apakah berbagai doa yang dilakukan baik oleh sekelompok kecil atau berbagai lapisan masyarakat tersebut telah diterima dan mendapat perkenan-NYA. Bahwa doa tidaklah akan berarti tanpa dibarengi sikap dan perbuatan yang selaras dengan isi doa itu sendiri.

Berbagai kejadian maupun bencana yang menimpa kita barangkali bisa menjadikan doa sebagai upaya terakhir memohon perlindungan-NYA. Pun yang paling berat justru adalah lanjutan dari doa tadi yang tidak lain adalah berubahnya sikap dan perbuatan kita. Selama ini barangkali kita terlampau lalai dan katakanlah mendzalimi sesama. Selama ini kita terlampau rakus dan menempuh berbagai cara guna mencapai ambisi dan tujuan kita. Seolah hidup hanyalah saat ini dan kenikmatan haruslah direguk sebanyak yang kita bisa. Tidak heran bila kita menjadi semacam makhluk yang haus materi, haus kekuasaan dan haus segala nafsu kenikmatan dunia. Kita tidak cukup puas dengan apa yang sudah didapat dan selalu melakukan katakanlah penyimpangan di setiap kesempatan.

Ada semacam batas dan pagar yang bisa kita jadikan semacam control manakala ambisi dan kehausan kita menguasai, yakni kewajaran dan menghormati sesame. Konsep wajar, manusiawi dan memikirkan sesame adalah bentuk pengeremen dari laju ambisi tersebut. Kita kembalikan kepada kita masing-masing apakah kita sudah cukup memikirkan sesame. Sehingga jangan sampai doa selalu kita panjatkan namun sebaliknya perbuatan masih bertentangan dengan doa itu sendiri.
Read More ..

Wednesday, March 07, 2007

Demokrasi dan Perkapita



Profesor Budiono dalam pengukuhan guru besarnya di kampus UGM Yogyakarta menegaskan bahwa terdapat kaitan erat antara pendapatan perkapita/tingkat kemakmuran dengan jalannya demokrasi nasional.

Agar demokrasi berjalan lancar dalam jangka panjang dibutuhkan pendapatan perkapita yang diukur dari Purchasing Power Parity (P3) sebesar $6000. Saat ini perkapita kita baru berkisar $1300 atau setara dengan P3 sebesar $4000, karena asumsi harga barang dan jasa kita lebih murah ketimbang harga di negara ber-currency dollar. Untuk menuju angka $6000 dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% selama 9 tahun berturut-turut.



Masalahnya pertumbuhan ekonomi kita masih di bawah 7% ditambah angka pengangguran yang semakin tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa pencapaian perkapita yang mendukung berjalannya demokrasi jangka panjang, tidaklah mudah.

Barangkali kenapa kehidupan demokrasi kita masih belum lancar dan kadang tersendat. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof Budiono bahwa syaratnya harus dipenuhi terlebih dahulu yakni tingkat kemakmuran kita haruslah mencapai $6000 dan ini perlu pertumbuhan ekonomi tinggi serta konsisten.

Investasi bisa jadi kata kunci-nya. Sudah tercapaikah target penanaman modal atau investasi yang kita canangkan. Hal ini nampaknya belum tercapai, kenapa karena birokrasi dan kondisi dunia usaha kita kurang menjanjikan bagi investor.

Memang terdapat pasar cukup besar karena jumlah penduduk kita yang lebih dari 200 juta. Mungkin juga sumber tenaga kerja murah bisa ditawarkan di sini. Namun bagaimana dengan birokrasi yang dari dulu bak benang ruwet, juga kepastian hukum bila timbul dispute atau jaminan keamanan bagi investor dan asetnya. Belum lupa kerusuhan sosial tahun 1998 cukup membekas dan jelas diingat oleh dunia internasional.

Memang dunia politik kita tidak mudah dilepaskan terhadap dunia ekonomi nasional. Ada seorang executive di sebuah perusahaan internasional, katakanlah level General Manager. Hmm sebuah jabatan yang cukup tinggi dan jangan dikata paket kompensasi dan benefit yang diterima. Apa yang terjadi ternyata sang executive lebih memilih menjadi politisi ketimbang jajaran manajemen perusahaan bonafid tersebut.

Alasannya adalah sehebat apapun kiprah seorang ekonom dalam dunia usaha masih kalah superior ketimbang seorang politisi, demikian mindset yang dimilikinya.

Masalahnya lagi politisi kita seringnya berangkat dari ketidakmampuan secara ekonomi, berpetualang dalam politik guna meraih penghidupan yang labih baik. Berbeda dengan politisi di Negara maju, atau yang level demokrasinya tinggi, bahwa politisi adalah mereka yang awalnya sudah mapan secara ekonomi. Jadi konsepnya berpolitik bukanlah semata untuk nafkah dan mencari makan namun lebih misi dan tanggung jawab social guna perbaikan kehidupan rakyat banyak.

Tidak aneh dalam dunia per-politikan kita terdapat banyak sekali partai yang terdiri dari orang-orang tidak mapan ekonominya.

Akibatnya misi merekapun bias dan alih-alih memperjuangkan kesejahteraan rakyat luas bahkan sibuk dengan perutnya masing-masing.

Prof Budiono begitu jeli dan pengalaman puluhan tahunnya menetaskan sebuah konsep jitu bahwa jadikanlah masyarakat kita sejahtera hidupnya. Dengan hidup sejahtera maka demokrasi baru akan bisa berjalan secara alamiah. Demokrasi yang sebenarnya adalah modal menjalankan kiprah politik. Karena politik erat dengan kekuasaan dan kekuatan maka landasan demokrasi yang jujur akan menjamin politisi pada jalurnya.
Read More ..

Monday, March 05, 2007

Crisis On School

Sudah menginjak dua bulan saya menikmati siaran parabola dari Indovision. Sejauh ini cukup memuaskan untuk kualitas dan kinerja siaran. Namun kualitas dan materi acaranya masih so so, ada yang bagus namun cukup sering diulang-ulang. Masih dimaklumi karena siaran selama 24 jam nonstop tentunya tidak terlampau salah secara acak dilakukan repeat atas suatu program yang bagus. Sebut box office movies satu dua judul macam World Of War ataupun Descent misalnya, okelah diulang satu dua kali.


Saya justru pengin sharing sebuah acara dari Metro TV yakni Oprah Winfrey, meskipun ada di Indovision, tapi semalem disiarkan tayangan “tunda” tahun 2005, atau dua tahun lalu. Yang cukup menggelitik dan menyita adalah Oprah kali ini bercerita mengenai “buruknya” pendidikan di Amerika. Tahun sebelumnya selalu siswa dari negeri paman Sam menjadi langganan juara pada setiap contest internasional. Barangkali hal ini tidak terbantahkan bahwa siapa menyangkal di sana gudangnya sumua sumber daya yang dibutuhkan untuk melahirkan intelektual hebat. Namun beberapa tahun belakangan, versi Oprah untuk contest matematika internasional Amerika terpuruk di ranking 24 !! Luar biasa merosotnya.

Bersama dengan majalah top “Time” Oprah menggelar survey bagi ratusan atau ribuan siswa SMU. Hasilnya sangat mengejutkan bahwa setiap 9 detik terdapat satu siswa drop out. Kita tentu terhenyak dengan kondisi tersebut. Bila kejadian itu menimpa katakanlah Negara Afrika atau Asia, masih biasa dan tidak mengagetkan, but this attacks on such power country like USA, really amazing. Dalam survey lapangan sempat digambarkan profil siswa yang putus sekolah. Umumnya mereka putus karena berbagai alasan seperti pemikiran tidak butuh sekolah/ijazah, kebosanan/jenuh atau factor narkoba misalnya. Barangkali juga karena standard kemakmuran mereka tinggi maka anak drop out SMU –pun masih bisa bekerja dengan gaji cukup. Katakanlah dari mereka cerita kerja di toko saja dibayar $6 perjam, atau bila dikali 8 jam sudah $48 atau setara dengan 480 ribu, hmm masih luar biasa untuk ukuran kita.

Seorang kepala SMU dalam wawancara bahkan mengatakan dari sekitar 300 siswa SMU kelas tiga yang siap ujian bakal hanya lulus 200-an. Hmm berapa tingkat ketidaklulusan yakni sekitar 30%. Kalau ini terjadi di India atau Rwanda, masih make sense, but this occurs in USA man,,

Berikutnya juga digambarkan kondisi fisik satu dua SMU yang jaraknya dari Gedung Putih hanya beberapa mil. Apa yang digambarkan adalah cukup mengenaskan untuk Negara semaju Amerika, karena di dalam sekolah banyak WC mampet, kran mampet, tembok melepuh karena gas, plafon lapuk karena bocor dan sebagainya. Kondisi yang sama juga dialami sebuah sekolah SMU elit berlokasi beberapa mil dari Gedung DPR. Betapa dari luarnya sekolah tersebut keren dan konon paling favorit namun dalamnya sama, banyak ruangan jorok dan tembok-tembok mengelupas.

Oprah bagaimanapun cukup salut dengan tanggapan pemerintah karena begitu mendapati kondisi sekolah yang memprihatinkan pemerintah langsung mengalokasikan 1 billion dollar untuk merenovasinya. Berapa dalam rupiah kira-kira yaa, sekitar 9 triliun, luar biasa untuk kita namun mungkin biasa saja bagi mereka.

Benang merah yang bisa kita diskusikan barangkali adalah bahwa kemajuan sebuah Negara yang sebenarnya bisa merupakan katakan lompatan deret ukur, yaitu pencapaian saat ini yang sudah maju bisa mengantarkan lompatan jauh ke depan ketimbang pencapaian yang biasa, kadang tidak sepenuhnya berlaku. Artinya tetap ada peluang mengejar ketinggalan. Sehingga hal ini dapat menambah semangat kita misalnya untuk berkinerja lebih baik lagi. Ini jelas satu peluang bagi kita, bila kita menyadari. Namun kontra produktifnya sering kita terbelit dengan permasalahan internal tiada habisnya. Seputar anggaran yang terbatas, kondisi fisik sekolah yang rusak dan klasiknya masalah kurikulum serta content materi SMU kita yang terlampau luas dan menyebar.

Terlepas dari semuanya nampaknya semangat (SPIRIT) baru patut terus kita cetus dan letupkan menuju “our sustainable attainment”. Selamat bekerja !
Read More ..

Wednesday, February 28, 2007

Kho Ping Hoo


Asmaraman S Kho Ping Hoo merupakan penulis produktif pada jamannya. Puluhan judul sudah ditulisnya dan umumnya beredar luas di pasaran. Buku karangannya biasanya bersumber dari Sejarah dan dikembangkan dengan cerita Silat dan Filsafat. Banyak petuah dan nasihat kehidupan di sana dan diselipkan dalam cerita silatnya.

Bagi orang Solo dan sekitarnya umumnya tahu belaka buku-buku silat karangan Kho Ping Hoo.

Cerita yang ditampilkan bersumber dari Sejarah China dan dikembangkan dengan imajinasinya berupa cerita silat. Misalnya dua seri yang terkenal adalah Serial Bu Kek Siansu atau Suling Emas dan Serial Pedang Kayu Harum. Tidak terhitung juga cerita lepas dan juga cerita yang bersumber dari Sejarah Nasional.

Saya pernah bertatap muka langsung dengan almarhum di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Ketika itu diadakan suatu pameran dan beliau diundang ke kampus. Dalam kesempatan tersebut dilakukan Tanya jawab seputar hasil karyanya. Waktu itu sekitar tahun 1991 (maaf kalau lupa) dan saya sempat memberikan sebuah pertanyaan seputar penulisan bukunya.



Beliau menjelaskan bahwa semua cerita adalah hasil improvisasi yang mengalir deras dari imajinasinya. Jadi dari sumber sejarah entah China atau nasional, beliau mengembangkan dengan nalarnya sendiri. Sebagaimana penulis lainnya bahwa inspirasi menulis kadang dating kadang juga buntu. Nah ketika datang meski tengah malam sekalipun beliau langsung bangun dan mengetik.

Kalau kita baca bukunya terdapat banyak pesan dan nasihat diantaranya bahwa hidup adalah ibarat kegiatan menanam. Siapa menanam baik bakal menuai bahagia sementara yang menanam kejahatan bakal berakhir sengsara. Beliau juga menegaskan pemahaman mengenai Cinta, Benci, Dendam, Setia, Khianat dan banyak sifat lainnya. Ego seseorang juga banyak digambarkan dan diilustrasikan dalam bukunya.

Hal yang dijunjung tinggi dalam banyak bukunya adalah mengenai sifat ksatria.

Dijelaskan bahwa sekali kita mengucapkan janji/kata maka harus ditepati dengan taruhan nyawa sekalipun.

Beliau lahir tahun 1926 dan meninggal tahun 1994 atau pada usia 68 tahun. Setahu saya beliau tinggal di lereng gunung lawu, dan kebetulan bertetangga dengan saya karena saya lahir dan tinggal di kabupaten yang sama.

Saya tidak tahu persis apakah buku karya beliau didokumentasikan di perpustakaan nasional atau tidak. Namun kalau boleh mengajukan saran baiknya didokumentasikan karena bernila sejarah dan filsahat kehidupan yang tinggi.



Meskipun terdapat banyak penulis besar lainnya Kho Ping Hoo bagaimanapun memiliki cirri khas dan warna tersendiri dalam khasanah penulisan buku. Sebagai orang timur beliau cukup sopan dan terjaga dalam setiap penulisan bukunya. Kita pantas dan wajib menghargai karya-karya besar beliau. Selamat jalan Bapak Kho Ping Hoo, namamu dikenang abadi oleh pecinta karyamu.
Read More ..

Hobi dan Mobil


Bicara hobi tentunya bakal tiada batasnya. Dari sekian banyak orang akan memiliki hobi yang berbeda dan beragam. Saya tidak hendak membahas hobi orang lain, wong hobi-hobi mereka, jadi lebih afdol membahas hobi sendiri-lah. Satat masih SD saya sangat terobsesi akan sosok kendaraan bus. Kelihatnnya gagah dan besar. Bila pulang sekolah saya sempatkan nongkrong di pinggir jalan mengamati bus yang lewat. Tidak jarang sama teman lainnya tebak-tebakan bus apa datang dari arah mana jam berapa.


Bahkan sempat tercetus pengin menjadi sopir bus, he he namanya juga anak-anak kan.

Ketika menginjak sekolah menengah dan terus sampai kuliah minat terhadap kendaraan meluas dan tidak hanya pada bus namun pada mobil umumnya. Dulu kala di sekitar rumah yang memiliki mobil tidaklah banyak. Tahun-tahun itu mobil yang ada di sekitar kita adalah Citreon, Peugeot, Datsun, Daihatsu, Suzuki, Toyota, Fiat maupun Mercy. Tetangga yang punya mobil datsun pick up punya bisnis penyewaan sound system dan kita – anak-anak sering diajak, wuih senangnya bisa naik mobil. Selain Datsun ada juga Chevrolet pick up yang bentuknya mirip, dan kita juga sering naik kendaraan ini, nebeng tentunya.



Saat kuliah kebetulan kita akarab debngan salah satu dosen yang memiliki mobil Daihatsu Hijet, nah pulangnya sering bareng. Saat itu hebat nian nih bisa naik minibus ini. Saat kuliah kita akarab dengan tetangga yang memiliki banyak mobil yakni Chevrolet tadi, Panther, Corolla dan sekian truk. Nah kita sering kebagian naik bila yang empunya mengajak. Kebetulan saya sangat akarab dengan keluarga tersebut dan dianggap keluarga sendiri.

Menginjak bekerja di perusahaan farmasi, kendaraan yang dikendarai , tentunya milik perusahaan adalah kijang dan katana. Kita sering jalan keluar kota seperti Magelang, Purworejo dan Cilacap. Kantor kita ada di Semarang. Wah tahun segitu naik katana dari Semarang ke Cilacap terasa gagah dan keren.

Akhirnya tahun 1992 saya menginjakkan kaki di Jakarta. Nah disinilah gudang dan pusat berbagai kendaraan. Mulai dari yang biasa sampai yang super mewah.

Beragam kendaraan pernah kita turut mengendarai, dari Minibus sampai sedan Mercy mewah. Tahun 1996, untuk pertama kali saya membeli mobil dengan cara kredit. Mobilnya adalah Suzuki Forsa buatan 1989. Mobil ini irit dan bandel. Record-nya adalah empat kali dibawa pulang ke Solo. Hanya setahun megang Forsa dan ganti dengan Starlet 1987. Mobil ini jauh lebih enak dan bandel dari Forsa. Hampir sama recordnya adalh ke Solo 4 kali. Dengan Starlet 1987 bermesin 1000 cc dan modifikasi CDI saya pernah “memecahkan” record 9 jam untuk jarak Jakarta – Solo.

Umumnya saya hanya mengendarai mobil setahun atau paling lama dua tahun. Bahkan ada sebuah mobil yang hanya enam bulan saya pakai dan kemudian ganti lainnya. Sampai saat ini saya sudah 15 kali gonta ganti mobil dimana hanya 1 kali megang Suzuki dan sisanya adalah Toyota. Saya kebetulan pemuja merk berlogo tiga elips ini. Toyota terkenal reliable, handal, tangguh, namun tetap ekonomis.

Ada kejadian cukup unik, ketika saya mudik sekeluarga mengendari Kijang Grand tahun 1992. Saat malam mengatur muatan dan memundurkan mobil terdengar suara ngik ngik. Saya piker hanya karena beban yang berat atau bushing karetnya. Tengah malam kita cabut dan lewat jalur selatan. Sampai Tasikmalaya wah suara ngik-nya makin kencang. Saya sempatkan ngintip ke kolong dan tidak mendapatkan hal aneh. Perjalanan lanjut terus dan di Yogya, kembali saya cek dan lihat ke kolong. Ternyata dudukan shockbreaker depan patah dan shocknya melesak ke bawah. Ternyata dari sini asalnya bunyi dan saya sadar selama ini batang torsi depanlah yang kerja keras menahan beban. Bayangkan mobil dengan muatan penuh penumpang dan barang bisa selamat sampai Solo. Baru paginya saya bawa ke Auto 2000 dan ganti shock depan sebesar 300 ribu dan beres.

Itulah handalnya Toyota.

Saya suka gonta ganti mobil dan kesemuanya mobil tua dan tidak ada yang baru. Mobil terbaru yang pernah saya miliki adalah tahun 1995 sementara yang tertua adalah Hartop 1977 dan Corolla 1978. Bahkan dengan Corolla 1978 saya setiap hari menempuh rute Bekasi – Jakarta selama 1 tahun dan tidak sekalipun mengalami masalah, apalagi mogok. Hebatnya mobil ini pernah menerjang banjir lebih dari setengah ban dan aman lewat. Ilustrasi adalah Toyota Land Cruiser terbaru !!
Read More ..

Friday, February 23, 2007

Sembrono

Pagi ini kebetulan datang pagi dan kita sempatkan mengetik kejadian apa hari ini. Yang jelas kondisi jalanan sekarang makin ramai dan jumlah kendaraan makin banyak. Sebagai gambaran bila dua tahun lalu bila kita berangkat pagi sekali sehabis Subuh maka jarak 32 kilometer dapat ditempuh dalam waktu 40 menit. Kenapa sangat cepat, karena jalanan masih lengang dan lancar. Bukan karena jumlah kendaraan masih sedikit namun jarang sekali orang kerja rela berangkat pagi. Mending berangkat jam 7 atau 8 pagi meski tahu belaka itu adalah jam tersibuk dan termacet orang berangkat kerja. Pagi ini waktu tempuh melorot menjadi 60 menit, hmm waktu dua tahun kita menjadi makin lambat 20 menit untuk jarak yang sama.

Di lampu merah membeli koran pos kota dimana penjaja koran dan minuman sepagi apapun kita di jalan mereka sudah di perempatan, hmm dimana tidurnya ya. Salah satu headlines adalah masih seputar beruntunnya bencana tanah air. Kali ini sebuah truk terbakar ketika berada di atas kapal. Akibatnya kapalpun ikut terbakar dan ada 16 meninggal dan 40 hilang. Sungguh suatu peristiwa yang mestinya tidak seharusnya terjadi. Kenapa sebuah kendaraan truk bisa terbakar, jelas ini bukan karena desain truknya atau apa, namun lebih karena kelalaian manusia.

Sembrono itulah yang acap kali menjadikan kita geleng kepala. Sering di jalan tol kemacetan luar biasa parah dan bermenit atau berjam-jam kendaraan merayap, dan sejauh yang saya alami kadang masalah sepele, truk mogok di tengah jalan. Bayangkan, hanya karena factor kelalaian manusia yang tidak merawat truknya dengan baik, lantas mogok, dan dampaknya harus dipikul ratusan orang lain.

Coba susuri jalanan di tengah kota Jakarta, betapa banyak gerobak penjual makanan, lapak-lapak yang menyita badan jalan dan berbagai “aktifitas bisnis” kaki lima. Semuanya akan terpaksa membuat orang lain repot. Pejalan kaki harus turun ke jalan dan berbahaya terserempet kendaraan, antrian macet kendaraan makin parah dan semrawut. Kesembronoan pedagang kaki lima dan juga tentunya oknum pemda adalah factor utama penyebabnya.

Jadi nampaknya sifat sembrono dan lalai sangat berpotensi – atau sudah menjadi budaya dan kultur kita. Mulanya adalah lingkungan kehidupan kota yang makin keras, banyaknya pengangguran, semrawutnya pengelolaan tata ruang beserta kegiatannya, makin egoisnya setiap orang, watak menjadi apatis dan semau gue yang ujungnya perilaku menjadi cuek, asal gue duluan yang sekaligus pada akhirnya tercermin pada perilaku sembrono tadi.

Jadi asalnya ini bukan sifat dominan kita namun lebih karena lingungan dan kondisi sekitar kita sehari-hari. Masalahnya lagi perilaku ini nampaknya bakal tidak mudah berkurang atau hilang manakala tatanan kehidupan kita masih seperti sekarang.

Hal yang akan erat kaitannya dengan perilaku sembrono dan cuek adalah biaya social yang akan semakin tinggi. Kembali pada contoh perilaku kendaraan truk, trailer dan kendaraan berat lainnya yang tidak diatur jam edarnya mengakibatkan entah pagi, siang atau malam memacetkan jalan tol karena lajunya yang lamban, ukurannya yang besar memenuhi jalan. Berapa biaya social yang harus kita tanggung atas waktu, tingkat stress dan tenaga karena kemacetan. Tidak terelakan adalah timbulnya biaya ekonomi sekaligus. Coba berapa ratus liter bensin dibakar percuma setiap jam karena antrian tadi, dan berapa tinggi dampak emosional pengendara.

Kembalikanlah semuanya pada jalurnya, just put it back on the track. Kembalikan jalanku, kembalikan trotoarku, tamanku, ruang hijauku dan juga kenyamanan hidupku, demikian teriakan kesal kita. Bisa kita mulai dari diri sendiri dan tentunya himbauan pada pemegang kuasa dan wewenang atas kota ini, atas jalan ini atau atas tanah ini. Masih adakah sedikit asa dan peduli??
Read More ..

Tuesday, February 20, 2007

Hari-hari Ini

Hari-hari ini kita masih diliputi dengan berbagai peristiwa yang memprihatinkan. Usai bencana satu disusul bencana lain dan terjadi di daerah lain pula. Belum kering air mata karena bencana banjir, disusul melambungnya harga sembako, bencana angin putting beliung datang dan memporak-porandakan Yogya dan sekitarnya. Angin beliung juga merembet ke daerah Jakarta Selatan dan menyapu bangunan yang ada.Yogya yang masih belum pulih karena bencana gempa beberapa waktu lalu kembali dilanda bencana lainnya. Jakarta juga silih berganti dilanda bencana. Entah sebagai akibat langsung atau tidak langsung masyarakat harus menanggung harga sembako yang meroket tajam. Harga beras yang merupakan makanan pokok kita menyentuh harga tertinggi 8000 ribuan per kilo. Apakah harga akan terus melambung tergantung situaai pasar dan supply demand-nya. Ada yang mengatakan harga beras masih akan terus fluktuasi sampai tiba panen raya satu atau dua bulan mendatang.

Dari issue global kita baca bahwa Airbus berencana merumahkan sekitar 12 ribu dari sekitar total 50 ribu karyawannya. Perusahaan kolaborasi German – Prancis tersebut tidak kuat menangung biaya operasional yang terus naik sementara sisi pendapatan cenderung turun. Kita tahu belaka bahwa tidak banyak perusahaan penerbangan di dunia ini. Konon pemain utamanya ya seputar Boeing dari Amerika dan Airbus dari Eropa. Kita belum mendengar apakah Boeing juga terkena dampak dari lesunya industri global

Dari sector otomotif giliran Daimler Chrysler yang megap-megap. Perusahaan otomotif terbesar ketiga dunia tersebut bersiap merumahkan sekitar 13 ribu dari total 85 ribu karyawannya. Kabarnya Chrysler tidak kuat menghadapi serbuan otomotif Jepang yang makin merajai di pasar Amerika. Konon lagi, General Motor, perusahaan otomotif terbesar dunia berniat mengakuisi Chrysler.

Dari berbagai berita dan fakta baik nasional maupun global tersebut terungkap bahwa sedang terjadi suatu siklus menurun. Bahwa kita semua sepakat terdapat siklus naik dan turun yang merupakan sesuatu yang alamiah dan mengacu pada hukum alam. Apakah alam dan dunia kita memang sudah tua, rasanya benar belaka.

Bertubinya bencana nasional - kita tidak hendak membahasnya saat ini. Barangkali lebih bijak kita masing-masing merenung dan instrospeksi guna perbaikan di masa mendatang.

Kemerosotan kapasitas industri global bagaimanapun pantas dicermati. Apakah ini merupakan dampak dari makin menguatnya industrialisasi kubu China, konsistensinya kubu Jepang serta makin merosotnya potensi kubu Eropa dan Amerika. Kita belum tahu persis hal ini dan terdapat banyak parameter di dalamnya. Terlampau komplek memikirkan sebaran berbagai industri pada skala global.

Hari-hari ini kembali kita dituntut untuk makin bijak dan arif. Bahwa kita, manusia sebagai khalifah beserta kenikmatan duniawi yang dianugerahkan kepada kita harus coba di-definisikan ulang. Sebagai insani atau makhluk paling berkuasa di muka bumi ini kita wajib kembali menata mindset. Kadang kita dianugerahkan kekuatan dan kekuasaan yang besar. Perlu diingat bahwa ini hanya sementara dan tiba saatnya terenggut dari tangan kita. Itulah berbagai bentuk teguran maupun kasih sayang dari Sang Pencipta atas barangkali arogansi kita semua.

Hari-hari ini begitu banyak pelajaran dan gambaran nyata yang ditunjukkan Sang Penguasa kepada kita semua. Hendaklah kita menyadari bahwa betapa hebatnya kiprah kita namun tetap ada batasnya. Terdapat banyak hal yang jauh dan diluar jangkauan umat manusia. Kepada-NYA lah mestinya kita tunduk dan patuh dalam segala tindak-tanduk. Otak dan akal pikiran yang kita banggakan pada dasarnya terlampau sedikit dibandingkan Ke-ESA-an-NYA. Tidaklah dianugerahkan kepada umat manusia kecuali hanya sedikit akal dan pikiran, demikian salah satu agama mengajarkan.
Read More ..